Destinasi Wisata Alam WATUMOTE: Batu Berkonde

*RD. Richardus Muga

218
Destinasi Wisata Alam WATUMOTE: Batu Berkonde
Romo Richard Muga (tengah baju kaos oblong warna biru topi hitam). Foto istimewa)

 

TERLETAK di wilayah desa Sarasedu I, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Di pinggir jalur jalan raya Ende-Bajawa, kilometer 102 dari Ende atau kilometer 25 dari Bajawa, di kampong Kurubuli, tidak jauh dari perbatasan Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada, ada sebuah batu eksotik. Warga setempat menyebutnya Watumote.

Watumote terdiri dari dua suku kata:watu yang berarti batu dan mote artinya konde. Watumote secara harafiah berarti batu berkonde.

Nama ini diberikan pada sebuah batu cukup besar dan tinggi dengan satu batu ukuran lebih kecil yang melekat di ubun-ubunnya.

Akan tetapi, sejatinya batu yang ada di lokasi itu bukan hanya satu batu tersebut tapi ada dua batu besar dan beberapa batu lebih kecil. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa di tempat tersebut ada “keluarga batu” yang terdiri dari dua batu relative lebih besar dan beberapa batu dengan ukuran lebih kecil di sekitar kedua batu besar itu.

Satu batu lebih tinggi berkonde dan diyakini sebagai batuwanita/perempuan, sebagai istri atau ibu; dan satu lagi tanpa konde dan tampak gempal dan besar, diyakini batu pria atau laki-laki, yang adalah suaminya atau ayah. Sedangkan beberapa batu berukuran lebih kecil adalah anak-anak. Batu-batu tersebut punya kisah menarik sebagai berikut.

Konon, berberapa kilometer ke arah selatanWatumote, di sekitar daerah yang namanya Keli, ada sebuah kampung. Para penghuni kampungnya hidup dari bertani ladang. Saban pagi mereka pergi ke kebun dan pulang di senja hari. Tidak jarang juga mereka tinggal agak lama di lading jika ada urusan penting seperti pada musim menanam atau jelang menuai.

Destinasi Wisata Alam WATUMOTE: Batu Berkonde
Romo Richard Muga (kiri, baju kaos oblong warna biru topi hitam). Foto istimewa)

 

Suatu hari, hampir semua penduduk berada di kebun. Di kampong hanya tinggal dua wanita yang sedang menyusui bayi. Adalah kebiasaan di kampong itu bahwa jika belum genap waktunya,ibu maupun bayi tidak diperbolehkan keluar rumah. Menjelang siang hari, ketika hendak memasak, salah seorang ibu sadar bahwa tidak ada api di rumahnya.

BACA JUGA :  Cofee For Rest, Sensasi Minum Kopi Sambil Menikmati Sunset di Borong

Tanpa api ia tidak dapat memasak makanan untuk makan siang bagi dirinya dan bayinya. Ia memanggil temannya di rumah yang lain dan bertanya apakah ia mempunyai api. Temannya menjawab bahwa ia punya api. Tapi persoalannya bagaimana membawa api kepada temannya. Mereka masih punya anak bayi. Mereka tidak boleh keluar rumah.

Ibu yang membutuhkan api menyampaikan satu ide cerdas. Dia bilang kepada temannya di rumah yang lain untuk memanggil anjingnya (die lako) dan mengikat sepotong sabut yang sudah disulut arang api di ekor anjing tersebut. Lalu,ibu yang membutuhkan api akan memanggil anjingnya itu. Terjadilah demikian. Dengan bantuan anjing, persoalan teratasi dengan baik. Semua berlangsung dengan tenang dan bahkan membanggakan.

Di sore hari ketika warga kampong pulang dari ladang, para ibu tadi menceritakan apa yang terjadi. Spontan kampong menjadi gaduh karena riuh-redah tertawa warga setelah mendengar cerita kedua ibu itu. Entahlah yang mereka tertawakan: Apakah ide brilian dari kedua ibu itu untuk saling berbagi api? Atau,menertawakan anjing sebagai pembawa api?

Dalam kegaduhan itu tiba-tiba alam murkah. Warga kampong dikejutkan oleh geliat binatang-binatang yang secara tiba-tiba melarikan diri menjauh dari gunung Keli yang berada dekat kampong mereka. Melihat dan menyadari keadaaan itu para tetua adat dan tokoh masyarakat memerintahkan warga kampong untuk segeramelarikan diri karena bencana akan segera dating dari gunung Keli. Semua warga kampong diingatkan untuk melarikan diri menjauh dari kampong dan tidak boleh menoleh kebelakang, ke arah kampong atau kearah gunung Keli, apapun yang terjadi.

Dengan segera semua warga kampong melarikan diri. Kecil besar, tua muda, semua menyingkir dan menjauhkan diri. Seiring dengan itu terjadi gemuruh bunyi yang sangat mengerikan di gunung Keli (wura: longsor yang hebat). Semua mereka ketakutan dan terus berlari menjauh dengan gemetar. Bunyi gemuruh terus berlangsung di gunung Keli. Semakin lama semakin menakutkan. Di antara para warga kampong yang sedang melarikan diri dalam ketakutan dan kegentaran, ada rasa ingin tahu untuk melihat apa yang terjadi di gunung Keli. Tapi peringatan keras dari para tokoh adat sebelum mereka meninggalkan kampong adalah hukum yang harus ditaati, jika tidak ingin terjadi malapetaka yang lebih hebat dan mengerikan.

BACA JUGA :  Pesona Sunrise Dari Beo Nara

Akan tetapi, ada satu keluarga yang tidak tahan bersabar untuk tidak menoleh ke kampung mereka. Ketika mendengar deru gemuruh bencana di gunung Keli yang semakin hebat dan menakutkan, mereka berhenti dan menoleh. Seketika saja mereka semua berubah rupa menjadi batu. Itulah kisah terjadinyaWatumote.***

 *RD. Richardus Muga berasal dari Desa Sarasedu I; saat ini adalah dosen di Program Studi Ekowisata Politeknik Cristo Re Maumere. Tulisan ini berdasar pada cerita lisan dari bapak Paulus Mite Bhoko dan bapak Benediktus Buku;dua tokoh adat sukuTangi Tura ApiLeza, sa’o Bhahuga, pada tanggal 01 Mei 2022; di kampong Kurubuli.

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.