Dosen Berjihad dan Beritjihad Bersama BRIN Demi Indonesia

Oleh Hendrikus Maku, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

339
Dosen Berjihad dan Beritjihad Bersama BRIN Demi Indonesia
Penulis / Hendrikus Maku (Foto: istimewa)

 

EKSPEKTASI yang besar dari para pihak kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah pantas dan benar. Lembaga penelitian yang didirikan berdasarkan Perpres No. 78 Tahun 2021 tentang BRIN berhaluan ideologi Pancasila, 24 Oktober 2021, diharapkan bisa berkontribusi dalam memajukan Indonesia dengan riset dan inovasi, mulai dari tingkat nasional sampai ke tingkat lokal. Harapan-harapan seperti itu sangat realistis, mengingat eksistensi BRIN yang disuport secara penuh oleh negara telah menjelma menjadi “super body” atau “super government agency with overarching rule” – badan super pemerintah dengan jangkauan dan cakupan kekuasaan yang luas. Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, pada kesempatan webinar bersama BRIN (25/05/2022) mengatakan, riset yang dilakukan oleh lembaga selevel BRIN tidak boleh terbatas hanya pada hal-hal mikro, tetapi sebaliknya, BRIN mesti bisa menjangkau hal-hal makro, menyediakan sebuah sistem kerja yang spesifik dan berkualitas. Menurut Fathurahman, “BRIN bukanlah sebuah batang lidi, tetapi sebuah sapu lidi”.

Metafora, BRIN bukanlah sebuah batang lidi tetapi sebuah sapu lidi, merujuk kepada kebijakan baru yang dituangkan dalam Perpres No. 33 tahun 2021, bahwa beberapa Lembaga Penelitian Non Kementrian (LPNK) seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) disatukan di dalam satu “rumah besar” bernama BRIN. Menurut Azyumardi Azra, BRIN tidak hanya mengintegrasikan seluruh LPNK, tetapi juga 228 Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian atau Kelembagaan (K/L) milik pemerintah, 329 Balitbang non-K/L, dan 34 BRIDA (Daerah). Penyatuan dari sekian banyak Organisasi Riset (OR) tersebut, bagi Azra, justru tidak mendukung efektivitas kerja dari BRIN sebagai sapu lidi, tetapi sebaliknya, BRIN hampir pasti akan menjadi seperti “gajah kegemukan” yang bisa sangat susah bergerak (baca: Republika, 11/11/2021).

BACA JUGA :  Kokak si Tukang "Joak"

Mencermati kedua ekstremitas pandangan di atas, para dosen yang diberikan amanah oleh negara mesti membuat sebuah autokritik. Apakah para dosen telah melaksanakan tugasnya sesuai ekspektasi negara? Negara, melalui Undang-undang No. 12, Tahun 2012, tentang Pendidikan Tinggi mewajibkan para dosen untuk melaksanakan tridarma perguruan tinggi yaitu melakukan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dari ketiga poin tersebut, “penelitian” sering kali menjadi sorotan.

Data yang terekam dalam Scimago Journal and Country Rank tahun 2015, tentang kualitas dan kuantitas produk penelitian dari para dosen, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-49 untuk skala global dan peringkat ke-11 untuk wilayah Asia (baca Alwiyah dkk “Persepsi Dosen terhadap Penelitian”, dalam Proseding Call for Paper, Universitas Wiraraja Sumenep, 2016). Kondisi tersebut tidak bakal berubah, dan bahkan menjadi lebih buruk pascapandemi COVID-19. Anggaran untuk riset dari Pemerintah Indonesia, sebagaimana dilaporkan oleh UNESCO masih sangat rendah, hanya 0,1 persen dari Pendapatan Domestik Bruto pada tahun 2021. Angka tersebut relatif lebih kecil dibandingkan dengan data dari beberapa negara tetangga, yakni 0,5 persen di Thailand, 1,3 persen di Malaysia, dan 2,1 persen di Singapura. Kompleksitas krisis selama masa pandemi, memaksa pemerintah untuk menggeser sebagian anggaran dan prioritas riset (baca The Conversation, 27/05/2022).
Dosen yang cerdas selalu memiliki gagasan untuk mengatasi masalah ketimbang mencari alasan untuk menjustifikasi persoalan.

Fakta yang diungkapkan oleh Scimago Journal and Country Rank memanggil para dosen untuk berjihad (berjuang) dan beritjihad (berpikir) secara lebih kreatif, inovatif, dan produktif. Betapa pun banyaknya sumber daya yang dimiliki BRIN, dia tetap memberikan ruang bagi stakeholder yang lain untuk bersama-sama berjihad dan beritjihad dalam merealisasikan visinya, yakni mewujudkan pelayanan informasi publik yang akuntabel, efisien, dan efektif. Para dosen bersama BRIN pada galibnya menjadi “rahim” yang tiada henti (timeless) menghasilkan ilmu pengetahuan (knowledge production).

BACA JUGA :  Catatan Awal Tahun Ketua MPR RI: Fokus Pada Stabilisasi Harga Sembako         

Ada banyak jalan menuju Mekkah, ada banyak metode untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Dari sekian banyak metode, satu yang unik dan menarik adalah metode filologis. Filologi dimengerti sebagai investigasi ilmiah atas teks-teks tertulis (tangan) atau manuskrip, dengan menelusuri sumbernya, keabsahan teksnya, karakteristiknya, serta sejarah lahir dan penyebarannya. Konon ada ungkapan, carilah ilmu sampai ke negeri Cina. Ungkapan tersebut tidak lagi relevan untuk para filolog yang tekun mengkaji naskah-naskah Nusantara. Para filolog berpandangan bahwa naskah Nusantara merupakan produk tradisi yang melibatkan berbagai keterampilan dan sikap budaya – naskah mengandung kekayaan informasi yang berlimpah dan bahwa isi naskah tidak terbatas pada kesusastraan tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, adat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain (baca, Henri C. Loir dan Oman Fathurahman, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia, Jakarta: Obor, 1999). Kendati demikian, dalam beberapa kesempatan webinar, masih saja ada para pihak yang meragukan urgensitas dari kajian filologi, khususnya di era disrupsi.

Merespons keraguan terhadap filologi, penulis berpandangan bahwa manuskrip adalah sebuah titik tolak dalam menatap masa depan dan merawat masa silam. Sebagai bagian dari sejarah, manuskrip bisa dimaknai sebagai sebuah jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini, dan serentak sebagai penunjuk arah perubahan ke masa depan. Khazanah intelektual yang terekam di dalam manuskrip memiliki beberapa manfaat yakni edukatif, instruktif, dan inspiratif. Disrupsi yang meniscayakan perbedaan (berpikir dan bertindak) tidak akan mengubah kondrat manusia sebagai makhluk historis yang meniscayakan tiga dimensi waktu, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Filologi adalah “jendela”, dari mana kita bisa membaca dan memahami realitas kekinian dengan merujuk kepada khazanah intelektual yang tersembunyi di balik tumpukan manuskrip yang diwariskan oleh generasi terdahulu, dan serentak dari sana kita menemukan kompas untuk melihat arah perubahan di masa depan. Jadi, filologi adalah salah satu ilmu yang akan selalu relevan, dia adalah medan alternatif, di mana para dosen bisa berjihad dan beritjihad bersama BRIN demi Indonesia.***

BACA JUGA :  Tolak Rencana Pabrik Semen & Tambang Gamping di Manggarai Timur-NTT

(Email: abunahendrik@gmail.com)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.