Hidupkan Majalah Dinding Di Sekolah

Oleh: Fransiskus Ndejeng

80
Menghidupkan kembali majalah dinding
Penulis, pegiat Literasi Manggarai Barat, tinggal di jln.  Soehadun, menuju Bandara Komodo,  Labuan Bajo, RT/RW . 001/001, Kelurahan Waekekambu, Kecamatan Komodo

Majalah dinding di sekolah adalah  sebuah wadah dan media komunikasi literasi di semua lembaga pendidikan di seluruh negeri tercinta, Indonesia. Dari majalah dinding dapat membiasakan diri peserta didik untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuan berliterasi. Bisa menulis opini, kronik, artikel ilmiah, menulis  kritik, menulis esay, menulis puisi, menulis berbau sastra, cerpen, dan lain sebagainya.

Mengapa ?

Majalah dinding di sekolah adalah majalah yang diterbitkan dan dikelola oleh sekolah. Keberadaan majalah di sekolah baik majalah cetak( buletin) maupun majalah dinding  di sekolah sangatlah penting sebagai media penampung karya siswa sekaligus sebagai media komunikasi. Majalah dinding di sekolah bersifat informatif, edukatif, dan rekreatif.

Manfaat dari pemilihan majalah dinding di sekolah, berupa majalah kelas, dan majalah sekolah, serta buletin sekolah; selain untuk menunjang keterampilan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Masih banyak manfaat lainnya, bagi para siswa dan guru, di sekolah ; yaitu sebagai berikut.

Pertama, sebagai media untuk menyalurkan potensi menulis. Dari data yang dihimpun dari hasil PISA( Programme for International Student Assessment), pada tahun 2018, yang dirilis bulan Maret 2021, tingkat literasi anak Indonesia dibidang Membaca, Matematika dan Sains, “masih rendah”, dilaporkan oleh Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud, Totok Suryanto. Hasilnya, kemampuan  literasi rendah ( 70%),  Kompetensi Minimum dalam membaca, kemampuan dalam bidang matematika  (71%), dan bidang sains (60%). Jadi, kemampuan literasi anak Indonesia berada pada level(rendah), artinya hanya mampu memahami teks tertulis saja. Tingkat hafalan saja. “Belum mampu berpikir tingkat tinggi. Namun, untuk literasi DKI Jakarta dan Yogyakarta berada di atas Nasional.

Kedua, Majalah sekolah dapat dijadikan sebagai media komunikasi di sekolah. Majalah dinding sekolah sebagai suatu media komunikasi antar elemen warga sekolah; siswa dan guru, karyawan sekolah dan Kepala Sekolah. Misalnya; menulis tentang pembelajaran mata pelajaran fisika yang menyenangkan. Guru keterampilan menulis tentang prosedur membuat Kincir Angin dan atau Kipas Angin dari bahan sampah daur ulang . Hasil apresiasi dari karya inovatif siswa dituangkan dalam bentuk tulisan artikel .

BACA JUGA :  Petisi: Manggarai Sentris

Maknanya, dari tulisan guru ada interaksi guru dan siswa, dan kepala sekolah. Misalnya, Thomas Alva Edison, penemu lampu pijar. Albert Einstein, penemu kecepatan cahaya. Galileo Galilei, penemu rotasi bumi dan planet  mengelilingi matahari ( teori Heliosentris). Menulis tentang guru favorit yang didambakan siswa di sekolah  dengan kriteria seperti apa? Dan, masih banyak karya inovatif yang dibuat dan dituliskan dimajalah sekolah. Menulis antologi puisi terbanyak dan dimuat dalam majalah dinding dan media lainnya. Berupa media online, atau Bloger. Pokoknya, semua karya terbaik para siswa dan guru berupa” best practice” dapat dijadikan sebagai media yang bermanfaat.

Ketiga, sebagai media pembelajaran berbasis baca tulis. Menurut Deki Manuken(2008), pada saat pembelajaran pokok bahasan membaca, siswa dilatih untuk memahami bacaan-bacaan yang termuat di majalah sekolah,serta “ membedakan bacaan” yang menarik dan tidak menarik. Siswa disuruh menyusun tanggapan secara tertulis tentang isi bacaan yang tidak nalar, kemudian diterbitkan pada edisi berikutnya.  Semacam tanggapan kritis tentang tulisan sebelumnya.

Keempat, sebagai media belajar organisasi. Majalah dinding sekolah tentu ada awak redaksi yang menangani penerbitannya. Misalnya; ada pembina umum, yang biasa dijabat oleh kepala sekolah. Pembimbing : guru ekstrakurikuler jurnalis ( guru Bahasa Indonesia). Tim inti penerbitan Majalah, terdiri dari pemimpin redaksi(Pemred), reporter, editor atau penyunting kebahasaan, tenaga tata letak ( lay outer), tenaga ilustrasi dan grafis.

Kelima, penyemai demokrasi. Sebelum majalah sekolah terbit, tim redaksi melaksanakan rapat redaksi  untuk menentukan tulisan dan rubrik apa saja yang akan dimuat pada edisi berikutnya. Diusahakan dimuat berdasarkan momen-momen yang cocok dan relevan. Misalnya; pada bulan Januari sampai Maret tentang tema perencanaan tahun baru.  Pada bulan April sampai Juni tentang tema lingkungan hidup dan pendidikan. Pada bulan Juli sampai September, tema tentang kemerdekaan dan bulan bahasa. Oktober sampai bulan Desember, tema tentang sumpah pemuda, dan hari ibu.

