kominfo iklan

Kolangkaling Aren Kado KKN Mahasiswi  Unika St.Paulus Ruteng

139
Kolangkaling Aren Kado KKN Mahasiswi  Unika St.Paulus Ruteng
Mahasiswi-mahasiswa Unika St Paulus Ruteng bersama para ibu penggerak PKK dan pokdarwis Molas Roe, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling belajar bersama memanfaatkan buah enau (longko) sebagai sumber pangan alternatif. Foto/Robert Perkasa

 

MBELILING | Pojokbebas.com | Pohon enau/aren/raping menjadi tanaman unggulan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki beraneka manfaat ekonomis. Enau juga disebut pohon konservasi yang bernilai ekologis.

Di Flores, umumnya, pohon enau tumbuh liar di hutan, tanah ulayat masyarakat, kebun, di  tepi sungai, bukit, lembah dan ngarai.

Pohon enau/raping juga disebut “pohon uang” karena seluruh bagian pohon enau dapat menghasilkan uang jika terampil mengolahnya.
Mulai dari ijuk, daun, buah hingga isi batang dapat mengjasilkan uang.

kabupaten sika

Di tengah geliat pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, ijuk jadi barang mahal dan diburu. Ijuk dimanfaatkan untuk atap bangunan yang tampak naturalis. Ijuk juga bisa dibuat tali untuk konstruksi bangunan tertentu.

Selain ijuk, daun enau (lidi) bisa jadi bahan dekorasi naturalis dan sapu lidi yang bertahan lama dan ramah lingkungan.

Sejauh ini, yang paling  diburu dari pohon enau hanyalah nira (air tetesan dari tangkai buah enau). Air nira diolah menjadi gula merah atau disuling menjadi bahan minuman tuak/sopi.

Selain ijuk, daun dan nira, masih ada bagian lain dari pohon enau yang jarang dimanfaatkan oleh para petani. Buah aren (longko). Buah aren bisa diolah jadi kolangkaling, bahan makanan/minuman yang lezat dan bergizi tinggi. Proses pengolahannya pun mudah,
cepat, dan bisa digarap oleh ibu-ibu rumahtangga.

Belajar Bersama Petani

Para ibu penggerak PKK dan pokdarwis Molas Roe, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling kini mulai memanfaatkan buah enau (longko) sebagai sumber pangan alternatif.

Para ibu rumah tangga terampil mengolah buah aren  menjadi kolangkaling setelah mendapat pelatihan dari mahasiswi  Universitas Katolik St. Paulus- Ruteng yang ber-KKN di Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

obor ormas

Koordinator kegiatan KKN, Yasinta Jelimun menjelaskan proses pembuatan kolangkaling diawali dengan cara merebus buah aren selama dua jam agar getahnya tidak merusak kulit tangan.

BACA JUGA :  Gita Smater Choir SMAK Frateran Maumere Raih 3 Medali Emas Ajang Festival Internasional yang Diikuti 12 Negara

“Setelah itu dikupas dan dibersihkan dengan air secukupnya. Buah aren yang telah dicuci lalu dicampur dengan santan kelapa, gula merah dan sagu mutiara lentil putih yang kita beli di toko. Bahan tambahan lainnya bisa juga buah pisang, susu dan daun pandan untuk pewangi alami. Limbahnya bisa digunakan untuk pupuk kompos”, jelas Yasinta.

Mahasiswi  Semester VII Prodi Pendidikan Matematika, Fakultas FKIP Unika St. Paulus Ruteng itu merincikan program kegiatan lain yang mereka didampingi selama sebulan. Yakni program pariwisata Desa (kuliner lokal) dengan melatih ibu-ibu rumahtangga agar terampil  mengolah buah aren menjadi kolang kaling.

Minuman kolangkaling buah aren racikan mahasiswi bersama ibu-ibu rumahtangga di kampung Roe menjadi sajian eksklusif di tengah gebyar turnamen olahraga HUT RI ke-77 yang digelar di kawasan puncak Bentang Alam Mbeliling, Roe, Desa Cunca Lolos.

Selain program pelatihan kuliner lokal, para mahasiswa-mahasiswi Unika St.Paulus Ruteng juga belajar bersama para petani setempat bidang pertanian. Mereka mengunjungi lahan pertanian gabungan kelompok tani (gapoktan) Harapan Jaya dan  kelompok wanita tani Ca Nai dengan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokasi organik.

Tujuan pelatihan ini membantu para petani mudah mendapatkan pupuk di tengah kesulitan akibat kelangkaan stok pupuk dan harganya yang sulit dijangkau para petani di Desa.

“Bahan pembuatan pupuk bokasi organik diambil dari kotoran sapi, kerbau, babi, kambing, daun gamal dan daun census yang mudah ditemukan di lahan-lahan para petani”, ungkapnya.

Yasinta jelaskan, bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan gula pasir, air dan  MP4 yang dibeli di toko. Setelah itu difermentasi selama 1-2 minggu agar mendapatkan hasil maksimal dan bisa dimanfaatkan para petani.

Program lainnya di bidang pendidikan. Mereka mengunjungi sekolah PAUD, SDK Roe dan SMP Negeri 2 Mbeliling.

BACA JUGA :  Taklimat Awal Pengawasan Post Audit Itdam XVIII/Kasuari TW I TA 2021

“Kami ke sekolah-sekolah, kerja sama dengan guru-guru untuk pengembangan kurikulum sekolah”, ujarnya.

Selain itu melakukan pendampingan anak SD dalam kegiatan olahraga, senam pramuka, dan pendampingan belajar dan kegiatan liturgis di Gereja. *(Robert Perkasa)

knpi
hanura

Leave A Reply

Your email address will not be published.