Bahagia Itu Masalah

Oleh: Yoakim Y Mario Leu

94
Penulis | foto istimewa

Hidup merupakan ritem perjalanan kisah-kisah

Seorang muda memiliki sebuah rencana besar terhadap kehidupan yang akan datang. Ia mendirikan beragam tembok pembatas agar tidak keluar dari zona nyaman yang telah ia ciptakan. Sebab baginya kenikmatan yang paling nikmat adalah sesuatu yang diciptakan sendiri untuk dirasakan karena itu merupakan klimaks yang paling sensasional dan tidak perlu diuraikan.

Seluruh catatan perjalanan masa remajanya berjalan selaras dengan keindahan yang ia inginkan. Dalam perjalanan hidup tak terasa, ia memasuki masa menuju dewasa. Di saat itu, pemuda tersebut merasa kalau hidup dengan kenikmatan yang telah ia miliki selama ini terasa hampa dan tak bernilai, karena ia tidak pernah bersinggungan dengan dunia luar yang penuh dengan beragam catatan perjuangan hidup. Hingga pada suatu hari ia keluar dari tahta kenyamanannya untuk melihat kehidupan di luar pagar yang ia ciptakan. Di sana untuk pertama kalinya ia memandang drama-drama kehidupan yang tak pernah ia temui, seperti penderitaan, gelandangan, orang sakit dan sekarat, yang tersebar luas.

Setelah itu ia kembali ke tahtanya dan mencoba mencerna semua yang ia lihat dan saat itu, ia mengalami krisis esensial yang menyebab sang pemuda begitu galau. Berangkat dari kegalauan itu sang pemuda mengambil keputusan untuk merasakan kehidupan di luar zona nyamannya. Kali ini, ia turun tahta dan hidup di dunia baru dengan tujuan untuk merasakan seperti apa menjadi orang sakit, gelandangan, dan kehidupan pahit lainnya.  Bertahun sudah ia menjalani hidup penuh dengan penderitaan dan ia menemukan bahwa penderitaan yang ia alami juga tidak ada manfaatnya dan sama halnya dengan zona nyaman yang ia miliki dulu.

BACA JUGA :  Jalan Pulang (Puisi-puisi Feliciano Sila)

Situasi seperti ini benar-benar membuat sang pemuda dilema dan kebingungan semakin merajalela dalam dunia kerja otak. Kondisi ini terus bergulir dan semakin ia berusaha menjauh, semakin dihantui oleh persoalan kehidupan tersebut. Pada puncak kegalauan itu, sang pemuda membasuh diri lalu menuju ke sebuah Katekombe dan menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk mencari jawaban.  Suatu hari, ia menyadari bahwa catatan-catatan perjuangan untuk bertemu dengan penderitaan ialah cara untuk memperoleh kebahagiaan.  Sebab kebahagiaan dapat diutak-atik dan tidak datang dari satu persamaan yang ingin dipecahkan, melainkan muncul dari dalam diri.

Jangan berhenti pada titik di mana kenyamanan yang anda rasakan, teruslah berjuang sebab kegembiraan terletak pada perjuangan.

 

bahagia itu luka

Sementara ia duduk tersenyum merayu langit merah.

Mengajak jalan diksi-diksi yang berhamburan di alam pikir.

Sampailah pada sebuah titik hati. Kala itu hatinya bertanya sesulit itukah Bahagia?

Sampai-sampai memaksa untuk tidak Merekah kembali senyum sederhana itu,

bahkan dipaksa kubur karena dianggap layu. Dunia seakan milik mereka-mereka

yang pandai menilai saja, sedangkan untuk dia hanya sebatas senyum tipis yang

sedang diekspresikan itu dianggap luka.

 

 

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.