BACA JUGA :  Resesi Ekonomi Regional Covid-19?

Keenam, media promosi sekolah  lewat majalah dinding sekolah, blog, website;  tentang  keunggulan sekolah sebagai branding. Misalnya, Sanggar Uma Rana, kelengkapan fasilitas pembelajaran di sekolah, karya inovasi siswa membuat media pembelajaran bersama guru. Sistem Penerimaan Peserta Didik baru( PPDB ) secara online dan ofline. Sistem pembelajaran secara online dan ofline. Sistem ujian sekolah secara online. Hasil PISA dan hasil Asesmen Kompetensi Minimal Siswa ( AKM) dan Asesmen Nasional untuk tingkat sekolah. ( Dari berbagai sumber jurnalistik).

Dari hasil pemantauan penulis tentang fakta lapangan, sesungguhnya pemanfaatan media majalah dinding di sekolah, sudah cukup lama. Namun, postur media yang dikerjakan di sekolah membutuhkan perhatian yang lebih serius dari pembina, terutama guru bahasa Indonesia dan pembina OSIS, serta pendamping lainnya. Perlu dilengkapi dengan Surat Keputusan seorang Kepala Sekolah dalam rumusan program pembagian tugas di sekolah.

Sebab tanpa keterlibatan para motivator untuk mendampingi, membimbing dan melatih, di sekolah,  untuk menghidupkan kembali majalah dinding di setiap sekolah, merupakan salah satu cara menggiatkan literasi membaca dan menulis. Untuk mengangkat derajat harkat dan martabat bangsa yang masih rendah dalam bidang literasi membaca, matematika dan sains. Karena sekolah sebagai wadah yang dianggap relevan untuk menghidupkan kembali literasi lewat pemanfaatan majalah dinding di sekolah, selain, majalah sekolah, buletin tentang informasi penting di sekolah, yang bersifat edukatif. Juga, bisa menggunakan dinding website dan bloger sekolah yang optimal.

Oleh  sebab itu, perlu menghadirkan narasumber yang kreatif dalam mendampingi para siswa dan guru di sekolah. Misalnya; kerja sama dengan berbagai media cetak dan online yang sudah profesional. Seperti, Media Pendidikan Cakrawala NTT, jurnalis alumni yang berkarya di media cetak dan atau online. Sebagai bentuk spirit sebuah motivasi bagi sekolah bahwa ada bukti nyata dari alumni yang bekerja sebagai penulis di berbagai media itu.

BACA JUGA :  Hijaukan Lingkungan Sekolah dan  Berantas Pemanasan Global

Di samping itu, dukungan dan motivasi manajerial sekolah, yaitu seorang kepala sekolah , paling tidak, dapat memotivasi dalam program pengembangan literasi sekolah. Memasukkan Visi misi dan program literasi sekolah sebagai hal yang urgen dan strategis bagi setiap guru dan wali kelas dan guru bahasa untuk mendampingi siswa. Saling bahu membahu untuk menggiatkan literasi guru dan siswa di semua sekolah. Tanpa keterlibatan semua maka sia sia program literasi di sekolah.

Menurut penulis, harus berani memulai dengan syarat yang harus lebih keras dan tegas. Semua guru untuk bisa naik pangkat wajib untuk membimbing para siswa yang berhasil menulis karya di Majalah dinding sekolah. Sepertinya, ada rada rada pemaksaan kehendak demi mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata PISA..

Sebab tanpa gerakan yang lebih menggila di sekolah melalui gerakan literasi sekolah, tidak mungkin mewujudkan seluruh rangkaian yang bermutu secara kualitatif dan kuantitatif. Di samping itu, program literasi tidak hanya berdengung di ruang ruang virtual saja. Namun, pemerintah kabupaten perlu merespon dengan wujudnyata dalam program pemerintah menuju suatu kabupaten literasi. Dengan demikian, mewajibkan seluruh sekolah dan taman baca di kampung dan desa membuka dan menyalurkan bantuan berupa referensi bacaan anak sekolah dan orang dewasa. Terus menerus dilaksanakan, tidak hanya dalam masa musim pesta pilkada dan setelah terpilih jadi pemimpin tidak dilanjutkan dan atau tidak dilanjutkan, karena tidak terpilih. Menurut penulis, tempatkan program literasi sekolah dan daerah untuk menuju suatu bangsa yang cerdas dan berkarakter. Bangsa yang cerdas dan berkarakter senantiasa dilaksanakan program literasi menuju masyarakat yang literat.

Demikian Rekomindasi penulis untuk menghidupkan kembali program majalah dinding di sekolah, yang dianggap mati suri dalam masa pandemi Corona sepanjang dua tahun lebih ini. Diharapkan dari kerjasama yang baik dan mumpuni dengan berbagai media dapat meningkatkan kerjasama berliterasi melalui menghidupkan kembali majalah dinding di sekolah kita .Semoga !

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.