Ketika Transpuan  Sikka dan Awak Media “Buka-Bukaan” di Kantor Redaksi florespedia.id Maumere

Oleh Walburgus Abulat (Wartawan Pojokbebas.com)

147
Ketika Transpuan  Sikka dan Awak Media "Buka-Bukaan" di Kantor Redaksi florespedia.id Maumere
Perwakilan  Transpuan/waria dan awak media berpose bersama usai mengikuti kegiatan  bertajuk “Temu Jurnalis dengan Komunitas Transpuan” di Kantor Redaksi florespedia.id yang berlokasi di jalan  Moan Subu Sadipun, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Minggu (6/3/2022). Foto Walburgus Abulat

 

SUASANA di Kantor Redaksi florespedia.id yang berlokasi di Jalan Moan Subu Sadipun, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka pada Minggu 6 Maret 2022 agak lain dari minggu sebelumnya. Maklum pada Minggu pertama di bulan Maret ini, ada dinamika baru di Kantor Redaksi yang saat ini dipimpin anak muda (Pemimpin Redaksi) Mario Wihelmus Patrimonio Sina itu.

Dinamika itu diawali dengan gelaran acara menarik bertajuk “Temu Jurnalis dengan Komunitas Transpuan”.
Ya, mengacu pada tema itu, sudah bisa ditebak siapa-siapa yang hadir dalam kegiatan ini.

So, pasti ada para jurnalis. Para awak media yang berkumpul di lokasi itu saat itu  di antaranya Karel Pandu (Timex), Walburgus Abulat (Florespos.net &  Pojokbebas.com); Tovik Koban (TVOne), Angga (Media
Indonesia), Yunus Atabara (Victory News), Athy Meak (Florespedia.id), Roswita Irma Suswanti (Targetindo NTT), Yopi (Ekora NTT), Cen Cabaresi (Radio Suara Sikka), Albert (Florespedia.id), Sas (Floresnews) Erik
(Rakyat NTT), Ribery (PikiranRakyat), Marsel (Lenterapos).

Sementara dari Transpuan/Waria yang hadir di antaranya Ketua Persatuan Waria Kabupaten Sikka (Perwakas) Ma Vera, Ketua Komunitas Fajar Sikka Bunda Mayora; Inang Novi, Yolan Miranda, Vera, Halimah, Macin, Cece, Ambarwati, Mega, dan Sheila.Transpuan ini berasal dari pelbagai daerah
di Sikka dan dari luar Sikka.

Perjumpaan dua kelompok yang luar biasa ini diawali dengan doa yang dipimpin oleh Bunda Mayora. Usai dibuka dengan doa dilanjutkan dengan sapaan pembukaan dari Pemimpin Redaksi Florespedia.id,  Mario Wihelmus Patrimonio Sina.

Mario dalam sapaanya antara lain menyampaikan selamat datang kepada awak media dan transpuan yang  hadir dan yang berkenan  menggelar Temu jurnalis dengan Komunitas Transpuan.”

“Kami berharap agar pertemuan ini bisa menciptakan ruang yang inklusi/yang terbuka kepada komunitas  yang beragam dan heteroseksual,” kata Mario.

Mario berharap agar dengan kegiatan ini selain sebagai ajang silaturahmi, juga bisa ajang untuk terciptanya ruang inklusi bagi media yang ramah terhadap keberagaman gender dan seksualitas di Nian Tana.

“Semoga kegiatan ini sebagai wahana silaturahmi dan saling tukar pikiran terkait kehidupan komunitas  minoritas gender  dan seksualitas di Kabupaten Sikka,” kata Mario.

Setelah sapaan awal oleh tuan rumah, acara Temu Jurnalis dengan Komunitas Transpuan pun ini dilanjutkan dengan menonton Video Dokumenter yang menarasikan  satu keluarga di Bola yang memiliki tiga orang waria/transpuan yang diliput secara eksklusif oleh oleh BBC News. Dalam video dokumenter ini  sang ibu dan ayah dari ketiga transpuan itu sempat mengalami pergulatan batin hebat setelah mengetahui tiga dari buah hati mereka berorientasi transpuan. Meski pergulatan masih belum terurai, namun sang mama menerima kondisi ketiga anaknya sebagai keunikan yang bukan dikehendaki oleh ia sebagai seorang Ibu yang  melahirkan mereka.

“Apakah saya yang  menghendaki supaya kamu lahir demikian (sebagai waria, Red)? Tidak. Bukan saya.
Itu merupakan rencana Tuhan,” kata Ibu dari ketiga anak itu.

