Antologi Puisi Tony Gatul

Oleh Tony Gatul**)

224
Antologi Puisi Tony Gatul
Tony Gatul Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng. (Foto: Tony Gatul)

 

Bintang yang Gelisah

 

Di tengah dinginnya malam.

Aku terpaku menatap langit,

Sejenak kumelihat bintang sendirian memancar,

Yang terpisah dari kawanannya.

Sinarannya menatapku dengan penuh arti.

Memandang  dengan penuh makna,

Akankah dia menceritakan apa yang diarasakan?

Kenapa dia terpisah dari kawanannya?

Dalam hening aku merenungi.

Aku merasa hidupku seperti bintang itu.

Yang selalu menghabiskan waktu dengan diam.

Kebahagiaan yang selalu diharapkan, kini sirna.

Sekarang tinggal luka besar yang di dada.

 Malamku menutup mata,dan merasakan gelapnya dunia.

Hidupku hampa terasa

Waktu selalu menghianati disetiap hari-hariku.

Aku pasrah dan percaya kepada yang berkuasa..

Tentang hidupku yang penuh dengan pilu.

Semoga Dia melihat duri yang selalu menghampiri hidupku.

Senja Berkisah

 

Setiap pancarannya yang indah

Terlukis arti dibalik sinar cerah

menceritakan semua pengalamannya

setelah mengelabui seluruh dunia

Terharu melihat dunia berduka

Menangis melihat manusia tak berdaya

Dia muncul di pagi hari dengan semangat

dan pulang di sore hari dengan perasaan sedih,

berharap akan berubah di hari esok

tapi semuanya sama seperti kemarin,

AkankahTuhan melepaskan semuanya?

Ataukah ini ulah manusia sendiri?

Sekarang kita setia dalam,

Mengikuti apa yang harus diikuti.

Berharap semuanya akan kembali normal

Hujan

 

Hujan,

Engkau mengubah warna bumiku,

Dari terang menjadi gelap.

Dan di antara gelapnya bumiku,

Engkau menyirami kami dengan air yang begitu dasyat.

Engkau sangat kejam,

Membasahi semua isi bumiku.

Engkau mengajak angin dan petir untuk menyerang kami.

Sehingga kami terkurung dalam sarang.

Dibalik itu, tersimpan rahasia baikmu,

Yang tak sedikit pun kami ketahui.

Engkau memberi kehidupan kepada yang hidup di bumiku.

Engkau menafkahi tanamanku,

Dan memandikan bumi ku dari panasnya matahari.

BACA JUGA :  Cerpen: Menangis Dalam Hujan, Menangis Dalam Asap

Luka Ku

 

Kudiam terpaku membisu

Menahan getarnya jiwa

Terasa tubuh diguncang peluru

Menahan luka yang melanda

Fajar membakar kulitku

Tertusuk duri hingga pedih peri

Ku menangis meratap alam

Luka dan bisu kini kunikmati.***

**) Penulis adalah Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng.

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.