Antologi Puisi Inda Dasni

Oleh: Inda Dasni, Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng

328
Antologi Puisi Inda Dasni
Inda Dasni, Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng

 

Izinkan Aku Melupakanmu

Tidak semudah yang kubayangkan.
Kukira setelah kepergianmu aku akan baik-baik saja.
Kucoba untuk melupakan, tetap saja tidak bisa.
Mengingat tentangmu hal paling sulit di dalam diriku.

Terkadang aku menyesal pertemuan yang akhirnya berpisah.
Dulu aku sangat nyaman sandar di pundakmu.
Dulu aku suka memamerkan fotomu
Kini telah usang, menatap wajahmu akupun tak Sudi.

Kepergianmu seakan aku terjerumus ke dalam jurang.
Sangat sulit untuk pulih.
Entahlah,,semua yang indah telah musnah.
Izinkan aku melupa dan menyelesaikan rasa.
Sungguh aku tak akan mengulang rasa yang pernah gigih kau patahkan.

Penunggu Sunrise

Menunggu nampaknya mentari pagi
Dari kedalaman lautan
Sungguh indah dipandang
Warna merah kadang jingga
Memenuhi pantai
Hempasan angin yang lembut
Kududuk memandang jauh dari ujung laut
Aku duduk menatap indahnya langit
Sungguh indah ciptaan-Mu
Menerangi angkasa ini
Setiap hari engkau memberikan harapan baru
Semua orang menunggu kehadiranmu
Semoga hadirmu tidak mengecewakan
Terima kasih engkau telah menerangi bumi

Dari Mantan untuk Mantan

Hei, kamu apa kabar?
serpihan kecil di masa lalu
Kamu yang dulu pernah singgah
Hanya meninggalkan jejak

Hanya mengingat bahwa kita pernah bersama.
Pernah jalinan kasih yang pernah ada
Hanya potret dan bayang-bayangmu
Yang ku jadikan pengobat rindu
Yah,!
Di sini Aku hanya mampu berharap.
Dengan harap yang tak terluka akan rasa sesal.
Semoga Tuhan tetap berikan yang lebih baik.
Untuk sekedar menemani hati yang sama-sama gundah.
Semua memori tentang kita akan ku kenang selamanya.
Ku jadikan album di kehidupan baruku
Yang akan berganti dengan untaian yang baru.
Walau akan sedikit berbeda tapi inilah kenyataannya.

Desa

Aku menyukai setiap lengkupannya.
Kesejukan yang diberinya sungguh terasa nyaman
Nyanyian burung di setiap pepohonan bernaluri di relung hati.

Aku tak pandai dalam memilih ketenangan
Sehingga aku harus berhadapan dengan berbagai tanggapan.
Aku tak pernah meminta lebih
Hanya cukupkanlah desaku seperti sekarang ini.
Terhindar dari berbagai polusi dan kebisingan.

Angin bersiul dari alam desaku
Membuat betah dengan suasana desa Sapaan kehangatan yang menghiasi tiap pagiku..
Kopi hitam jadi andalan dalam sudut desaku

Jika ditanya mengapa beralih ke kota?
Di sini di kota ini tempat aku mencari sesuatu yang baru,
Mencari sesuatu yang sama sekali tidak kutemukan di desaku.
Tempat aku memulai menyandungkan aksara untuk desaku.** 

BACA JUGA :  Puisi-Puisi Kata Tanpa Jeda
kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.