Nampak dalam cuplikan video ini, ketiga waria itu tampil percaya diri dan tak mudah tergoyah di tengah stigmatisasi buruk terhadap waria, yang datangnya tidak saja dari pihak luar, tetapi juga dari dalam
keluarga sendiri.Ketiga waria dalam satu keluarga ini melakukan hal-hal positif seperti menenun, membuka usaha jualan dan bekerja sebagaimana manusia terlahir lainnya yang bersifat positif bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Usai menonton cuplikan   video ini dilanjutkan dengan syering pengalaman dari enam perwakilan transpuan yakni Inang Novi, Yolan Miranda, Vera, Halimah, Macin, dan Bunda Mayora.

Ma Vera yang pada tahun ini merayakan 25 tahun sebagai waria (catatan Ma Vera lebih senang menyebut waria daripada terminologi transpuan), dengan berapi-api menceritakan kisah suka duka keberadaanya selama 25 tahun sebagai waria. Ma Veri sebagai Ketua Persatuan Waria Kabupaten ikka (Perwakas) mengakui bahwa selama berkarya puluhan tahun dan telah memimpin Perwakas, ia telah menyelenggarakan beberapa kegiatan penting di antaranya pemilihan ratu waria Sikka tahun 2000, pemilihan ratu waria Flores dan Lembata pada tahun 2010, turnamen waria, dan aneka acara positif lainnya yang diselenggarakan Perwakas, serta beberapa kegiatan terkait di sejumlah negara di dunia.

Selain Ma Vera, juga Transpuan asal Wuring Halimah menyeringkan pengalamannya seputar bagaimana keluarganya menyikapi pascadirinya mulai merawat rambut agar panjang, memakai bra (BH) dan mendandani diri seperti kaum perempuan. “Melihat saya berubah seperti ini, kakek saya tidak terima. Termasuk tidak menerima uang hasil keringat saya, yang mereka nilai tidak halal,” kisah Halimah.

Halimah mengakui sangat menikmati keberadaanya sebagai transpuan yang merupakan jati dirinya, meski badai diskriminasi dan stigmatisasi terus menghantui dirinya.”Menjadi transpuan itu tidak gampang. Tetapi,
saya tetap kuat dan selalu senang  menjalani hidup saya seperti ini,” kata Halimah.

Sejalan dengan Ma Vera dan Halimah, Transpuan asal Lembata, namun berdomisili di Maumere Yolanda juga buka-bukaan menyeringkan pengalamannya selama memutuskan menjalani kehidupannya sebagai waria. Yolanda mengakui menjadi waria itu sangat tidak gampang, dan harus dibutuhkan mental baja. Yolanda mengakui ia terlahir dari satu keluarga dengan lima orang anak, dan ia merupakan satu-satunya anak laki-laki. “Sejak kecil, saya selalu bermain dengan 4 saudara saya yang perempuan semua. Saya selalu memakai pakaian perempuan,” kisah Yolanda.

BACA JUGA :  Dapat Pasokan Senjata dari AS, Menteri Pertahanan Ukraina Sesumbar Musuhnya

 

Ketika Transpuan  Sikka dan Awak Media "Buka-Bukaan" di Kantor Redaksi florespedia.id Maumere
Inilah perwakilan  Transpuan/waria yang menghadiri kegiatan bertajuk “Temu Jurnalis dengan Komunitas Transpuan” di Kantor Redaksi florespedia.id yang berlokasi di jalan Moan Subu Sadipun, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Minggu (6/3/2022). Foto Walburgus Abulat

 

Setelah menjadi dewasa, lanjut Yolanda, ia merantau ke Jawa dan menjalani hidup sebagai transpuan di beberapa tempat hiburan di Jawa. Sekembali dari Jawa, l Lanjut Yolanda, ayahnya menyarankannya  untuk
meminang calon istri. Menanggapi permintaan orang tuanya itu, Yolanda secara diplomatis menjawab “Bapa, saya bisa ambil istri, mau tiga atau empat orang. Tapi ambil buat apa, kasih untuk di rumah saja. Sebab
saya menikmati hidup saya sebagai transpuan,” ungkap Yolanda dengan polos.

