Lanjutkan Perjuangan Suster Esto Hentikan Perdagangan Orang, Puluhan Suster dan Pastor Temui Bupati dan Wabup Sikka

212
Lanjutkan Perjuangan Suster Esto Hentikan Perdagangan Orang di Flores, Puluhan Suster dan Pastor Temui Bupati dan Wabup Sikka
Pater Hubert Thomas Hasulie, SVD (berdiri) sedang menyampaikan beberapa catatan kritis terkait kasus 17 anak perempuan di bawah umur yang diduga menjadi korban eksploitasi pada 4 pub di Kota Maumere dalam dialog dengan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (tengah depan) didampingi Wakil Bupati Sikka Romanus Woga (kiri) dan Asisten II Setda Sikka Robertus Ray (kanan) di Ruang Kerja Bupati Sikka, Senin (15/11/2021). Foto Walburgus Abulat

 

MAUMERE, Pojokbebas.com-Puluhan suster, pastor, dan fratres mahasiswa STFK Ledalero serta pejuang hak-hak perempuan dan anak korban kekerasan yang tergabung dalam Tim Anti Perdagangan Orang menemui Bupati Kabupaten Sikka Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si dan Wakil Bupati Sikka Romanus Woga di Ruang Rapat Bupati Sikka, Senin (15/11/2021).

Elemen warga yang datang ini untuk melanjutkan perjuangan Koordinator TRUK-F Suster Eustochia, SSpS yang sebelum meninggal dunia pada 8 November 2021 juga menyambangi Kantor Bupati Sikka untuk memperjuangkan nasib 17 anak perempuan di bawah umur yang dipekerjakan pada 4 pub yang kasusnya belum ditangani secara baik, dan yang pubnya masih beroperasi hingga saat ini, serta yang selama masa hidupnya memperjuangkan untuk menghentikan/stop kasus perdanganan orang di Kabupaten Sikka, khususnya; serta Flores dan Lembata, umumnya.

 

Disaksikan media ini sebelum menemui Bupati dan Wakil Bupati, elemen warga berkumpul di gerbang masuk Kantor TRUK-F Jalan Ahmah Yani Maumere, Senin pagi. Hadir di lokasi itu dan yang turut ke Kantor Bupati Sikka di antaranya Peneliti Candraditya yang juga Dosen STFK Ledalero RP Hubert Thomas Hasulie, SVD; Anggota JPIC Provinsi SVD Ende, RP Marsel Vande Raring, SVD; Provinsial SSpS Flores Bagian Timur, Sr. Inez Surat Lanan, SSpS; Ketua STFK Ledalero RP Dr. Otto Gusti Madung, SVD; RP Ignas Ledot, SVD; Ketua Divisi Advokasi dan Pendamping Hukum TRUK-F, Sr. Fransiska Imakulata, SSpS; Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) STFK Ledalero Fr. Sarnnus Joni Harto, SVD; puluhan suster, pegiat kemanusiaan, Falentinus Pogon, S.H., dan beberapa anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Kabupaten Sikka.

Lanjutkan Perjuangan Suster Esto Hentikan Perdagangan Orang di Flores, Puluhan Suster dan Pastor Temui Bupati dan Wabup Sikka
Suster Margaretha, SSpS (ke-2 dari kanan) sedang memimpin doa sebelum melakukan elemen warga yang tergabung dalam Tim Anti Perdangan Orang beranjak dari Pintu Gerbang Kantor TRUK-F Jalan Ahmad Yani, Senin (15/11). Foto Walburgus Abulat

 

Sebelum bergegas ke Kantor Bupati Sikka, Elemen warga yang tergabung dalam Tim Anti Perdagangan Orang ini berdoa bersama yang dipimpin Suster Margareta, SSpS dan dilanjurkan dengan penerimaan berkat dari Pater Marsel Vande Raring, SVD. Setelah menerima berkat, elemen warga kemudian bergegas ke Kantor Bupati Sikka dengan menggunakan kendaraan roda enam, kendaraan roda empat, dan kendaraan roda dua.

Setiba di Kantor Bupati Sikka, rombongan menunggu kedatangan Bupati Sikka dan Wakil Bupati Sikka sekitar 1 jam karena orang nomor satu dan nomor dua di Nian Tana Sikka itu pada saat itu lagi mengadakan pertemuan penting di salah satu kegiatan.

Pertanyakan Komitmen Pemerintah Atasi Kasus Kekerasan

Perwakilan pemerhati masalah perempuan dan anak di antaranya RP Hubert Thomas Hasulie, SVD; RP Pater Ignas Ledot, SVD; RP Otto Gusti Madung, SVD; RP Marsel Vande Raring, SVD; Falentinus Pogon, S.H., Ketua SEMA STFK Ledalero, Fr. Sarnus Joni Harto, SVD; Anggota WKRI Tessa Nurak; dan anggota TRUK-F Fransiskus Gunadi dan Heni Hungan mempertanyakan komitmen Pemkab Sikka dalam mengatasi masalah kekerasan dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kabupaten Sikka, khususnya kasus 17 perempuan di bawah umur yang menjadi korban eksploitasi dengan modus mempekerjakan mereka pada 4 pub di Kota Maumere, serta kecenderungan tingginya warga Kabupaten Sikka yang menjadi korban TPPO di luar Kabupaten Sikka, termasuk di Malaysia dalam beberapa waktu terakhir.

