Belajar dari Real Madrid: Veni, Vidi, Vici (Catatan Lepas Apresiasi untuk Perjuangan Real Madrid di Liga Champions)

Oleh Walburgus Abulat, S.Fil (Wartawan Senior, Penulis Buku, dan Peminat Bola)

567
Ketika Misionaris SVD Benuming Brasil Adopsi Pertanian Irigasi Tetes Ala Israel di Candraditya Maumere
Penulis Walburgus Abulat. (Foto istimewa)

 

FINAL Liga Champion tahun 2021/2022 telah usai. Kita semua mengetahui bahwa  Real Madrid berhasil mengalahkan Liverpool 1-0 melalui gol semata mayang Vinicius Junior di menit ke-59 pada 29 Mei 2022 lalu.

Meski secara urutan waktu/khronos, laga telah usai, namun cerita dan kisah heroik perjalanan Real Madrid meraih trofi ke-14 tahun ini masih ramai diperbincangkan warganet dunia di pelbagai laman media sosial seperti facebook, WhatsApp (WA), twitter, dan media sosial lainnya hingga saat ini, dan tentu di waktu-waktu yang akan datang.

Perbincangan warganet bukan tanpa alasan. Betapa tidak. Dalam ziarah menuju hasil akhir yang gemilang, anak-anak Carlo Ancelotti  menorehkan catatan heroik yang membuktikan spirit dan mental juara.

Torehan sejarah heroik itu, mereka tontonkan dalam empat laga krusial untuk meraih piala ke-14   ketika mereka membalikkan keadaan di luar daya nalar manusia, termasuk pengamat bola.

Betapa tidak. Di laga knock out babak 16 besar melawan PSG, Real Madrid yang meski keok 1-0 di laga tandang, dan tertinggal 1-0 di saat laga kandang di Santiago Bernabeu, malah bangkit setelah menyarangkan tiga gol dalam tenggang waktu 10 menit berkat hattrick Karim Benzema.

Jiwa perjuangan yang sama ditunjukkan pasukan Carlo Ancelotti yang berjaya di laga tandang per delapan final melawan juara bertahan  UCL tahun 2020/2021 Chelsea dengan skor 3-1,  namun sempat ketinggalan 3-0 di laga home away di Santiago Bernabeu sehingga secara agregat Chelsea unggul sementara 4-3, malah dalam 10 menit waktu laga sisa dan perpanjangan waktu, Real membalikkan dengan menyarangkan dua gol sehingga pasukan Ancelotti berhak berlaga di babak semifinal dengan agregat 5-4.

Dan aksi  Real Madrid yang paling mendebarkan dunia, ketika di laga semifinal menjamu Manchester City di Santiago Bernabeu, Real yang kecolongan 1 gol sehingga secara agregat City unggul 5-3 hingga masa injury time, malah membalikkan keadaan dengan melesatkan tiga gol melalui brace Rodrigo, dan penalti Benzema.  Dengan kemenangan ini, Real melenggang ke babak final dan harus menjamu Liverpool di laga final.

Di laga final, Real kembali membalikkan analisis pengamat dunia dan animo warga net atau netizen yang sebagian besar mengunggulkan Liverpool.

Meski di laga final secara statistik El Real hanya  menguasai bola 45% dan hanya memiliki dua peluang, ketimbang Liverpool yang menguasai Bola 55% dan belasan peluang dan on target, namun peluang sekecil itu dimanfaatkan Real dengan melesatkan gol melalui  Vinicius Junior di menit ke-59.

Dengan kemenangan ini,maka El Real semakin kokoh sebagai penguasa ajang sepak bola kasta tertinggi di benua biru dengan 14 tropi atau unggul 7 tropi dari pesaing terdekat AC Milan yang hanya mengoleksi 7 piala.

 Veni, Vidi, Vici

Veni, Vidi, Vici__Datang, Lihat dan Menang. Adagium bermakna di atas untuk pertama kali ditulis oleh Kaisar Romawi Julius Caesar (100 SM – 44 SM) sebagai komentar setelah sebuah perang di Turki. Ungkapan ini kemudian dikembangkan oleh beberapa  pejabat dan penulis dunia untuk menggambarkan sebuah momen kemenangan atau situasi yang dianggap menguntungkan atau menginspirasi bagi kehidupan banyak orang.

BACA JUGA :  Diksi "Baik" Dalam  Figur Seorang Gembala

Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte yang hidup dalam rentang waktu 1769-1821 misalnya menggunakan jargon ini untuk melukiskan keberanian dan kemasyhurannya  sebagai sosok pemimpin yang tak gentar melawan siapa pun di zamannya.

Bermodalkan pendidikan kemiliteran yang tangguh dan ulet, Napoleon menjalani hidupnya di atas pentas keberanian patriotisme prajurit yang tak kenal menyerah. Kecakapannya berperang sangat menonjol menjadikan Napoleon sebagai seorang pribadi  yang disegani, dan yang mengantarnya  menuju beberapa kesuksesan besar dalam berperang. Beberapa bangsa besar pun  terpaksa harus mengakui kebesarannya setelah berturut-turut ditaklukkannya. Ia dikenal kawasan dunia sebagai pejuang tangguh dan peraih kemenangan gemilang. Tak salah ia pun membingkai semangat perjuangan dan kemenangannya dalam semboyan bermakna “Veni, Vidi, Vici”__Datang, Lihat dan Menang.

