kominfo iklan

Estetika Mitologi Komodo

Oleh: Charles Jama, Dosen Seni Universitas Nusa Cendana

261
Estetika Caci dan Legalitas Tanah Ulayat
Penulis / Charles Jama. (Foto istimewa)

 

KEPUTUSAN menaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo (TNK) dan pulau di sekitarnya menyita perhatian kita. Berbagai diskusi lepas maupun resmi melontar berbagai pandangan setuju dan menolak. Yang tidak setuju melakukan aksi penolakan. Akasi penolakan yang dramatis itu mendapat tindakan represif pemerintah melalui aparat. Sejumlah pendemo ditahan, tidak sedikit para pendemo terluka.

Mirisnya, aksi memungut sampah yang dilakukan oleh pelaku pariwisata ditindak oleh aparat kepolisian. Dalam video yang diposting pada sosial media Facebook, terlihat aparat kepolisian memukul peserta aksi. Predikat sebagai destinasi wisata premium ternoda oleh tindakan kekerasan aparat yang seharusnya ramah. Niat baik pegiat pariwisata dalam membersihkan sampah di kota pariwisata premium itu ternegasi. Terlebih karena tekanan tersebut mencoreng sisi kemanusiaan.

Naiknya Tarif Masuk Taman Nasional Komodo: Melukai Saudara Kembar Komodo
Verheijen (1987) seorang filolog menulis kisah tentang “Ndadi-ne Kiling Modo” (Terjadinya Desa Komodo). “…Maka terjadi pada suatu hari dua anak dilahirkan. Satu yang hidup adalah ora (varanus), yang lain itu manusia. Buat manusia itu ibu (dari ayahnya) memeliharanya. Yang manusia itu haya dihiraukannya, ia dipiara baik-baik olehnya. Ora itu tidak dipiara. Maka ora itu pergi ke hutan. Adapun diberi nama oleh ibunya, ibu piaranya; ia namakan dia Si Sebelah (namanya)…”.

Penggalan kisah di atas sengaja saya kutip langsung dari buku yang ditulis oleh Verheijen berjudul “Pulau Komodo: tanah, rakyat, dan bahasanya” dengan maksud mengingatkan kembali cerita tentang asal muasal Komodo kepada kita.

Cerita di atas adalah sepenggal kisah hidup awal komodo dan manusia yang telah mengakar dalam masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya. Cerita ini bukan dibuat-buat, apalagi hanya untuk menarik minat dan perhatian wisatawan. Cerita ini adalah sebuah mitologi masa lalu. Cerita untuk mengingatkan kembali pewarisnya untuk secara harmonis hidup berdampingan dengan komodo.

BACA JUGA :  Estetika Caci: Apakah Sebagai Tarian atau Pertunjukan?

Sebagai seorang peneliti dan filolog, Verheijen tentu memiliki pandangan yang kritis terhadap cerita ini. Pertanyaannya, untuk apa ia memasukan cerita mitologi tentang komodo dalam bukunya?

Saya berpikir, cerita itu dimasukan tidak sekadar untuk melengkapi lembaran penelitiannya, akan tetapi memiliki maksud dan pendasaran yang logis mengangkat cerita di atas. Mengingat sebagai seorang yang berlatar belakang budaya barat, tentu ia memiliki rasionalitas yang kuat dan tidak mudah percaya dengan cerita itu.

Barangkali alasan sederhananya adalah dikemudian hari mitologi ini bermanfaat bagi penerusnya dan dapat dibaca kembali oleh pemiliknya. Mitologi ini dapat dimaknai ulang sesuai konteks yang terjadi dimasa datang.
Jika apa yang saya tafsirkan sama dengan Verheijen, alasan ini mendasar dengan dikaitkan pada persoalan tarif masuk Taman Nasional Komodo. Kenaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo adalah momen yang tepat untuk membaca kembali mitologi ini.

Naiknya tarif masuk Taman Nasional Komodo memanggil kembali mitologi ini dari ingatan pewarisnya, namun dalam kisah yang berbeda. Mitologinya telah didekonstruksi oleh kepentingan kapitalis. Realitasnya sekarang komodo lah yang dijadikan sentral dan diperhatikan. Sementara manusianya terkesan diabaikan atau terpinggirkan.

Mitologi baru sedang ditulis dalam versi rasionalitas modern. Bahwa untuk alasan menjaga populasi komodo dan keseimbangan alam, dilakukan pembatasan jumlah orang masuk wilayah taman nasional komodo. Bahasa awamnya, supaya tidak banyak orang ke sana, caranya adalah dengan menaikan tarif masuk. Cerita itu diperkuat dengan rasionalitas modern yang didasari pada riset, agar habitat komodo tetap terjaga, penting untuk mengontrol kehadiran manusia di sana. Padahal dalam realitas yang dialami penduduk lokal, komodo harus hidup bersama manusia (baca: kembarannya).

obor ormas

Hal ini berbeda dengan cerita aslinya yang melihat komodo dan manusia hidup berdampingan. Meskipun dalam kisahnya, komodo tidak dirawat sehingga ia pergi ke hutan. Mitologi tradisi tentang komodo dan rasionalitas modern memiliki jalan pikir berbeda. Mitologi tradisi mempertimbangkan keseimbangan dan harmonisasi. Manusia dan komodo hidup bersama di sana. Sementara, rasionalitas modern, kehadiran manusia dapat mengganggu habitatnya. Terutama bagi mereka yang uangnya tidak cukup.