Syering pengalaman yang buka-bukaan seputar kehidupan transpuan oleh tiga perwakilan di atas, membuat semangat salah satu transpuan termuda bernama Macin termotivasi untuk buka-bukaan membagikan pengalamannya. Macin yang baru berusia 20-an tahun lebih dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa prodi Akper pada salah satu perguruan tinggi mengaku orang tuanya sangat mendambakan kelahiran anak perempuan di saat ia masih dalam kandungan ibunya. “Karena mengharapkan bayi perempuan maka
orang tua saya menyiapkan pakaian baby untuk anak perempuan. Namun kenyataannya yang lahir laki-laki. Jadi aku di masa kecil-selalu pakaian pakaian perempuan,” ujar Macin polos.

Selain mengenakan pakaian ala perempuan, lanjut Macin, ia pun sejak kelas 4 SD sudah pintar make up, merawat diri dan memakai anting. “Perubahan saya ini membuat bapa saya marah, dan melakukan beberapa
tindakan kekerasan. Namun saya tetap tabah.Apalagi mama saya mulai menerima saya apa adanya. Saya pun tetap menunjukkan keberadaan saya sebagai transpuan,” ujarnya  bangga.

Akibat sikap yang keras dan tetap ngotot pilihan menjadi transpuan, maka ia tidak mendapatkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi. “Untuk melanjutkan cita-cita ke jenjang tinggi, saya
harus mencari kerja. Saya akhirnya merantau ke Surabaya dengan bermodalkan uang Rp500 ribu. Saya berangkat ke Surabaya dengan menggunakan mobil ekspedisi,” kisahnya.

Setiba di Surabaya, lanjut Macin,  ia bekerja sebagai kuli kasar dan bekerja di beberapa salon untuk menghidupi diri.“Saya juga mulai membangun relasi dengan banyak orang, termasuk dengan transpuan
lainnya,Ketua Perwakas Sikka Ma Vera, dan beberapa lainnya. Berkat relasi yang baik, maka ada kenalan yang menginformasikan seputar program beasiswa. Saya ikuti program itu, dan lulus untuk melanjutkan
studi di Akper. Cita-cita saya dari kecil jadi perawat,” kata Macin.

Macin bersaksi bahwa ia sangat senang dengan keberadaannya sebagai transpuan dengan mengembangkan aneka bakat dan keterampilan yang dimilikinya, termasuk untuk bekerja di salon dan merias pengantin.“Saya tetap menjalankan kehidupan saya sebagai transpuan yang bermartabat,” kata Macin.

Pengalaman Bekerja di Seminari Motivasi Hidup Transpuan Asal Koting

Pengalaman kelima transpuan di atas hampir berbanding 180% yang dialami Inang Novi asal Wutik, Desa Koting D, Kecamatan Koting Mba Novi. Novi berkisah ia merupakan bungsu dari lima bersaudara.

Novi mengaku sejak kecil terpaksa harus harus hidup tanpa kasih sayang orang tua, karena kedua orang tuanya meninggal ketika dirinya masih berusia di bawah umur. “Mama meninggal ketika saya belum masuk SD. Sedangkan Bapa meninggal setelah tamat SD. Saya kecil belum merasakan kasih sayang orang tua.
Saya kemudian tinggal dengan kakak-kakak saya,”  katanya.

Karena kondisi ekonomi keluarga, lanjut Novi, maka ia kemudian tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. ntuk menyambut hidup, lanjutnya, maka ia mencari pekerjaan di Seminari Tinggi Ritapiret. “Puji Tuhan saya diterima untuk bekerja di sana. Selama belasan tahun di di Ritapiret, saya belajar kerja di
hampir semua unit, kecuali bangunan. Saya pernah bekerja di dapur, klinik, gudang, ruang makan para romo,  dan kebun,” kata Inang Novi polos.

Ditanya hal menarik apa yang ia petik selama belasan tahun di Ritapiret, Novi mengaku hal yang paling luar biasa dan itu yang memotivasinya untuk maju bekerja dan berusaha saat memutuskan menjadi
transpuan adalah ketika para romo, para suster, para frater dan karyawan Seminari Tinggi Ritapiret menerima dirinya apa adanya. “Selama belasan tahun di Ritapiret, saya diterima apa adanya. Para romo dan suster tidak membedakan saya dengan para frater. Kita sama di dalam Tuhan. Inilah yang memotivasi saya sehingga saya dengan optimis membawa diri saya sebagai transpuan dan menerima segala tugas sebagai
penyuluh 18 kelompok tani Desa Koting D dan sebagai koster di  Stasi Santo Andreas Wutik, Paroki Fransiskus Koting. Semua tugas ini saya jalankan dengan baik, berkat pengalaman yang saya timba di Seminari Tinggi Ritapiret,” kata Novi.

