AYU

By Emad Glia, tinggal di Jakarta

125
Ayu
Foto ilustrasi

 

SEBUTLAH namanya Ayu. Gadis desa berwajah cantik, penuh pesona. Tutur katanya halus. Penampilannya yang cukup sederhana dengan balutan selendang batik khas Cirebon, semakin membuatnya tak kehilangan kecantikannya.

Namun satu yang pasti badannya tak lagi proporsional. Wajahnya yang ayu, tak menutupi sebagian kulitnya yang sudah keriput. Hanya tebalnya makeup sedikit menutup keriputannya.

Seperti kuduga, dia tak jadi datang kerja. Dua hari lalu dalam pesan singkat, dia mengabarkan anaknya sedang sakit. Ia Izin tak masuk kerja. Ini semacam alasannya yang sengaja diciptakannya. Padahal hari-hari ini menjelang hari lebaran, kesibukannya di kantor semakin meningkat.

Deretan meja dan kursi penuh debu, belum lagi tumpukan sampah, yang mengeluarkan bau amis tak sedap. Jangan bilang lantai ruangan mengkilap, sehari saja tak dipel, warna langsung berubah. Maklum debu yang melekat pada sepatu dan sendal setiap karyawan.

Seorang staf berteriak, memanggil mba Ayu pagi itu, kebiasaan di setiap pagi jika memulai aktifitas di kantor. Biasanya dengan suara halus, Ayu menjawab: “Opo to mba, opo to mas, Ora Iso dumeng,
wes pelan-pelan nopo to”

Tidak pagi ini. Tak Ada suara menjawab. “Ayu , pulang mudik to?” Kok Kita tak diberitahu?

Mereka terus ngomel, namun sesungguhnya mereka rindu mati. Ayu, bukan saja teman curhat yang baik, tapi sosok yang dijuluki “the solver problem mom” bagi mereka yang sedang galau tingkat dewa. Dan juga yang sedang putus cinta. Kepadanya segala masalah ditumpahkan. Ia seperti baksom besar yang siap menampung air kesedihan dari setiap jiwa-jiwa penghuni ruangan yang umumnya berusia setengah matang alias labil.

Suasana sepi seharian. Mereka anak gadis-gadis seperjuanganku itu, berkutat dengan kerjaannya, tak sekalipun bersuara. Sekali-kalinya jari mereka menari-nari menekan huruf pada ponsel, mengirim pesan kepada Ayu. Selama itu pula mulut mereka nyerocos tak berhenti, khas emak-emak yang sedang ngegas sopir angkot yang berani menikungnya di perlintasan Sudirman.

BACA JUGA :  Bahagia Itu Masalah

Tak satupun pesan yang berhasil terkirim, contreng satu berkali kali terpampang. Ayu oh Ayu, dimanakah engkau gerangan.

***

Persis menjelang magrib, ponselku berdering. “Mas Rafael, saya sedang dalam perjalanan menuju kampung”. Suaranya bergetar penuh kebisingan dengan suara klakson motor tak berkesudahan.
Sia-sia saya berbicara panjang lebar dengannya. Hampir setiap saat, kuingatkan kepadanya, untuk sejenak saja mengurung niatnya pulang.

Awalnya dengan penuh kepastian dia mengiyakan. Kepastiannya membuat saya berjanji, mengunjungi rumah kontrakannya bersama suami dan anaknya tinggal. Janji pada lebaran kedua, pasti kataku. Kusuka masakan opornya, dengan sambal geprek khasnya, menaikan selera makan saya setiap waktu. Semua masakannya enak.

Dulu sebebelum pandemi covid, ia adalah pramusaji di sebuah restaurant Arab. Terhitung tiga tahun lamanya. Dan di sanalah tempat pertama kali hatinya tertambat pada sosok pria Arab yang berhidung mancung, kumis dan brewokan. Hatinya luluh dengan sinar tatapan beraroma manis, semanis kurma yang jadi hidangan khusus untuk setiap pengunjung.

Namun, manisnya kurma tak semanis kisah cintanya. Ia ditinggalkan dengan kondisi berbadan dua. Keberadaan pria brewok, berparas tampan raib, ditelan bumi. Tak ada kabar. Hatinya hancur berkeping-keping.

Tapi itu dulu, kisahnya itu sudah dikuburkannya dalam-dalam. Anak gadis hasil kecelakaannya dengan pria Arab itu sudah bertumbuh jadi gadis remaja yang cantik, soleha.

Saya kecewa, ia ternyata memilih pulang. Kuharap ia dan Kel menjadi satu dari sekian pemudik yang disuruh putar balik di gerbang penyekatan itu. Tidak! Ia bernasib baik sebab tumpahan pengendara motor itu tak berbendung, petugas memberikan diskresi, mba Ayu dan Kelu lolos hingga sampai kampung halaman.

Semoga ia bahagia. Berjumpa dengan keluarga, merawat emak dan babe yang sakit-sakitan. Begitu katanya suatu ketika. Ini pula alasan yang menguat baginya untuk segera pulang.

BACA JUGA :  Malas - Itu Bantal Setan

Tapi jauh hari sebelumnya sejak covid melanda, ia selalu khawatir dengan kondisi emak dan babe di kampung. Kerisauannya bertambah sebab seminggu lalu, kampungnya dinyatakan bagian Zona Merah, 5 keluarga terpapar dan sedang diisolasi. Tapi berita ini tak membuatnya takut, kerinduannya akan emak dan babe membuncah, dan ia pulang.

“Mba Ayu, segera isolasi ya, kamu dan Kel datang dari luar daerah, kondisi perjalanan kamu yang padat tak menjamin kamu dan Kel terbebas dari corona” begitu pesan yang kukirim untuknya, dua hari lalu, sejak ia tiba di kampungnya.

“Mas Rafael, terima kasih, dan mohon doanya. Ibu dan bapaku sedang sekarat, terpapar corona. Aku dan masku beserta anakku diisolasi. Kami semua positip”.

“Busyeetttt , kok bisa? Kamu yang kuat, dan semoga cepat sembuh.” pesanku menguatkanya.

Rupanya ini pesan terahkir, sekaligus percakapan kami yang terahkir semalam, sebelum saya tertidur pulas. Tadi pagi, keriuhan dan pesan duka membanjiri group Whatsupp kantorku.

Mba Ayu pergi, bersama dua orangtua selamaya ke rumah keabadiann. Ia divonis positif corona. Bersamanya dua orangtuanya juga terpapar Covid-19. Kepergianya persis sehari menjelang lebaran, hari kemenangan baginya. Ia pergi di bulan suci, sesuci hatinya yang selalu menebarkan kebaikan. Semua orang punya kesan, ia baik dan sungguh baik.

Kebaikan adalah legacy yang ditinggalkannya. Dengan kebaikannya ia ingin menitipkan buah hatinya pada kekasih hati yang juga berjiwa baik mendampingi hari-hari hidupnya di dunia ini.

Mba Ayu, Aku akan selalu mengenangmu. Tak lagi kunikmati sayur asem, dengan sambal geprek buatanmu. Selamat merayakan hari kemenanganmu bersama dua orangtua di surga keabadiann.

***

(Nama dan pristiwa dalam cerita diatas adalah Fiktif)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.