Bincang Bersama Martin Runi, Komponis Asal Flores

Oleh Paskalis X. Hurint (Dosen STPM Santa Ursula, Ende)

617
Bincang Bersama Martin Runi, Komponis Asal Flores
Martin Runi asal Ngada. (Foto istimewa)

 

KETIKA melihat kehadiran bapak Martin Runi di rumah bapak Blasius Fonge di Ende pada tahun 2021, saya merasa begitu terdorong untuk berbincang dengan beliau. Pasalnya seorang komponis adalah juga seniman yang selalu membingkai kebeningan bathinnya. Dari dalam relung bathin yang bening itu, seorang komponis dapat menangkap realitas sosial dan spiritual, yang kemudian diguratkannya melalui bidikan notasi, dinamika dan syair lagu. Maka dari itu, berbincang dengan seorang komponis terkait lagu-lagu gubahannya, kita dapat menangkap makna yang ditautkannya di dalam agu goresannya. Olahan relung bathin yang mendalam itu menjadikan lagu-lagu liturgi karya Martin rasanya meriah dan megah, jika dilantunkan secara benar seturut birama, modulasi dan dinamika sesuai petunjuk lagu.

Dorongan untuk berbincang dengan bapa Martin, baru dapat terpenuhi pada tanggal 02 Mei 2022, setelah sehari sebelumnya saya melakukan “loby” melalui saudarinya, ibu Paulina Pede yang bersuamikan bapak Blasius Fonge. Di teras rumah Bapak Blasius Fonge yang terletak di jalan Melati, lorong Gammas 01, saya berbincang- bincang dengan bapa Martin. Karena perbincangan kami yang pertama masih menyisahkan sesuatu yang belum lengkap, maka perbincangan itu dilanjutkan lagi pada
sore hari di tanggal 05 Juni 2022.

Kisah di Masa Kecil

Pada tahun 2022 ini, bapa Martin Runi memasuki usia yang ke-76 tahun. Tercatat tanggal lahirnya 06 Nopember 1946. Kelahirannya di kampung Jerebu’u-Ngada, jauh dari keramaian dan gemerlapnya kota. Meskipun demikian, tetapi di dalam kesunyian kampung itu, Martin dibentuk menjadi seorang komponis yang dikenal di Indonesia, khususnya di kalangan Gereja Katolik.

Ayahnya bernama Feliks Bhoga adalah seorang guru sekolah dasar di kampung Jerebu’u. Bapa Feliks aktif dalam kehidupan gereja, dengan talenta sebagai pelatih koor sekaligus organis di gereja. Dengan talenta ini, maka ayahnya seringkali melatih koor di kampung-kampung seputaran Jerebu’u, di sela-sela tugasnya untuk mengajarkan agama. Sebagai seorang guru yang mengajarkan agama, maka ayahnya diserahi pula tugas
sebagai pembantu pastor paroki. Ibunya bernama Maria Noge yang pada saat itu dipercayakan sebagai ketua kongregasi Santa Anna. Ibunya memiliki talenta bernyanyi dan dikenal mahir menguasai lagu-lagu daerah Ngada.

Pada masa kecilnya, Martin seringkali mengikuti ayah dan ibunya dalam kegiatan latihan koor. Martin menyaksikan kepiawaian ayahnya dalam melatih koor. Martin juga selalu duduk di samping ayahnya, ketika ayahnya berperan sebagai organis dalam perayaan ekaristi.

Karena ibunya mahir dalam menyanyikan lagu-lagu daerah, maka seringkali Martin mendengar lagu-lagu daerah yang didendangkan oleh ibunya sendiri atau bersama para ibu yang lain. Pengalaman masa kecil inilah yang menumbuhkan bakat musik yang bernas di dalam diri Martin yang mengantarkannya sebagai seorang komponis lagu-lagu liturgi.

