Jangan Jadi Dekonstruktor Pendidikan Nilai Kebenaran

Oleh : Alvares Keupung

121
Menata Pariwisata Yang Partisipatif dan Holistik
Penulis Alvares Keupung. Foto istimewa

PADA akhirnya, pendidikan yang ideal mesti mengkonstruksi nilai kebenaran. Upaya – upaya pendidikan, adalah upaya untuk mencari kebenaran. Sebab, ” senjata dari kebenaran adalah kebenaran itu sendiri”, demikian Pinon, mantan Dosen Epistemologi dan Metafisika pada STFK Ledalero – Maumere – NTT. Dalam artian ini, Pinon mau “menggelitik” nilai kejujuran yang prinsipnya harus berdiri di atas kebenaran. Hidup yang terhormat dan termulia, tidak boleh mendestruksi nilai – nilai kebenaran. Hidup boleh saja apa adanya, tetapi hidup oleh kebenaran mesti menjadikan hidup ini istimewa. Karena itu, kebenaran menjadikan manusia terhormat dan bermartabat. Dalam kepalsuan, manusia tidak dapat melihat terang kehormatan dan martabatnya.

Dalam pendidikan, setiap manusia dapat menggali kebenaran melalui pelbagai pendidikan nilai. Pendidikan sebagai stimulus yang membentuk karakter dan integritas berupaya membangun peradaban dan martabat melalui internalisasi pendidikan nilai, seperti : keadilan, perdamaian, cinta, kejujuran, solidaritas dan soliditas, fraternitas (perasaudaraan). Simpul dari pendidikan nilai adalah kebenaran demi kebaikan bersama (Bonnum Comunae).

Kebenaran itu absolut. Dia tidak boleh dimanipulasi oleh kehendak buruk pada diri manusia. Jika kebenaran dimanipulasi dan direkayasa oleh kehendak buruk manusia, maka yang buruk adalah kehendak manusiawinya, bukan kebenaran. Di sini, dapat dikatakan bahwa karena kehendak buruk manusia, berarti martabat, peradaban dan moralitas manusia yang berkehendak buruk menjadi buruk.

Apapun dalam realitas, kedudukan manusia adalah subyek bukan obyek. Dengan kata lain, manusia sebagai subyek ditandai dengan kesadaran diri yang menyadari eksistensinya, mampu “menterjemahkan” apa yang ada di luar dirinya, mampu membedakan apa yang baik (bonum) dan buruk (malum) di dalam dan di luar dirinya, mampu berefleksi, mampu berpikir serentak sadar akan buah pemikirannya. Tetapi secara kosmik, manusia adalah bagian dari alam realitas. Maka, adalah benar bahwa manusia juga dapat menimba kekuatan kebenaran melalui keteraturan kosmik. Dari sini, manusia belajar menata keteraturan hidup bagaimana membingkai hidupnya secara teratur dalam prinsip – prinsip pendidikan nilai : keadilan, perdamaian, cinta, kejujuran, solidaritas dan soliditas, fraternitas ( persaudaraan ) yang bermuara pada spirit kebenaran.

Dalam pengalaman hidup, barangkali kita sering berjumpa dengan ketegangan – ketegangan yang nota benenya terjadi dekonstruksi terhadap pendidikan nilai kebenaran. Kekuasaan manipulatif yang bertransformasi ke dalam perilaku KKN (Kolusi, Kolusi dan Nepotisme) merupakan bentuk dekonstruksi pendidikan nilai kebenaran yang paling kerap terjadi di dalam tatanan kehidupan sosial. Oleh dekonstruksi demikian, bangunan kehidupan sosial menjadi tidak berimbang.

Oleh karena tugas manusia adalah membentuk diri menjadi lebih manusiawi, maka manusia mesti menjadi konstruktor bukan dekonstruktor pendidikan nilai kebenaran bagi dirinya. Perjumpaan – perjumpaan dengan hal – hal yang positif, pertama – tama mesti dilihat sebagai realitas yang turut mengkonstruksi pendidikan nilai kebenaran. Berperi kata dan berperilaku yang konstruktif adalah upaya mengkonstruksi pendidikan nilai kebenaran demi martabat dan peradaban luhur kemanusiaannya. Pada titik inilah, manusia dipanggil untuk menyadari kediiriannya : ” aku adalah subyek yang berakal, berbudi dan bernurani ” yang selalu membentuk diri dalam terang kebenaran. Maka, manusia adalah agen konstruktor bukan dekonstruktor pendidikan nilai kebenaran.

(Penulis, warga Lela diaspora. Berdomisili di Ende)

BACA JUGA :  Belajar Mendalami Sebuah Pertanyaan: WHO AM I?
kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.