Diabolisme Kaum Intelektual Dan Tanggung Jawab Peradaban

Oleh : Alvares Keupung**

76
makna puasa
Alvares Keupung

 

11 APRIL 2022, aksi mahasiswa – mahasiswi Ibu Kota di depan Gedung DPR RI. Mereka adalah kaum intelektual yang menuntut : menolak penundaan Pemilu 2024, menolak perpanjangan masa jabatan Presiden Indonesia menjadi 3 tahun dan menolak kenaikan BBM. Bagi saya secara pribadi, saya tidak punya kepentingan apa pun juga dengan aksi kaum intelektual Ibu Kota ini. Soal penundaan Pemilu 2024, perpanjangan masa jabatan Presiden Indonesia dan menolak kenaikan BBM bukan ranahnya saya, karena ada yang lebih berhak untuk berdiskusi dan memutuskan secara politis di gedung yang terhormat, Gedung DPR RI. Saya hanya punya satu kegelisahan atas perlakuan ketidakberadaban verbal yang dibangun kaum intelektual melalui poster – poster yang digelar dengan bahasa – bahasa yang sangat barbaris, fulgar dan sarkais, serta beredar viral di media sisial. Maaf, saya sebut beberapa contoh : “Lebih baik bercinta 3 ronde, daripada harus 3 periode”, “Mending 3 ronde di ranjang, daripada 3 periode”, “Daripada BBM naik, mending ayang yang naiki”.

Ketidakberadaban verbal yang dilakoni kaum intelektual Ibu Kota ini ( mahasiswa – mahasiswi ), dinamakan “Diabolisme”. Diabolisme berarti pemikiran, watak dan perilaku a la iblis atau pengabdi iblis. Diabolisme juga berarti menegasikan kepatuhan dan ketundukan, kesediaan dan kemauan untuk merendah, turut dan melaksanakan kebaikan – kebaikan Tuhan ( Bdk. Dr. Syamsudin Arif, Diabolisme Intelektual ). Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa “Diabolisme Kaum Intelektual” sebagai “anomali” pemikiran, watak, tutur kata, perilaku kaum intelektual (mahasiswa – mahasiswi “metropolitan”) yang menyimpang dari kebenaran dan kebijaksanaan. Artinya, dalam dirinya, para kaum intelektual tahu bahwa pemikiran, watak, tutur kata dan perilaku yang barbaris, fulgar dan sarkais adalah benar – benar salah, tetapi demi mempertahankan kehendak dan opini liar, mereka tidak berhamba pada kebenaran dan kebijaksanaan, melainkan berhamba pada kesesatan. Pada hal yang lain, kaum intektual yang diabolis menempatkan kebenaran dan kebijaksanaan sebagai yang relativ karena arogansinya, bukan kebenaran dan kebijaksanaan mutlak yang diusungnya. Perlu dibuat suatu gugatan, entahkah intelektualitas mahasiswa – mahasiswi “metropolitan” ini sudah berhamba pada diabolisme yang mendekstruksi peradabannya ? Jika saja pertanyaan ini lebih merujuk kepada esensi predikat mahasiswa sebagai kaum intelektual, maka, mahasiswa mesti menunjukkan kemahaannya yang lebih tinggi pendidikannya melalui pola pikir, pola ucap dan pola lakunya dalam kerangka kebenaran dan kebijaksanaan.

BACA JUGA :  Obat Tradisional, Kelas Dua Kah?

Bukan hal yang langka dan baru di Republik ini, para kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) berdemonstrasi. Demonstrasi itu penting sebagai bentuk ekspresi demokrasi untuk menyampaikan aspirasi. Apa yang ditampilkan dalam aksi 11 April 2022, jika dilihat dari sisi demokrasi adalah baik menurut dan dijamin konstitusi, sejauh dia baik demi menyampaikan pendapat dan aspirasi di muka umum dalam kerangka kebenaran dan kebijaksanaan. Maka, dia bonum (kebaikan) bukan malum (keburukan). Faktanya, gerakkan 11 April 2022 yang dilakukan kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) Ibu Kota, cenderung barbaris, fulgar dan sarkais, diliputi ujaran kebencian ( “Lebih baik bercinta 3 ronde, daripada harus 3 periode”, “Mending 3 ronde di ranjang, daripada 3 periode”, “Daripada BBM naik, mending ayang yang naiki”). Jenis ini, malum (keburukan). Anselmus D. Atasoge, Staf Pengajar Pada Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka/Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengkategorikan dua macam ujaran kebencian : “Pertama, Hate Speech, yakni sebuah ujaran yang dengan sengaja, sistematis dan dibuat masif ditargetkan kepada pihak tertentu. Biasanya, ujaran kebencian dilakukan olen mayoritas kepada minoritas. Kedua, Hate Spin yakni kebencian diproduksi oleh seseorang atau sekelompok orang sedemikian rupa untuk mendiskreditkan orang atau sekelompok orang”( Ujaran Kebencian, Kohesi Sosial, dan Pluralisme Kewargaan (Sisip Gagas untuk KAICIID) ). Apa yang dikategorikan, secara terang benderang telah ditampilkan kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) Ibu Kota pada aksi 11 April 2022.