Pancawindu Seminari Mataloko

Dikenangnya untuk pertama kali menggubah lagu, ketika beliau masih sebagai frater di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero. Sesungguhnya gubahan lagu-lagu perdana itu atas permintaan P. A. Van Der Heijden, SVD (Pater Heijden) dalam rangka perayaan pancawindu Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu- Mataloko pada tahun 1969. Pada tahun 1929, Seminari ini secara resmi beraktivitas di
Mataloko. Sebelumnya Seminari ini didirikan di Sikka-Maumere pada tahun 1926, oleh P. Fransiskus Cornelissen SVD, atas prakarsa Mgr. Vestraelen SVD. Permintaan Pater Heijden kepada Martin, karena Pater Heijden adalah guru musik di Seminari Mataloko ketika Martin menjadi siswa di Seminari itu pada tahun 1958 – 1964.

Sebagai guru musik, Pater Heijden mengenal dengan sungguh, bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh Martin. Oleh sebab itu, Pater Heijden menginginkan agar lagu-lagu gubahan Martin dinyanyikan dalam perayaan ekaristi pancawindu Seminari Mataloko. Martinpun tidak menyia-nyiakan tawaran ini, maka goresan-goresan lagu untuk perayaan ekaristi pancawindu Seminari Mataloko menjadi kenyataan.

Perayaan pancawindu saat itu dikemas dalam semangat inkulturasi. Karena terdorong oleh semangat inkulturasi, maka lagu-lagu gubahan Martin terinspirasi dari lagu-lagu suku Ngada. Dengan demikian, lagu “Marilah kita ke Rumah Bapa” dikemas oleh Martin sebagai lagu pembuka dalam perayaan ekaristi itu di antara lagu-lagu yang lain.

BACA JUGA :  Artis Maudy Ayunda Jadi Jubir Presidensi G20 Indonesia 2022

Dalam rangka persiapan perayaan pancawindu itu, Martin dijemput dari Ledalero menuju Seminari Mataloko. Maksud penjemputan ini agar Martin sendirilah yang melatih para siswa seminari dalam menyanyikan lagu-lagu gubahannya untuk perayaan ekaristi dimaksud. Dengan senang hati Martin berangkat menuju Mataloko untuk menunaikan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Sebulan lamanya Martin berada di Seminari Mataloko untuk menggembleng para siswa dalam latihan koor. Seingat Martin, jumlah siswa yang bergabung menjadi anggota koor sebanyak 60 orang. Setelah melewati latihan yang cukup, atas permintaan Martin, Seminari Mataloko menghadirkan tiga orang bapa yang dipandang pakar terkait lagu-lagu daerah Ngada untuk menyaksikan dari dekat latihan anggota koor dan
memberikan komentar atas lagu-lagu dimaksud. Jerih payah latihan ini membuahkan hasil dengan tampilnya koor yang meriah, di mana Martin sendiri sebagai dirigennya.

Martin menuturkan bahwa penampilan anggota koor dalam perayaan pancawindu itu bernuansa akapela, menyanyi tanpa iringan alat musik. Martin mengisahkan bahwa, pada waktu itu anggota koor menyanyi sambil menari. Martin teringat ketika itu, bahwa hentakan kaki para anggota koor sambil menyanyi, bukan hanya memastikan birama lagu, tetapi turut memoles keindahan lagu-lagu ekaristi.

Dalam kesempatan perayaan pesta emas paroki Jerebu’u yang dihadiri Martin, Uskup Agung Ende, Mgr. Abdon Longinus pernah berujar bahwa lagu-lagu karya Martin dalam perayaan pancawindu Seminari Mataloko merupakan suatu karya yang klasik dan otentik. Lagu-lagu karya Martin yang bermotif lagu daerah dalam perayaan ekaristi pancawindu Seminari Mataloko, kiranya menjadi inspirasi bagi para komponis
lainnya dalam mengemas lagu-lagu yang bernapas inkulturatif. Martin mengakui bahwa ungkapan Uskup Longinus ini pada satu pihak membuatnya berbangga, tetapi pada pihak lain menantangnya untuk terus berkarya dalam menggubah lagu-lagu liturgi.

Pater Heijden, SVD

Ketika Martin masih sebagai siswa Seminari Mataloko, Pater Heijden sempat memanggil Martin ke kamarnya. Panggilan khusus ke kamar ini dilakukan, karena Pater Heijden menemukan ada bakat musik yang sudah kelihatan di dalam diri Martin.

