Apa Khabar Car Free Day

Oleh : Alvares Keupung *

114
Menata Pariwisata Yang Partisipatif dan Holistik
Penulis Alvares Keupung. Foto istimewa

 

BEBERAPA tahun yang lalu, di Jalan El Tari bawah Kota Maumere, pada setiap hari Sabtu “disakralkan” sebagai hari tanpa lalu lintas kendaraan bermotor ( Car Free Day ) pada pukul 06.00 – 10.00 WITA. Di kawasan ini dimanfaatkan sebagai kawasan olahraga Sabtuan. Sempat vacum di awal masa Pandemi COVID 19 dan dihidupkan kembali oleh Lembaga Pendidikan Tinggi UNIPA Indonesia – Maumere, lalu kembali vakum hingga saat ini. Pertanyaan yang penting, Quo Vadis Car Free Day : Apa Khabarmu ?

Hidup sehat itu mahal. Tubuh ( fisik ) dan jiwa ( psikis ) manusia harus sehat demi eksistensinya. Jika manusia tidak sehat, konsekuensinya adalah manusia tidak berenergi dan tidak produktif. Barangkali, hidup bisa menjadi singkat. Tubuh, secara biologis butuh nutrisi untuk pertumbuhan tubuhnya. Tetapi, tubuh
mesti juga dirangsang dengan aktivitas fisik melalui kerja otot dan olahraga, agar menjadi sehat dan kuat. Pada hal yang lain, jiwa ( psikis ) juga harus dirangsang melalui aktivitas olaraga, agar jiwa menjadi sehat, segar dan damai. Maka, olahraga bagi tubuh dan jiwa itu penting, demi hidup yang sehat.

Hadirnya Car Free Day di Kota Maumere kala itu, untuk menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan hidup sehat melalui olahraga. Partisipasi masyarakat Kabupaten Sikka ( terutama sebagian masyarakat Kota Maumere ) dalam Car Free Day, semacam menjadi sebuah kesadaran bersama bahwa melalui olahraga, sekurang – kurangnya menjadi pelecut untuk hidup sehat. Dan logika sederhananya, mau sehat, ya berolahraga. Sesederhana apa pun olahraganya ( berjalan, berlari, bersepeda, senam ) di kawasan Car Free Day, menjadi pilihan yang baik untuk merangsang tubuh dan jiwa yang sehat demi menciptakan masyarakat yang produktif, bertumbuh, berkembang sehat tubuh dan jiwanya.

BACA JUGA :  Hidupkan Majalah Dinding Di Sekolah

Dalam konteks yang berdampak pada pembangunan, Car Free Day menjadi sangat penting. Sebuah upaya pembangunan, tidak hanya membutuhkan manusia – manusia yang cerdas akal budinya, tetapi juga membutuhkan manusia yang sehat tubuh dan jiwanya. Berolahraga adalah jaminannya. Berolahraga yang berdampak pada kekuatan tubuh yang sehat, menjadi jaminan lahirnya generasi pembangun yang produktif secara fisik. Di samping itu, Car Free Day sebagai wadah untuk berolahraga, dapat membentuk jiwa ( psikis ) yang sehat dan terproyeksi melalui : pengolahan kehidupan spiritual yang baik, kematangan cara berpikir dan melatih kematangan emosional. Karakter psikis yang demikian akan melahirkan manusia – manusia yang bijaksana dalam keperansertaan pembangunan.

Pada prinsip yang lain, Car Free Day dapat menciptakan terbangunnya interaksi sosial melalui perjumpaan – perjumpaan tanpa sengaja, serentak juga melahirkan perkawanan baru dengan orang – orang baru. Sampai pada titik ini, yang subtansial dari Car Free Day bukan sekedar melahirkan aktivitas terbangun dan terbentuknya olah fisik dan olah psikis. Car Free Day juga membuka ruang interaksi sosial, membuka ruang diskusi ( informal ) untuk melihat bagaimana derap perkembangan Kota Maumere ( khususnya ) dan Kabupaten Sikka ( umumnya ) demi kemaslahatan hidup bersama. Sebab, dalam konteks tertentu, diskusi ( informal ) dapat juga menciptakan pikiran – pikiran yang berdaya guna untuk pertumbuhan dan perkembangan hidup bersama yang lebih baik.

Kita coba melihat lebih jauh, tanpa menegasikan dampak dari aktivitas lain, Car Free Day dapat juga berdampak pada penguatan ekonomi bagi pelaku ekonomi. Misalkan, para pelaku UMKM ( penjual minuman dingin : es buah, jus ), para peramu ramuan dan obat tradisional ( yang memberi kebugaran tubuh ), para pedagang atribut olahraga, bisa dipastikan dapat memperoleh laba penjualan dalam aktivitas Car Free Day. Sangat boleh jadi, ini dapat mendongkrak pendapatan ekonomi rakyat yang memanfaatkan momentum Car Free Day dengan aktivitas ekonominya.

BACA JUGA :  Golgota Dan "Move On" Kekuasaan

Dampak lain Car Free Day, mempererat soliditas, solidaritas dan toleransi. Di dalam Car Free Day, semua berbaur menjadi satu tanpa sekat perbedaan. Unsur saya, kamu, dia, mereka “dieliminir” menjadi kekitaan yang sangat kuat. Kekitaan inilah menjadi modal dasar kekuatan persatuan, persaudaraan dan kebersamaan sebagai civil sociaty dan masyarakat komunal. Nah, dalam pemahaman seperti ini, hal – hal destruktif yang merusak bangunan persaudaraan setidaknya dapat ditangkal melalui kegiatan positif ini : Car Free Day.

Barangkali ada keberatan, bahwa Car Free Day tidak menjadi satu – satunya untuk memperkuat alasan – alasan di atas, demi melegitimasi kehadirannya, tetapi menghadirkannya sebagai salah satu aktivitas positif, barangkali tidak buruk juga. Seperti aktivitas – aktivitas positif lainnya, aktivitas Car Free Day yang positif juga, bertujuan kepada manusia sebagai subyek satu – satunya yang terbentuk nilai – nilai kemanusiaan.

Lalu, mengapa vakum ? Bisa menjadi alasan yang benar, karena COVID 19 mengharuskannya untuk berhenti sejenak. Tetapi, apakah mesti terus dimaklumi, memberhentikan sejenak Car Free Day, sedangkan aktivitas masal lainnya dibiarkan terus beraktivitas tanpa ada kebijakan untuk “memvakumkannya ” ? Adilkah ini ? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, kata Ebit G. Ade.

Quo vadis Car Free Day : Apa khabar ? Tunjukkan dirimu.

*(Penulis, warga Lela Diaspora. Berdomisili di Ende).

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.