KRI Dewaruci Singgah di Kota Kupang pada 24 Juni, Walhi NTT: Momentum Pemulihan Ekosistem Cendana

60
KRI Dewaruci Singgah di Kota Kupang pada 24 Juni, Walhi NTT: Momentum Pemulihan Ekosistem Cendana
KRI Dewaruci, dalam kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 (MBJR) akan singgah di Kota Kupang pada 24 Juni 2022|Foto istimewa

 

KUPANG, Pojokbebas.com – KRI Dewaruci, dalam kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 (MBJR) akan singgah di Kota Kupang pada 24 Juni 2022. Di kota ini, puluhan Laskar Rempah RI -pemuda pilihan dari 34 provinsi- akan mengunjungi sejumlah situs budaya di Kota Kupang. Antara lain Desa Cendana di Nitneo, SMK Negeri 4 Kupang, Museum NTT, SMA Negeri 6 Kupang sebagai role model sekolah rempah, dan sejumlah situs budaya

Kepala Divisi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kampanye Walhi NTT, Yuvensius Stefanus Nonga, S.H.,M.H, dalam pernyataan tertulis menyampaikan, kehadiran KRI Dewaruci dalam kegiatan MBJR kali ini memberikan dua pertanda bagi masa depan cendana.

“Pertama, momentum ini bisa saja memberikan kontribusi suramnya masa depan cendana di NTT ketika salah melihat cendana, atau semata menggunakan kacamata kuda yakni kacamata ekonomi semata,” tulis Yuvensius, Sabtu (18/6/2022).

Kedua, bisa saja menjadi bagian dari kampanye pemulihan komoditas cendana dengan perspektif sosial ekologis yang kuat dalam mengimbangi narasi ekonomi. “Setidaknya momentum ini bisa menjadi satu cambuk peringatan bagi Pemerintah NTT dalam pemulihan ekosistem Cendana,” imbuhnya.

Yuvensius mengatakan, pihaknya memiliki catatan tersendiri terkait beberapa ekosistem endemic di NTT, salah satunya cendana. Dalam sejarah, NTT pernah berjaya dengan komoditas cendana. Selama masa orde baru cendana menjadi penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT.

“Kayu cendana juga menjadi salah satu tujuan bangsa-bangsa asing datang ke Tanah Air pada abad ke-14. Sehingga, Pulau Timor yang merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Kecil turut membetuk simpul-simpul jalur rempah atau titik persinggahan perdagangan di Nusantara,” bebernya.

Menurut Walhi, rusaknya cendana NTT diakibatkan oleh beberapa kebijakan pemerintah. Kebijakan Perda Nomor 16 Tahun 1986 tentang Pengelolaan Cendana yang tidak berpihak pada masyarakat karena cendana diklaim oleh pemerintah.

BACA JUGA :  Terkait Mendirikan Bangunan, Jokowi Hapus IMB Diganti PBG

Kemudian di era reformasi, lanjutnya, Pemerintah Daerah Provinsi NTT mengeluarkan Peraturan Daerah Propinsi NTT Nomor 2 tahun 1999 tentang Pembatalan Perda Nomor 16 tahun 1986 dan penyerahan wewenang pengelolaan cendana kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kota.

Karena itu, menurut Walhi, kedatangan KRI Dewaruci ke NTT tidak semata berangkat dari basis ideologis melihat cendana dalam kacamata ekonomi belaka. “Narasi sosial ekologis perlu dikuatkan sebagai acuan yang kuat kedekatan ekosistem endemik cendana dengan budaya lokal di NTT serta pola pengembangan berperspektif keberlanjutan lingkungan menjadi kuat dalam setiap narasi kebijakan pemerintah,” tegas Yuvensius .

Fakta pengerusakan dan bangkrutnya cendana dari NTT sudah menjadi sejarah publik yang sulit dilupakan. “Semua bermula ketika dunia internasional hanya memandang cendana dalam satu sudut pandang tunggal yakni hitungan keuntungan ekonomi belaka. Pola yang sama tentunya harus disadari dalam kegiatan MBJR ini,” tutupnya. (Pb-6)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.