Novi mengaku ia menjalani keberadaan sebagai transpuan secara bermartabat karena panggilan pekerjaan , tuntutan hidup dan bawaan sejak lahir. “Saya senang menerima diri saya apa adanya. Saya menjalankan keberadaan saya secara bermartabat. Saya menjalankan setiap tugas yang dipercayakan kepada saya baik tugas di Gereja, maupun tugas yang dipercaya oleh pemerintah desa. Saya juga mengembangkan usaha salon saya dengan baik. Jadi, saya transpuan yang bermartabat. Itu tadi berkat pengalaman yang saya timba selama bekerja di Seminari Tinggi Ritapiret,” papar Novi penuh optimistis.

BACA JUGA :  Secangkir Kopi Bercitarasa Toleransi  Beragama ala  Kedai Keuskupan Maumere

Tanggapan Awak Media

Setelah mendengar syering pengalaman para transpuan,para awak media di antaranya Karel Pandu (Timex), Walburgus Abulat (Florespos.net & Pojokbebas.com); Tovik Koban (TVOne), Angga (Media Indonesia), Yunus
Atabara (Victory News), Roswita Irma Suswanti (Targetindo NTT), Albert (Florespedia.id), Sas (Floresnews) Marsel (Lenterapos) dan Ribery (Pikiran Rakyat) menaggapi secara buka-bukaan untuk mendalami beberapa
hal esensial dari keberadaan transpuan di di Kabupaten Sikka. Di antaranya soal apa yang mendorong mereka memilih menjadi transpuan, siapa-siapa yang meminati/pelanggan, bagaimana pengalaman
diskriminasi, bagaimana orientasi seksual mereka, tentang terobosan usaha, tentang pilihan gender saat dikuburkan bila meninggal apakah dikuburkan dengan identitas laki-laki atau transpuan; dan bagaimana
tanggapan mereka terhadap sorotan terkait pilihan hidup mereka sebagai transpuan mengurangi jumlah laki-laki yang tentunya merugikan kaum perempuan untuk memilih pasangan hidupnya yang butuh pasangan
heteroseksual.

Para awak media juga menyarankan transpuan untuk selalu melakukan hal-hal positif dan berguna sehingga semakin membuka mata semua orang terkait keberadaan mereka yang berkontribusi membangun Kabupaten Sikka dari usaha yang mereka kembangkan seperti salon, tenunan, perikanan, pariwisata, pertanian, dan sektor usaha lainnya.

Ketika Transpuan  Sikka dan Awak Media "Buka-Bukaan" di Kantor Redaksi florespedia.id Maumere
Inang Novi salah seorang transpuan yang sebelumnya menimba pengalaman bekerja selama belasan tahun di Seminari Tinggi Ritapiret. Ilmu yang dia pelajari dari Ritapiret menjadi bekal baginya untuk menjalankan tugasnya sebagai penyuluh 18 kelompok tani di Desa Koting D, dan sebagai koster di Kapela Stasi Wukak, Kecamatan Koting. Foto Walburgus Abulat

 

Bukan Karena Tuntutan Seks, Tetapi Pilihan Hidup

Ketua Perwakas Sikka Ma Vera, Ketua Fajar Sikka Bunda Mayora, dan Yolanda Miranda menjawahi pertanyaan para awak media secara gamblang di mana mereka menegaskan bahwa pilihan mereka menjadi transpuan bukan merupakan pilihan karena orientasi seksual, tetapi terutama karena kodrat terlahir sebagai laki-laki namun dengan dominan kromosom XX, dan bukannya kromosom XY. “Pilihan menjadi waria itu bukan karena tuntutan seks tetapi karena banyak pertimbangan di antaranya pilihan hidup, karena dominasi
kromosom XX meskipun terlahir  sebagai laki-laki, dan tuntutan hidup/pekerjaan,” kata Ma Vera dan Yolanda.
Penegasan yang sama disampaikan Ketua Fajar Sikka, Bunda Mayora yang juga memandu jalannya  pertemuan perdana transpuan dengan para awak media ini.

Bunda Mayora menjelaskan bahwa keberadaan waria di Sikka semakin diketahui publik berawal dari Gempa Tektonik Tahun 1992 yang membuat hidup warga Sikka mengalami kesulitan, termasuk waria. “Untuk menyambut hidup, para waria harus aktif berkarya dan bekerja. Karena itu, setelah gempa  mereka pergi merantau di Jawa. Sampai di Jawa, mereka bertemu yang namanya  Persatuan Waria Kota Surabaya
(Perwakos). Ada kegiatannya. Kemudian berdasarkan pengalaman di Surabaya, maka kemudian di Maumere dibentuk Perwakabs (Persatuan Waria Kabupaten Sikka) itu menjadi awal penerimaan masyarakat terhadap
kelompok minoritas gender, secara khusus adalah waria,” kata Bunda Mayora.