Sesampainya di kamar, Martin diajak untuk menonton film lagu-lagu daerah yang dinyanyikan oleh anak-anak Kongo. Maksud dari Pater Heijden adalah untuk menginspirasi Martin yang masih siswa seminari itu, agar dapat memanfaatkan lagu- lagu daerah Flores untuk dijadikan sebagai motif dalam menggubah lagu-lagu Gereja.

Martinpun merespon permintaan Pater Heijden dengan mengumpulkan lagu-lagu daerah Ngada dan menuliskan notasinya, kemudian menyerahkannya kepada Pater Heijden. Apa yang diminta Pater Heijden ini justru menjadi cikal-bakal lagu-lagu dalam perayaan ekaristi pada saat pesta Pancawindu.

Martin mengakui bahwa dorongan Pater Heidjen ini menginsprasi dia untuk menggubah lagu-lagu sederhana yang ditampilkan setiap tahun dalam sukacita pesta famili di Seminari Mataloko. Ada kelompok-kelompok siswa yang diajak Martin untuk berlatih dan mempersembahkan lagu gubahan Martin untuk mengisi acara di panggung hiburan.

Pater Heijden dikenang Martin sebagai orang yang menginspirasinya dalam belajar tentang paduan suara. Pater Heijden juga dikenangnya sebagai orang yang memperkenalkan dan mempertemukan Martin dengan Romo K.E.Prier, SJ, yang saat itu masih sebagai frater Jesuit semasa Martin masih sebagai siswa di Seminari Mataloko.

Pater Heijden jugalah yang merekomendasikan Martin untuk mendalami musik melalui studi pada Akademi Musik Indonesia (AMI) Yogyakarta. Bahkan Pater Heijden punya rencana besar bahwa setelah Martin menyelesaikan studi musiknya di Yogyakarta, Martin harus kembali dan membangun Flores melalui suguhan khasanah musik liturgi. Rencana ini tidak terealisasi, mengingat kota Semarang sudah terlebih dahulu
menggandeng Martin yang memiliki segudang talenta musik.

BACA JUGA :  Celine Evangelista Ungkap Alasan Pisah Ranjang dengan Stefan William
Bincang Bersama Martin Runi, Komponis Asal Flores
Martin Runi bersama kedua saudarinya dan bapa Blasius Fonge. (Foto: istimewa)

 

Frater TOP di Atambua

Sebagai frater yang hendak menjalani masa tahun orientasi pastoral (TOP), Martin pun bersiap-siap untuk mendapatkan distribusi penempatan TOP. Harapan Martin ini sempat tersendat, karena ternyata dalam pendistribusian tempat TOP, hanya teman-temannya yang mendapatkan kebagian, sedangkan Martin tidak disebutkan namanya.

Sebagai perfek, Pater Niko Hayon, SVD, memberi penjelasan tentang alasan nama Martin tidak disebutkan untuk mengalami masa TOP. Dalam rapat Dewan Regional diputuskan bahwa, Martin tidak menjalani masa TOP. Martin didaulatkan untuk melanjutkan studi teologinya di Ledalero hingga selesai, setelah itu diutus untuk studi musik liturgi. Mendengar penjelasan ini, Martin bersikeras untuk belum bisa menerimanya dan meminta agar dia diperkenankan untuk mengalami masa TOP. Dalam pertimbangan Martin, masa TOP merupakan kesempatan untuk dapat hidup dan belajar di tengah umat. Meskipun harapan Martin demikian, tetapi apalah daya, dia tetap tidak kebagian tempat TOP.

Dalam suasana di mana Martin belum kebagian tempat TOP, pada waktu itu, di Ledalero diselenggarakan pertemuan yang turut menghadirkan para uskup. Pertemuan itu diselingi dengan sejumlah acara hiburan yang ditampilkan pada malam hari. Para frater tampil di panggung untuk mengisi acara hiburan itu. Martin tidak ketinggalan memainkan akordeon untuk mengiringi lagu dan tarian rokatenda. Uskup Atambua,
YM. Theodorus Fransiskus Maria van den Tillaart, SVD, turut hadir dalam acara hiburan itu. Uskup Theodorus merasa terpukau melihat penampilan Martin. Ketertarikannya pada kepiawaian Martin, Uskup ini langsung mengatakan kepada Pater Rektor, bahwa Martin dibutuhkan di Atambua. Dengan demikian, Martin menjalani masa TOP di Atambua pada tahun 1970.