Aksi barbaris, fulgar, sarkais disertai ujaran kebencian, dalam konteks pendidikan, ajaran keagamaan dan kebudayaan mana pun, tidak pernah dibenarkan. Aksi demikian, dinamakan : Fallacia ( Latin : kesesatan ). Fallacia sebagai sebuah kecenderungan untuk senantiasa membenarkan kesesatan yang menolak kebenaraan dan kebijaksanaan, berhamba pada yang malum, mengidolatria manipulasi kebenaran demi melegalkan dan melanggengkan kehendak – kehendak liar. Pada aksi 11 April 2022 oleh kaum intelektual (mahasiswa – mahasiswi) Ibu Kota dengan ketidakberadaban verbal yang “dipertontonkannya”, jelas merupakan fallacia. Dampaknya, kesesatan – kesesatan kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) Ibu Kota, dapat memicu disharmoni hidup bersama, sebab kelompok ini sedang berhamba pada kehendak “diaboli” ( setan, baca : kehendak liar ). Kebenaran dan kebijaksanaan didestruksi sedemikian rupa dan sedemikian cara, sehingga diyakini benar dan bijaksana seturut konsep dan pemahaman naluri keliarannya. “Lebih baik bercinta 3 ronde, daripada harus 3 periode”, “Mending 3 ronde di ranjang, daripada 3 periode”, “Daripada BBM naik, mending ayang yang naiki”, terproyeksi sebagai “Diabolisme Kaum Intelektual” yang berafiliasi dalam aksi 11 April 2022 dan terlahir dari hati dan pikiran yang liar.

BACA JUGA :  Mari Omong - Omong Soal Minyak Goreng (Tentang Langkanya Minyak Goreng Sawit Dan Peluang Minyak Goreng Lokal)

Sampai di sini, pertanyaannya : sudah sebegitu murahkah peradaban di mata kaum intelektual yang berafiliasi dalam aksi 11 April 2022 itu ? Di manakah peradabannya ?

Mesti disadari, kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) dipanggil untuk menjawabi tugas menegakkan kebenaran dan kebijaksanaan. Dengan demikian, dia tidak terbatas pada hal – hal akademik ( pengetahuan ), tetapi juga kepada sikap, hati dan pikiran yang baik. Kesadaran akan panggilan yang demikian, setidaknya dapat membentuk dan menolong kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) keluar dari sikap berhamba pada “diabolisme” dan menghantarnya kepada karakter yang terintegrasi ke dalam nilai kebenaran dan kebijaksanaan. Protipe seperti inilah yang diharapkan dari kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) untuk
memberikan “iklim” yang kondusif bagi peradaban. Saya meyakini benar, bahwa dengan kompetensi diri sebagai kaum intelektual ( yang berpikir, bertutur dan bersikap seturut kebenaran dan kebijaksanaan ), mahasiswa – mahasiswi menjadi garda terdepan terbangunnya peradaban yang baik. Bukan tidak mungkin, sampai kapan pun peradaban senantiasa menjadi yang ideal untuk membangun dan merawat martabat Bangsa Indonesia.

Bertitik pijak pada kebenaran dan kebijaksanaan, harapannya kaum intelektual ( mahasiswa – mahasuswi ) mesti mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap peradaban bangsa. Maka, mula – mula peradaban harus dimulai dari kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ). Kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) yang berhamba pada kebenaran ( Veritas ) dan kebijaksanaan ( Sophia ) selalu dibenarkan, tetapi berhamba pada “Diabolisme” selalu mendapat penolakan. Inilah letak tanggung jawab kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi ) terhadap peradaban bangsa. Sebab, kaum intelektual ( mahasiswa – mahasiswi adalah “hamba” dari kebenaran dan kebijaksanaan.

**(Penulis adalah warga Lela diaspora. Tinggal di Ende).

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.