Bunda Mayora pada kesempatan ini juga mensyeringkan bagaimana keberadaan awal waria atau Kobek (dalam Bahasa Sikka) di mana dulu mereka selalu Nongkrong di Bola M. “Dulu, kobek-kobek ini mereka nongkrong di Bola M. Karena Nongkrong di Bola M maka mereka dianggap tidak normal, dianggap jahat,  karena mereka juga cari uang, mereka disiram oli, mereka dipukuli. Mereka juga lari dari rumah setelah diketahui keluarga, mereka laki tetapi memakai lipstik,” kata Bunda Mayora.

Kerennya, lanjut Bunda Mayora, karena transpuan itu hadir bukan untuk dibuat-buat, tapi sudah bagian dari anugerah maka pelan-pelan kelompok minoritas ini teredukasi maka hadirlah Perwakas sebagai salah satu
komunitas yang mengumpulkan teman-teman ini. “Supaya apa, teman-teman ini aktivitas, berkarya, bekerja, dan iven-iven besar pertama itu membuktikan bahwa transpuan punya andil, punya pekerjaan, maka itu ke Surabaya, bentuklah komunitas sehingga hari ini mereka kuat,” kata Bunda Mayora.

Menurut Bunda Mayora, kalau  kita berbicara tentang gender maka gender itu tidak hanya perempuan dan laki-laki . “Kalau kita bicara tentang gender itu banyak sekali. Budaya kita sendiri itu ada kobek, ada lai lamen. Itu sudah kelihatan dalam masyarakat kita.Tapi karena hidup kita dalam norma ada perempuan dan laki,  maka kita membenarkan itu. Oleh sebab itu, gender sendiri  itu adalah konstruksi sosial.

Kalau lihat dalam matriks,  Laki itu maskulin, perempuan itu feminim. Laki itu harus merokok dan perempuan itu yang halus. Ini  bagian dari diskriminasi yang dialami oleh perempuan dan kami ini imbasnya,” kata
Bunda Mayora.

Sebagai kelompok minoritas gender yang dianggap mengadopsi peran perempuan akibat budaya patriarki, lanjut Bunda Mayora, maka transpuan ditindas sehingga tiga transpuandalam satu keluarga di Bolas ebagaimana yang ditayangkan dalam video dokumenter oleh BBC.News yangm enenun tenun ikat dinilai janggal oleh keluarga.

“Tapi ternyata sebenarnya pekerjaan itu, tidak ada jenis  kelaminnya. Baju ini (baju yang dipakai Bunda Mayora, Red) tidak ada jenis kelaminnya. Sepatu itu tidak ada jenis kelaminnya. Karena betul kita
hidup dalam konstruksi sosial itu, maka  bagaimana gender itu sendiri tidak sama dengan orientasi seks. Maka itu, saya waria belum tentu orientasi seks saya itu tertarik misalnya perempuan atau pun
laki-laki. Bisa jadi,  saya seorang biseksual. Kalau mereka-mereka ini, mereka coming out cerita orientasi seksual mereka. Tapi kalau saya tidak mau bercerita, karena seks itu privat.. betul privat. Berseks itu sendiri adalah dia yang sendiri merasakan. Seperti yang Yolanda katakan belum tentu dia macho  dia lahir heteroseksual. Belum tentu.”

 

Bunda Mayora menegaskan lagi bahwa seks itu merupakan ranah privat,  dan orientasi seks pun bermacam-macam. “Ada transeksual, ada heteroseksual. Yang kita kenal ketertarikan seksual terhadap lawan
jenis, ketika homo sesama jenis dianggap salah.Nah kemudian, kami ini imbasnya dari mana?” katanya.