BACA JUGA :  Jangan Jadi Dekonstruktor Pendidikan Nilai Kebenaran

Begitulah rasionalitas modern. Meyebabkan sulitnya masyarakat lokal untuk menjenguk saudara kembarnya. Bisa dibayangkan betapa lukanya saudara yang dipisahkan, karena yang satu dieksploitasi dan satunya lagi karena keterbatasan uang tidak bisa menjenguk saudara kembarnya.
Termasuk nasib para pekerja atau pegiat pariwisata yang setelah sekian lama menghidupi aktivitas pariwisata di Labuan bajo. Mereka sangat berdampak dari kenaikan tarif ini.

Mitos Tradisi vs Mitos Modern

Pembacaan ulang terhadap mitologi tradisi selalu kontekstual dengan masyarakat modern. Kontekstual karena fungsinya dapat mengoreksi perilaku manusia modern. Prinsip mitologi tradisional adalah menjaga tatanan nilai yang hidup dalam masyarakat tradisi. Sekaligus sebagai cara menjelaskan gejala alam atau kehidupan di sekitarnya kepada masyarakat tradisi. Mitos tradisi merupakan kata yang murni dan tak bercela. Ia menjadi ruang simbolik dan irisan terdalam eksistensi masyarakat tradisi.

Masyarakat modern memiliki mitosnya. Salah satu mitos yang dimiliki masyarakat modern adalah gaya hidup. Rasanya belum menjadi bagian dari masyarakat modern kalau belum ke mall, berbelanja di supermarket, berlibur dan mengunjungi tempat wisata.
Mitos dalam pemerintahan misalnya, berwibawa kalau masyarakatnya takut. Pemimpinya dianggap berhasil, misalnya mampu menaikan tarif masuk ke Taman Nasional Komodo. Singkatnya, mitos masyarakat modern dibangun melalui wacana.

Dalam pemerintahan, kekuasaan dijadikan mitos. Untuk menguatkan mitos ini tindakan represif aparat digunakan. Hal ini dialami oleh peserta aksi yang melakukan penolakan naiknya tarif masuk Taman Nasional Komodo. Pemerintah melalui aparat menjaga wibawanya dengan melakukan tindakan kekerasan. Hal ini untuk menunjukan kekuatan mitos modern, bersamaan itu melukai mitos tradisi. Manusia sebagai kembaran Komodo disakiti.

Itulah bedanya mitologi modern dan mitologi tradisi. Mitologi tradisi berupaya menjaga harmonisasi antara manusia dan lingkungan alamnya. Sementara mitologi modern berupaya menghegemoni massa untuk mendapatkan keuntungan.

BACA JUGA :  Shio Tikus-Pandemi Covid-19 – Shio Kerbau, Pelajaran untuk Hidup

Piliang (2018) menjelaskan mitos adalah sebuah distorsi, deformasi, atau sebuah topeng. Menaikan tarif masuk TNK adalah cara menjauhkan masyarakat lokal dari Komodo. Dengan demikian hal ini bagian dari mendeformasi mitos tradisi yang selama ini diyakini oleh masyarakat lokal. Komodo adalah bagian dari manusia, habitatnya tetap terjaga meskipun manusia selalu hadir di sana.

Apapun alasan untuk menjaga habitat Komodo dan berbagai alasan lain adalah sebuah propaganda yang patut dicurigai. Sebab mitos modern bermain melalui wacana, hal ini untuk membentuk keadaan keberterimaan dalam masyarakat. Termasuk melalui wacana riset yang telah dilakukan.
Saat massa menerimanya, dengan sendirinya menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai tempat yang eksklusif.

Keadaan demikian itu menggugurkan mitos tradisi. Mitos tradisi yang tujuannya untuk menjaga tatanan dan keutuhan serta kepercayaan masyarakat dipertentangkan dengan rasionalitas pengetahuan modern (mitos modern).

Padahal, Sekuat apapun rasionalitas riset yang telah dilakukan, etiknya, masyarakat lokal tidak boleh dijauhkan dari Komodo (baca: wisatawan lokall). Sekian lama masyarakat hidup dalam mitos yang telah diwariskan. Mereka percaya bahwa komodo adalah bagian dari diri mereka.***

knpi
hanura
2 Comments
  1. Soni says

    Ulasan ini perlu diapresiasi dan dipublikasikan agar menjadi rujukan reflektif setiap pemangku kepentingan..

  2. Agus says

    Terimakasih masukannya. Analisis yg bagus dan akan dijadikan refferensi untukbersama membuka duskusi² agar semua obkek wisata perlu memperhatikan kearifan lokal. Salam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.