Selama di Atambua, Martin produktif menggubah lagu-lagu Gereja. Lagu-lagu gubahannya di Atambua dikenal dengan sebutan lagu-lagu misa senja. Ada pula yang menyebutnya dengan misa Lalian. Goresan lagu-lagu bernuansa lagu Timor itu terinspirasi ketika Martin diajak ke salah satu paroki untuk mengikuti upacara tabhisan imam baru. Pada satu kesempatan, Martin menyaksikan seorang bocah bermain sambil
menyanyi lagu daerah Timor dengan judul “Oras Loro Malirin”. Lagu itu menyengat perhatian Martin yang akhirnya menginspirasinya untuk menggubah lagu “Tuhan kasihanilah kami”. Seusai menjalani masa TOP, dengan penuh hormat, Martin pun pamit sebagai frater.

Studi di Yogyakarta

Setelah pamit sebagai frater, Martin menemui Pater Heijden untuk menyampaikan kabar bahwa beliau sudah mengundurkan diri sebagai frater. Pater Heijden lalu menghubungi Romo Prier, SJ, untuk berkonsultasi tentang studi musik yang akan dijalani Martin. Singkat cerita, Pater Heijden mendambakan agar Martin menekuni studi musik yang akan menunjang Martin dalam menggubah lagu-lagu liturgi dengan motif
lagu-lagu daerah. Romo Prier pun menjawab bahwa kalau untuk maksud studi seperti itu, maka tidak perlu studi di luar negeri, sebaiknya di Yogyakarta saja. Melalui perkenalan yang dilakukan oleh Pater Heijden, Martin dan Romo Prier akhirnya saling kenal, sejak Martin masih sebagai siswa di Seminari Mataloko. Keduanya saling menyurati, sehingga Romo Prier bukan lagi orang baru bagi Martin.

Setelah mendengar penjelasan Romo Prier, Martin ditemani saudarinya Veronika Ule berangkat ke Yogyakarta. Pada tahun 1972, Martin mulai menjalani masa studi di AMI Yogyakarta. Seluruh mahasiswa angkatan mereka berjumlah 40 orang. Direktur AMI saat itu adalah R.A.J. Sujasmin. Selama tiga tahun Martin mendalami musik di Yogyakarta, yakni sampai tahun 1975. Dalam masa studi itu, mereka pernah melakukan
pentas seni di Taman Ismail Marzuki. Karena keasyikan selama masa studi, Martin mengakui bahwa tidak satu lagupun yang digubahnya di kala itu.

Menjadi Anggota Seksi Musik Liturgi

Selama masa studi di AMI Yogyakarta, bersama Romo Prier, Martin digabungkan menjadi anggota seksi musik liturgi MAWI (sekarang KWI). Tugas anggota seksi ini adalah menyusun lagu-lagu liturgi yang akan diberlakukan untuk semua paroki di Indonesia. Upaya penyusunan ini merupakan cikal bakal terbitnya buku Madah Bhakti. Anggota seksi ini memiliki perwakilan hanya dari beberapa Etnis di Indonesia serta para
ahli dalam bidang tertentu. Seingat Martin, selain Romo Prier, ada pula Romo Frans (Abas), kepala Biara Trapis Rawaseneng menjadi anggota seksi ini.

BACA JUGA :  Rizky Febian Ancam Teddy Terkait Warisan Lina Zubaedah

Sebelum mengemas lagu-lagu yang nanti dimanfaatkan pada semua paroki, Romo Prier mengusulkan ide agar disebarkan angket untuk memastikan lagu-lagu manakah yang biasa dipakai di paroki-paroki. Hasil angket itu memperlihatkan bahwa cukup banyak paroki di Indonesia yang sering menggunakan lagu-lagu karya Martin. Data ini turut membantu seksi musik liturgi dalam membukukan lagu-lagu pilihan.