Penulis sendiri pernah menggunakan jargon ini dalam sebuah tulisan opini di Majalah Mingguan Hidup Nasional Edisi 4 Februari 1996 dengan judul “Veni, Vidi, Vici”  untuk menggambarkan betapa pentingnya mewujudkan semangat perdamaian dan persaudaraan di Indonesia dalam upaya membatinkan nilai-nilai ke-Indonesia-an yang  berke-Tuhan-an, berkemanusiaan, Persatuan, permusyawaratan, dan berkeadilan dalam praksis hidup keseharian warganya.

Masih ada banyak ulasan menarik seputar aneka kehidupan berbangsa, bernegara, kehidupan mondial dan aneka dinamikanya yang diulas para pejabat-pemerhati, dan penulis dunia dengan tajuk “Vini, Vidi, Civi.”

Lain Kaiser  Napoleon Boneparte__lain pula Real Madrid. Napoleon Bonaparte merupakan sosok pemimpin yang tak gentar melawan siapa pun di zamannya.Bermodalkan pendidikan kemiliteran yang tangguh dan ulet, Napoleon menjalani hidupnya di atas pentas keberanian patriotisme prajurit yang tak kenal menyerah. Kecakapannya berperang sangat menonjol menjadikan Napoleon sebagai seorang pribadi yang disegani, dan yang mengantarnya  menuju beberapa kesuksesan besar dalam berperang. Tak salah kalau Kaiser Prancis itu memekikkan slogan  “Veni, Vidi, Vici”__Datang, Lihat dan Menang.

Sementara Real Madrid, meski berpentas dalam dunia yang berbeda__lapangan hijau, namun Klub yang bermarkas di Ibu Kota Spanyol itu__layak disebut The Real King__Raja sesungguhnya di ajang Sepak Bola Tertinggi Benua Biru/Eropa dengan meraih 14 kemenangan dalam tenggang waktu 67 tahun selama ajang itu digelar.

Sebuah prestasi yang mempertonton segala daya dan upaya bersama, kerja sama/team work, taktis dan statis, keluguan, dan terkadang mempertontonkan permainan yang terkadang mempermainkan permainan. Suatu permainan yang selalu  mengatraksikan dan memadukan keunggulan pribadi dan kerja sama apik lini per lini.Sebuah permainan yang mengharuskan pendukung atau penikmat bola menuai hasil yang melahirkan gelak  tawa dan kegembiraan yang sulit diuraikan dengan kata-kata setelah tim kesayangannya meraih kemenangan pada satu sisi, dan deraian air mata bagi pendukung yang timnya mengalami kekalahan, pada sisi lainnya.

BACA JUGA :  Ketua Fordicamm Ledalero Temui Gubernur NTT Bahas Proyek PLTMH Mangkrak di Desa Rego

Ya sepak bola, tak sekadar tontonan penguasaan bola, atau suguhan liukan punggawanya dalam mengolah bola. Sepak bola juga tak sekadar perhitungan matematis__ala pengamat bola amatiran atau profesional yang sekadar membaca taktis lini per lini kekuatan lawan dan berani bersumpah serapah menjual harta miliknya dengan dalil optimisme semu, dan kedangkalan  cara berpikir kekuatan  lawan yang menyimpan potensi untuk dikembangkan__termasuk di saat timnya diremehkan.

Sejarah Real Madrid di Liga Champions memang tak sekadar sejarah sepak bola saja. Real Madrid memang sungguh sebagai icon kemenangan baik di kancang La Liga (kasta tertinggi Spanyol) dengan meraih 35 kemenangan, maupun ajang  UCL yang memuncaki tangga 14 kemenangan atau leading 7 tropi dari AC Milan-yang menduduki raihan tropo di urutan kedua.

Sebagai peminat olahraga terbesar di dunia Sepak Bola, penulis mengabadikan jargon “Veni, Vidi, Vici” untuk Real Madrid-Raja Liga Champions Eropa-Kasta Tertinggi Benua Biru.

Penulis mengabdikan jargon Veni, Vidi, Vici ini sebagai bentuk apresiasi terhadap  kedigdayaan Klub di Ibu Kota Spanyol itu yang meraih gelar ke-14 tahun ini, setelah di final mengalahkan Liverpool 1-0 di Stade de France  pada 29 Mei 2022 lalu.

Ya, piala ke-14 diraih tim Ibu Kota itu, setelah 13 kejuaraan mereka raih dalam rentang waktu 67 tahun.

