Estetika Caci dan Ekofeminisme

Oleh: Charles Jama (Dosen Seni Universitas Nusa Cendana)

546
Estetika Caci dan Ekofeminisme
Penulis Charles Jama. Foto: Istimewa

 

Caci: Masterpeace Seni Etnik Manggarai


ESTETIKA Caci adalah masterpiece seni pertunjukan etnik Manggarai. Estetika ini menjadi gambaran dunia estetik masyarakatnya. Segala pengetahuan tentang dunia estetik etnik Manggarai dikemas dalam satu pertunjukan Caci. Estetika pertunjukan Caci menampilkan unsur teater, sastra puitik, musik, seni gerak dan seni kostum. Estetika Caci bukan seni tari seperti yang selama ini dipahami dan didefinisikan. Dalam Estetika Caci terdapat unsur seni gerak, dan unsur seni gerak ini belum sampai pada pendefinisian Caci sebagai tarian.

Unsur-unsur seni ini diramu menjadi satu kesatuan utuh dalam menampilkan kemampuan memukul dan menangkis lawan.

Caci adalah ruang laki-laki. Karena itu Caci hanya diperankan oleh laki-laki untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengolah rasa estetik. Menariknya, meskipun estetika ini menunjukkan unsur kekerasan, akan tetapi kekerasan itu sendiri dilarang dalam pertunjukan Caci.

Yang ditekankan dalam seni pertunjukan Caci adalah harmonisasi dan estetikanya. Melalui kemampuan ini, pemain Caci memanfaatkan panggung estetika Caci untuk menarik simpatik para gadis. Akan tetapi terdapat paradox, bahwa perempuan tidak masuk pada ruang panggung laki.

Sekadar refleksi kritis, pertunjukan Caci saat ini telah bercampur aduk antar ruang laki-laki dan ruang perempuan. Misalnya saat pukulan penghormatan sebagai tanda dimulainya pertunjukan Caci. Estetika otentiknya, pukulan ini hanya dilakukan oleh tetua adat atau figur tertentu yang dianggap layak untuk melakukannya. Bukan seorang perempuan, meskipun memiliki jabatan tertentu. Ruang perempuan dalam panggung pertunjukan Caci adalah pada ruang musik yaitu, sebagai penabuh gong atau gendang; sebagai penyanyi dalam kelompok danding (tarian khas Manggarai).

Estetika Ekofeminisme: Menyoal Kostum Caci Putri Indonesia NTT 2022

Estetika membicarakan persoalan mendalam tentang sebuah karya seni. Pertanyaan penting tentang persoalan karya seni adalah apakah sebuah karya seni dikatakan indah karena bersumber dari karya seni itu sendiri atau sifatnya subjektif yang diungkapkan oleh penikmatnya? Pertanyaan pokok ini dapat dipertemukan dalam ruang dialogis.

BACA JUGA :  MacIntyre dan Etika Keutamaan

Sebagai sebuah karya seni yang telah hadir dalam ruang publik seni, estetika Caci perlu didialogkan. Ruang yang dimungkinkan untuk didialogkan adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam pertunjukannya beserta elemen-elemen pendukung lain yang mengerubuti estetika ini.

Melalui dialog, pelestarian dan ruang-ruang kreatif baru ditemukan. Tujuannya adalah semua bentuk kreatifitas yang terinspirasi dari estetika Caci mempertahankan nilai filosofinya. Salah satu ruang diskusi yang dimungkinkan adalah estetika ekofeminisme. Estetika ekofeminisme adalah estetika yang membahas karya seni yang terinspirasi dari alam dan pergerakan kaum perempuan.

Dalam pertunjukan Caci, kostum merupakan karya atau artefak yang berhubungan ekofeminisme. Seni kostum ini telah menagalami perubahan dan dinamikanya.

Era tahun 2000an ke bawah, kostum yang digunakan masih mempertahankan nilai filosofi dan fungsinya. Era di atas tahun 2000-an kostum estetika Caci lebih bervariatif, namun mulai meninggalkan nilai filosofinya. Contoh, panjang sarung yang dipakai dalam pertunjukan Caci adalah dari pinggang hingga lima jari (baka/moso) di bawah lutut. Saat ini banyak pemain Caci mengenakan sarung yang panjangnya hanya sampai di atas lutut.

Sarung berfungsi menutup bagian tubuh yang tidak boleh dipukul. Alasan praktisnya adalah bagian tubuh pinggang ke bawah merupakan bagian yang lemah. Karena itu harus dilindungi dan dilarang untuk dipukul. Alasan filosofisnya adalah, bagian ini dimitologikan sebagai sesuatu yang murni dalam pertunjukan Caci. Mitologi ini berkaitan erat dengan dunia ekofeminisme. Artinya, pertunjukan Caci menganut paradigma estetika dan etika ekofeminisme.