Pengalaman di Semarang

Seusai menjalani masa studi di AMI Yogyakarta pada tahun 1976, Martin berangkat menuju Semarang. Martin bekerja sebagai seorang guru musik di sekolah-sekolah milik biara Suster Penyelenggara Ilahi (PI) di paroki Kebun Dalem. Martin mengenang di kala itu, dia diberi kemudahan untuk tinggal di salah satu kamar di
belakang gedung gereja. Di sekolah ini, Martin dipercayakan untuk mengasuh mata pelajaran musik untuk SD, SMP dan SMA. Betapa beratnya tugas yang dipercayakan ini, apalagi begitu banyak kelas. Dalam perjalanan selanjutnya, Martin meminta agar dia mengasuh mata pelajaran ini di tingkat SMA saja.

Ketika bekerja di persekolahan biara Suster Penyelenggara Ilahi, Martin mulai lagi menggoreskan lagu-lagu liturgi. Lagi-lagi hal ini dipicu oleh permintaan para Suster Penyelenggara Ilahi. Permintaan ini dilakukan untuk menyongsong perayaan 100 tahun kehadiran biara PI di Indonesia. Seingat Martin, lagu-lagu yang digubah pada waktu itu “Puji Tuhan, Kudengar SuaraMu ya Tuhan dan Tuhan mengantarkan umatNya”.

Proses Penyusunan Lagu

Di tangan Martin, penyusunan satu lagu tidak membutuhkan waktu yang lama. Inspirasi bisa datang pada saat sunyi maupun dalam keramaian. Inspirasi juga dapat terjadi pada saat menyaksikan suatu peristiwa atau kejadian, tetapi untuk menuliskannya butuh waktu dan tempat yang tenang. Pada umumnya untuk menciptakan satu lagu hanya butuh sehari semalam saja. Hal ini dapat terjadi kalau misi dari lagu itu jelas, atau lagu itu diciptakan dalam rangka sesuatu yang jelas. Dengan kejelasan itu, maka indra bathin mensuport kesejukan untuk menemukan nada dan syair yang tepat. Kekuatan syair terutama diinspirasi dari kitab suci. Ayat-ayat kitab suci, menggugah intuisi bathin untuk menghubungkan antara alunan nada dan ketepatan syair. Sampai pada batas ini, Martin selalu teringat akan pesan Pater Heijden bahwa keindahan sebuah nyanyian bukan terletak pada lagu itu sendiri, tetapi terutama terletak pada cara menyanyikannya (not the song but the singer).

Diakui Martin bahwa, selama menggoreskan lagu-lagu, tidak pernah dia membayangkan siapa yang akan menyanyikan lagu itu. Oleh sebab itu, jika mendengar tembang-tembang gubahannya dinyanyikan, maka Martin merasa bersyukur dan terharu. Martin merasa bersyukur karena melalui tembang-tembang gubahannya, Tuhan dipuji dan dipuja.

Peristiwa yang sangat berkesan bagi Martin adalah ketika beliau memimpin koor akbar dalam rangka misa tabhisan Uskup Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo. Perayaan tabhisan itu berlangsung di stadion Jati Diri Semarang pada tahun 1997. Koor akbar itu  mempersembahkan lagu-lagu ekaristi gubahan Martin. Eforia kegembiraan perayaan itu sangat terasa, mengingat jumlah anggota koor yang begitu besar, kenang Martin.

Penghargaan

Banyak pihak memberikan apresiasi atas karya-karya Martin, baik sebagai penggubah lagu, maupun sebagai pelatih dan dirigen koor. Martin pernah mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah, Suparjo Rustam, pada tahun 1980-an, sebagai pelatih koor untuk KORPRI Jawa Tengah. Martin pernah menerima penghargaan dari paroki-paroki dan organisasi-organisasi. Bagi Martin, penghargaan itu patut disyukuri
karena semuanya demi puja dan puji nama Tuhan.***

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.