Bupati Mabar Resmikan Kapal Pondok Kerja Burung Indonesia

799
Bupati Mabar  Resmikan Kapal Pondok Kerja Burung Indonesia
Ir.Marten Ban, Asisten II Bupati Manggarai Barat meresmikan Kapal Pondok Burung Indonesia di Bukit Saimbokol, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto : Robert Perkasa

 

MBELILING | Pojokbebas.com | Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau Burung Indonesia mulai mengoperasikan Pondok Kerja yang berpadu dengan lokasi wisata alam yang dinamai  Teras Flores.

Peresmian Teras Flores menjadi bagian dari rangkaian acara Merayakan Keragaman Burung di Indonesia (MKBI) 2022. MKBI merupakan rangkaian kegiatan Burung Indonesia bersama publik yang diselenggarakan setiap tahun.

Mewakili Bupati Manggarai Barat, Asisten II Ir. Marten Ban hadir meresmikan Kapal Pondok Kerja Burung Indonesia, Jumat (17/6/2022). Hadir pula sejumlah undangan, para Kepala Desa mitra kerja Burung Indonesia di Bentang Alam Mbeliling, tokoh adat dan tokoh masyarakat Desa Cunca Lolos.

Teras Flores

Teras Flores Burung Indonesia terletak di Bukit Saimbokol, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Teras Flores berada di wilayah Ecotone Rest Area (ERA) yang sedang dikembangkan menjadi kawasan terpadu sebagai tempat peristirahatan, pusat informasi dan pembelajaran konservasi, wisata alam serta pengembangan kewirausahaan masyarakat. ERA berada di area seluas tiga hektare yang terletak di tepi Jalan Trans Flores, Labuan Bajo-Ruteng.

Direktur Eksekutif Burung Indonesia, Dian Agista menjelaskan ERA dibangun untuk menjadi destinasi wisata alternatif bagi masyarakat Manggarai Barat dan sekitarnya maupun pelancong yang mengunjungi Labuan Bajo.

“Selain Teras Flores, di wilayah ERA juga telah berdiri pusat pengolahan kayu yang dikembangkan atas kerja sama dengan Koperasi Serba Usaha Bentang Alam Mbeliling (KSU BAM) dan Burung Indonesia,” jelasnya, Jumat (17/6).

Dian Agista menuturkan, pondok kerja berbentuk kapal yang terdiri dari tiga lantai. Pondok Kerja ini dikerjakan oleh spesialis pembuat kapal pinisi yang berasal dari Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kapal ini memiliki tinggi 11 meter dan panjang 34 meter. Sedangkan lebarnya mencapai sembilan meter.
Proses pembangunannya memakan waktu selama delapan bulan dan memerlukan ketelitian dalam menentukan komponen kayu yang digunakan.

BACA JUGA :  Jadi Daerah Pariwisata Premium, Bupati Mabar Minta Masyarakat Jaga Kebersihan Wilayah Mabar

Pondok Kerja berbentuk Kapal ini dibangun menggunakan kayu jati sebagai bahan bakunya. Kayu jati yang digunakan berasal dari kebun-kebun jati milik masyarakat Bentang Alam Mbeliling yang telah tersertifikasi Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK).

“Peresmian Teras Flores juga menandai 15 tahun berjalannya program Burung Indonesia di Bentang Alam Mbeliling. Burung Indonesia meneguhkan komitmennya melanjutkan bekerja bersama masyarakat dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan untuk alam yang lestari dan masyarakat yang sejahtera ,” tandas Dian Agista.

Bupati Mabar  Resmikan Kapal Pondok Kerja Burung Indonesia
Tokoh adat Desa Cunca Lolos menyambut secara adat kedatangan Bapak Ir.Marten Ban, Asisten II Bupati Manggarai Barat meresmikan Kapal Pondok Kerja Burung Indonesia, Jumat (17/6/2022). Foto : Robert Perkasa

 

Bentang Alam Mbeliling dan Burung Indonesia

Bentang Alam Mbeliling seluas 94.000 hektar. Merupakan salah satu Daerah Penting bagi Keragaman Hayati (Key Biodiversity Area/KBA). KBA merupakan lokasi penting bagi keragaman hayati secara global.