Satu pekan terakhir ini, masyarakat etnik Manggarai ramai mempersoalkan kostum yang dikenakan oleh Putri Indonesia NTT 2022 dalam acara “Malam Bakat dan Fashion Show Indonesia Berbasis Budaya” di mall Gandaria City, Jakarta. Dalam penggalan video berdurasi satu menit itu, terlihat dengan jelas kostum yang dikenakan adalah kostum pertunjukan Caci. Ia mengenakan pelindung kepala (panggal), dan asesoris yang menghiasi pinggang menyerupai slepe dan slendang. Di tangannya ia memegang perisai (nggiling) dan cemeti (larik). Aksi yang dieskpreiskan hampir menyerupai seorang pemain Caci. Narasi yang diucapkan oleh komentator jelas menyebut tarian Caci. Hal ini diperkuat oleh penyampaian tentang filosofi Caci yaitu pertobatan.

BACA JUGA :  Petani Kopi

Filosofi yang diangkat dalam narasi video singkat itu, berkaitan dengan estetika ekofemisme. Estetika ekofenisme adalah estetika tentang karya dan peran perempuan dalam menjaga kelestarian alam. Tentang perempuan yang menjaga kemurnian alam dan melindungi alam dari segala bentuk eksploitasi dan kuasa patriarki.

Seni pertunjukan Caci adalah bagian dari estetika ekofeminisme. Instrument yang menegaskan bahwa seni pertunjukan Caci menganut paradigma estetika ekofeminisme yaitu pemurnian, perisai (nggiling), syair dalam nyanyian dan paci.

Caci mengutamakan pemurnian. Pemurrnian itu diperoleh melalui pertobatan. Seorang pemain Caci yang telah menikah, dalam rangka pertunjukan Caci tidak boleh melecehkan istrinya. Melihat perempuan yang sedang mandi pun tidak boleh. Seorang pemain Caci harus mampu mengendalikan dirinya agar tidak terperangkap dalam kemuraman baik pikiran maupun perbuatan.

Dalam hubungannya dengan desain kostum Caci putri Indonesia NTT 2022, filosofi yang dinarasikan tidak sesuai dengan realitas yang ditampilkan. Desain kostum keluar dari pakem kostum estetika Caci yang sebenarnya. Bagian pinggang ke bawah yang harus ditutupi malah dibuka dan memperlihatkan sensualitas. Disinilah letak tubuh perempuan mengeskploitasi tubuhnya sendiri.

Aksi fashion yang diperagakan oleh putri Indonesia NTT 2022 sepantasnya menunjukkan karakteristik estetika ekofeminisme dari seni pertunjukan Caci. Menutup bagian pinggang ke bawah sebagai representasi pertobatan dan menjaga kemurnian alam agar dijauhkan dari eksploitasi. Tugasnya adalah mengkampanyekan peran perempuan dalam menjaga kelestarian alam.

Perisai (nggiling) merupakan symbol ibu bumi. Pemain Caci yang memahami peran nggiling dan nilai filosofinya memperlakukannya dengan baik. Pada saat menyerahkan dan menerima perisai, pemain Caci berlutut sebagai tanda hormat kepada ibu bumi. Tujuannya adalah agar selamat dari serangan yang mematikan.

Pada adegan fashion show, perisai sebagimana dalam estetika ekofeminisme. Ia memainkan perisai pada area bagian bawah. Padahal dalam pertunjukan Caci, nggiling ditempatkan setara dan pada bagian atas tubuh untuk melindungi diri.

BACA JUGA :  Cegah dan Berantas Perburuan & Penyelundupan Burung asal Flores, NTT

Tidak dapat dipungkiri, pemain Caci masa kini juga melakukan bias terhadap peran nggiling dalam melindungi tubuh. Misalnya cara menangkis, pemain Caci menggunakan “taang gaya” istilah gaya menangkis masa kini. Dalam tradisinya, cara menagkis ada dua yaitu cara tertutup (taang tolo) dan cara terbuka (taang raga).

Ketiga, nyanyian dan pekikikan (paci). Nyanyian yang dilantunkan oleh pemain Caci menampilkan syair tentang estetika ekofeminisme. Demikian juga paci yang dipekikkan mengekspresikan estetika ekofeminisme. “Lambu koe toe..ko toe..ko toe laku mbarum enu e..
Labar ko toe..ko toe..laku natas’m enu e”. Syair lagu ini berisi tentang seorang pemain Caci yang berkeinginan untuk mengunjungi dan bermain di rumah dan halaman kampung. Syair (goet) lagu ini adalah metafora tentang ruang ekofeminisme. Ruang yang memberi kehidupan bagi alam semesta. ***

kominfo iklan
1 Comment
  1. John Hagun says

    SalutKaee..👍🤝🌹☕📖

Leave A Reply

Your email address will not be published.