“Singkatnya, yang saya mau katakan bahwa gender tidak sama dengan orientasi seksual. Seks adalah beragam. Oleh sebab itu, di dalam cita-cita saya saya katakan pertama bahwa saya adalah manusia. Kita

semua adalah manusia. Kalau kita bicara tentang manusia, maka  waria adalah manusia: transpuan juga adalah manusia. Ketika orang menjustifikasi kami dengan orientasi seks yang menyimpang  yang
pertama adalah bahwa orientasi seks  ranah privat betul. Usaha pertama adalah kita punya hak  atas tubuh kita. Dan tubuhku dalah otoritasku. Oleh sebab itu, ketika saya sebagai manusia, Tuhan lengkapi dengan akal budi. Dia mau homo, dia mau lesbi, mau gay, mau waria, mau heteroseksual, beda orientasi seksual itu beda,” katanya.
Menurut Bunda Mayora, perilaku seksual itu menyimpang, bahwa heteroseksual juga bisa menyimpang bisa perkosa orang. Homo juga bisa menyimpang. Karena itu perilaku seksual. “Tuhan kasih saya dengan akal budi untuk mengontrol seluruh manajemen. Pakai akal budi untuk mengelola. Oleh sebab itu saya percaya
bahwa gender tidak sama dengan orientasi seksual. Orientasi seksual itu adalah realitas, kenyataan,” katanya.
Bunda Mayora menegaskan bahwa  WHO sudah mengeluarkan bahwa LGBT: Lesbi, gay, biseksual, dan transgender  adalah bukan penyakit, tetapi orang-orang yang ada yang harus dihormati dan dihargai.
“Oleh sebab itu, sekarang kami berharap media harus menjadi media yang ramah, agama harus menjadi agama yang ramah, dan masyarakat menjadi masyarakat yang ramah  terhadap keberagaman,”  pinta Bunda Mayora.
Butuh Dukungan Media

 

Bunda Mayora pada kesempatan ini meminta dukungan media yang bertugas di Kabupaten Sikka untuk menjadi media yang ramah, media yang emberikan pemberitaan yang baik. Harapan kami agar media media yang ramah, media  yang memberikan pemberitaan yang baik.Media-media semakin lebih sejuk Oleh karena itu inilah waktu kita saling mengenal, waktu saling mengetahui supaya apa, inilah awal yang baik untuk kita semua,” katanya.

Bunda Mayora mengakui bahwa Fajar Sikka hadir di Maumere tahun 2018 di mana organisasi mencoba rangkul semua kelompok minoritas  gender an seksualitas. “Awalnya kami survive untuk kelompok kami transpuan, tetapi selanjutnya kami merangkum LGBT, dan juga kelompok minoritas lainnya seperti janda, lansia, dan disabilitas, ada beberapa teman kami yang sudah mensupor. Dan di dalam Fajar Sikka sendiri  semua ada dalam keberagaman. Oleh karena itu Fajar Sikka ini punya komitmen bagaimana keberagaman ini harus tetap dijaga, harus tetap dihormati karena memang di sini tidak kelihatan, tetapi kalau di Jawa kami ini dijadikan ajang politik.Kenapa? Karena kadang-kadang mulai pilkada mulai memainkan isu LGBT untuk mendulang suara mereka.Karena itu media mempunyai peran penting untuk membantu kami bagaimana menyuarakan kesejukan kepada sesama. “Kami menghadirkan teman-teman media, biar teman-teman media lebih tahu siapa itu teman-teman LGBT, dan siapa itu teman-teman waria,” katanya.

Menurut Bunda Mayora, Media di Maumere ini begitu ramah. “Kami mau bangun keramahan ini untuk menjadi lebih kokoh. idak tahu ke depannya di NTT ini, apakah ada Gubernur atau Bupati yang membuat Perda yang melarang LGBT seperti di Aceh, maka itu media ini punya peran penting untuk membantu kami,” katanya. Menanggapi permintaan Ketua Fajar Sikka, maka para awak media yang hadir menyatakan siap, mendukung baik dengan cara memberikan akses berita ramah transpuan, maupun pelbagai usaha mereka yang telah berkontribusi memajukan Kabupaten Sikka, dan kemitraan usaha positif lainnya.

Itulah sekilas perjumpaan “buka-bukaan” alias syering pengalaman apa adanya yang disampaikan para transpuan dan awak medis yang bertugas di Kabupaten Sikka di bawah tema  “Temu Jurnalis dengan Komunitas Transpuan” yang diselenggarakan Komunitas Fajar Sikka bekerja sama dengan Media online florespedia.id. Semoga perjumpaan yang menuangkan pengalaman unik yang disyeringkan secara “buka-bukaan” ini menjadi awal yang baik bagi para awak media untuk mengakomodir pemberitaan
yang ramah transpuan, dan memberdayakan transpuan.  Soli Deo Gloria. Tuhan memberkati. ***
kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.