Inilah empat belas tim dunia yang ditaklukan Real Madrid dalam meraih Piala Kasta Tertinggi di Benua Biru itu. Piala pertama diraih Real Madrid setelah mengalahkan Stade de Reims 4-3 pada tahun 1956. Trofi II diraih setelah mengalahkan Fiorentina 2-0 pada tahun 1957. Trofi III diraih setelah mengalahkan AC Milan  3-2 pada tahun 1958. Topi IV diraih setelah mengalahkan  Stade de Reims  2-0 pada tahun 1959, dan Tropi V diraih setelah mengalahkan wakil Jerman Eintracht Frankfurt 7-3 pada tahun 1960.

Trofi VI diraih Real Madrid setelah mengalahkan  Partizan  2-1 pada tahun 1966, Setelah meraih trofi ke-6 ini, Real Madrid puasa gelar selama 32 tahun. Real Madrid baru kembali mengikuti kejayaan dan meraih piala ke VII setelah mengalahkan wakil Italia Juventus 1-0 pada tahun 1998.Tropi ke VIII diraih Real Madrid setelah mengalahkan tim sesama Spanyol Valencia 3-0 pada tahun 2000, dan piala ke IX diraih Los Blancos setelah mengalahkan Bayern Leverkusen 2-1 pada tahun 2002.

Setelah meraih trofi ke-9 ini, El Real sempat rehat 12 tahun untuk kembali meraih trofi ke-X setelah mengalahkan sesama Tim Ibu Kota Spanyol Atletico Madrid (ATM) 4-1 pada tahun 2014. Prestasi Real Madrid di ajang tertinggi di Benua Biru ini semakin cemerlang di bawah era Trio Maut BBC (Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo) dengan meraih tiga kemenangan beruntun alias hattrick pada tahun 2016, 2017, dan tahun 2018 dengan meraih piala ke-11, ke-12, dan ke-13. Pada tahun 2016, Real menekuk tim sesama Kota ATM melalui drama adu penalti. Setahun kemudian, pasukan Zidane Zinedine mengalahkan wakil Italia  Juventus 4-1, dan pada tahun 2018, El Real mengalahkan Wakil Inggris Liverpool 3-1.

BACA JUGA :  Guru Penggerak Sebagai Katalisator Pembelajaran

Pencapaian hattrick gelar UCL di bawah kepemimpinan pelatih alumnus Real Madrid Zidane Zinedine ini terbilang luar biasa. Sebab, Zidane mematahkan mitos yang bertahan selama ajang tertinggi ini di bawah format UCL sejak tahun 1992__ di mana tak ada satu tim mana pun  yang meraih brace atau dua kali juara beruntun, apalagi hattrick.

Sementara, tropi ke-14 diraih  Real Madrid di bawah kepemimpinan Carlo Ancelotti dengan mengalahkan Wakil Inggris Liverpool 1-0.

Itulah sekilas ziarah kedigdayaan Real Madrid di kancah tertinggi ajang sepak bola di benua biru. Sebuah prestasi yang mustahil diraih tim mana pun, mengingat tim terdekat  yang mengejar pencapaian Real masih berjarak 7 tropi yang sebagaimana diukir AC Milan yang meraih 7 piala.

Selain Real Madrid yang kokoh di puncak meraih 14 piala dan AC Milan yang meriah 7 trofi, tim lain yang pernah mengenyam tropi tertinggi Eropa yakni Bayern Munchen dan Liverpool masing-masing meraih 6 piala, musuh bebuyutan Real Madrid di La Liga__Barca meraih 5 piala, Ajax 4 Piala,  MU dan Internazionale masing-masing 3 piala, Juventus (2), Porto (2), Chelsea (2), Nottingham Forest  (2), Benfica (2), Celtic (1), Feyenoord (1), Aston Villa (1), Hamburg (1) Steaua Bucuresti  (1), PSV Eindhoven  (1), Red Star Belgrade (1), Olympique de Marseille (1), dan Borussia Dortmund (1).

 Belajar dari Real Madrid

Sejarah Real Madrid untuk meraih kemenangan di kasta tertinggi sepak bola di dunia biru/Eropa ibarat titian sejarah setitik demi setitik. Sebuah sejarah yang sejalan dengan adagium latin “Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo”__Batu berlubang bukan karena kekuatan yang dahsyat tetapi akibat tetesan air yang berulang kali.

Ya itulah sepak bola. Ia tak sekadar bermodalkan doa yang dilantunkan penggemar tanpa memperhitungkan daya upaya dan keseriusan tim baik pemain, manajer, tim kepelatihan. Dari penampilan Real Madrid kita memetik sejarah  bahwa untuk meraih tangga puncak tak hanya bermodalkan perhitungan angka matematis dan penampilan fisik yang secara kasat mata dinilai wow. Sejarah Real Madrid adalah sejarah mental juara, sejarah memanfaatkan peluang sekecil apa pun.

Dari Real Madrid kita belajar bahwa sekecil apa pun peluang selagi kita tak berhenti berusaha, percayalah Tuhan akan membalikkan keadaan  di luar nalar manusia agar jangan pernah menyerah. Kita hendaknya selalu belajar dari Real Madrid: Veni, Vidi, Vici. ***

 

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.