Bentang Alam  Mbeliling terdiri dari kawasan hutan negara seluas 30.000 hektar dan lahan di luar kawasan hutan. Termasuk daerah agroforestri yang luasnya mencapai 35.000 hektar, sawah dan perkampungan.

Area ini merupakan habitat penting bagi flora dan fauna endemis maupun yang terancam punah secara global. Di dalamnya dapat ditemukan empat jenis burung endemis Flores, yakni kehicap flores (Symposiachrus sacerdotum), gagak flores (Corvus florensis), serindit flores (Loriculus flosculus), dan celepuk flores (Otus alfredi) dan 17 jenis burung berstatus terancam punah yang dua jenis di antaranya berada pada tingkat kritis, yakni elang flores (Nisaetus floris) dan kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea).

Untuk mewujudkan pengelolaan Bentang Alam Mbeliling yang terpadu, Burung Indonesia memfasilitasi pembentukan forum multipihak untuk memastikan berjalannya  prinsip-prinsip pengelolaan bentang alam yang disepakati bersama.  Forum multipihak yang dibentuk itu diberi nama Komite Mbeliling.

Forum tersebut bertanggung jawab untuk mengoordinasikan dan merekomendasikan program maupun produk kebijakan. Masyarakat yang tinggal di desa-desa di Bentang Alam Mbeliling merupakan pihak kunci dalam pengelolaan Bentang Alam Mbeliling.

BACA JUGA :  Bupati Mabar, Agustinus Ch. Dula Meresmikan Beroperasinya PLTD Unit Rinca

Burung Indonesia juga memfasilitasi pembentukan Forum Peduli Kawasan Mbeliling untuk mewakili kepentingan dan aspirasi masyarakat Mbeliling di hadapan para pihak lain. Masyarakat desa juga didorong untuk merumuskan kesepakatan tentang pengelolaan sumber daya penghidupan mereka melalui Kesepakatan Pelestarian Alam Desa (KPAD). KPAD telah disepakati di 26 desa; dibangun oleh warga masing-masing desa dan diketahui oleh pemerintah kabupaten Manggagai Barat. Sebagai tindak lanjutnya, telah difasilitasi penyusunan Rencana Tata Guna Lahan Desa yang hingga saat ini telah diselesaikan di 10 Desa.

Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau lebih dikenal sebagai Burung Indonesia didirikan pada 15 Juli 2002 sebagai organisasi konservasi nasional berbasis keanggotaan yang bertujuan untuk melestarikan seluruh jenis burung dan habitatnya di Indonesia, dan bekerja sama dengan masyarakat untuk mencapai pembangunan yang lestari.

Burung Indonesia tergabung dalam Kemitraan Global BirdLife International yang beranggotakan organisasi-organisasi konservasi di 118 negara.

Pada periode 1992-2002, organisasi ini dikenal sebagai BirdLife International-Indonesia Programme dengan fokus kerjanya mengidentifikasi Daerah Penting bagi Burung dan Keragaman Hayati (DPB/IBA) dan pengembangan berbagai kelompok pengamat burung. Pada periode ini, beberapa DPB berhasil didorong menjadi kawasan perlindungan.

Burung Indonesia bekerja melalui tiga pendekatan: konservasi pada tingkat tapak, pengelolaan bentang alam produktif secara lestari dan restorasi hutan alam produksi. Sampai saat ini, Burung Indonesia terus memfasilitasi peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan perlindungan. Meski demikian, menciptakan area yang aman bagi keragaman hayati sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat tidak semudah mengubah status kawasan menjadi kawasan perlindungan. Maka dari itu, Burung Indonesia mendorong pengelolaan kawasan hutan alam produksi melalui restorasi ekosistem. *(Robert Perkasa)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.