Perwakilan Tim Anti Perdagangan Orang juga meminta keseriusan Bupati dan Wakil Bupati Sikka untuk mendukung penuntasan proses hukum kasus 17 anak di bawah umur yang ditangani Polda NTT, agar pemilik pub diproses sesuai hukum yang berlaku, izinan pub dicabut untuk sementara, dan mempertanyakan ada dua pub yang diganti nama sementara dalam proses penanganan kasus 17 anak pekerja pub diproses pihak aparat penegak hukum.

Pemerhati masalah perempuan dan anak pada kesempatan ini juga menyoroti Pemkab Sikka cq Bupati Sikka yang hingga saat ini belum memberikan sikap resmi terkait dugaan penyalahgunaan pub di Kota Maumere yang diduga membuka praktik prostitusi dan praktik tak terpuji lainnya.

Lanjutkan Perjuangan Suster Esto Hentikan Perdagangan Orang di Flores, Puluhan Suster dan Pastor Temui Bupati dan Wabup Sikka
Ketua Divisi Advokasi dan Pendamping Hukum TRUK-F, Suster Fransiska Imakulata, SSpS (berdiri) sedang menyampaikan beberapa catatan kritis terkait kasus 17 anak perempuan di bawah umur yang diduga menjadi korban eksploitasi pada 4 pub di Kota Maumere dalam dialog dengan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (tengah depan) didampingi Wakil Bupati Sikka Romanus Woga (kiri) dan Asisten II Setda Sikka Robertus Ray (kanan) di Ruang Kerja Bupati Sikka, Senin (15/11/2021). Foto Walburgus Abulat

 

Bupati Perintahkan Pol PP Gelar Operasi Rutin di Pub

Menanggapi permintaan perwakilan warga, khususnya terkait dugaan pub di Kota Maumere yang mempekerjakan anak di bawah umur dan dugaan adanya praktik prostitusi, Bupati Fransikus Roberto Diogo dalam pertemuan yang dipandu Asisten II Setda Sikka Robert Ray langsung memerintahkan Plt. Kasat Pol PP dan Damkar Sikka Verdinando Lepe untuk melakukan kunjungan rutin guna mengecek aktivitas kegiatan di semua pub di Kota Maumere sejak Senin (15/11/2021).

Mulai hari ini, saya perintahkan Kasat Pol PP 7 Damkar untuk rutin kunjungi pub-pub yang ada di Kota Maumere. Kalau ditemukan ada pub yang membuka praktik prostusi dan pemiliknya mabuk, maka izinan pubnya langsung kita cabut, kata Bupati.
Bupati Fransiskus Roberto Diogo juga menegaskan bahwa pihaknya selaku Bupati Sikka tidak pernah melindungi pub atau mengistimewakan pub-pub tertentu.Kami tidak melindungi pub. Tidak ada satu pemilik pub yang diperlakukan istimewa. Pub yang menyalahgunakan perizinannya harus dicabut, tegas Bupati.

Bupati juga memastikan bahwa tidak boleh ada izinan baru bagi pub yang kasusnya sedang ditangani oleh aparat penegak hukum. Tidak boleh ada izinan baru untuk pub yang kasusnya sedang dalam proses hukum, kata Bupati.

Sementara Wakil Bupati Sikka Romanus Woga dan Asisten II Setda Sikka Robert Ray pada kesempatan ini menyampaikan apresiasi atas perjuangan Suster Eustochia Monika Nata, SSpS atau yang biasa disapa Suster Esto yang hingga ajal menjemputnya terus memperjuangkan nasib kaum perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan, termasuk 17 anak yang menjadi korban dugaan eksploitasi pada 4 pub di Kota Maumere. Suster Esto merupakan sosok biarawati yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan keadilan dan kepastian hukum bagi para perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. Pemerintah memberikan apresiasi, kata Robert Ray.

Kasat Pol PP Siap Tindaklanjuti

Plt. Kasat Pol PP Verdinando Lepe menanggapi perintah Bupati Sikka menyatakan kesiapannya untuk mengunjungi dan memantau aktivias pub di Kota Maumere sejak Senin (15/11/2021). Saya dan anggota siap mengunjungi dan memantau aktivitas setiap pub sejak Senin (15/11), kata Verdinando Lepe.

Verdinando Lepe juga berjanji akan bertindak tegas setiap pemilik pub yang menyalahgunakan izinan untuk kepentingan prostitusi atau perbuatan tidak menyenangkan lainnya. Kita siap tindak tegas Pub yang menyalahgunakan izinan, kata Verdinando.

Provinsial SSpS Siap Dukung Satpol PP

Sementara Provinsial SSpS Bagian Flores Timur, Sr. Inez Surat Lanan, SSpS usia pertemuan dengan Bupati Sikka langsung memberikan dukungan kepada Plt. Kasat Pol PP Verdinando Lepe untuk melakukan pembinaan/pembekalan rohani bagi para pekerja pub dan pemilik pub, bila dibutuhkan. Kami siapkan tenaga untuk memberikan pembinaan rohani kepada penghuni pub bila dibutuhkan oleh Pol PP. Kami siap mengerahkan tenaga ke pub-pub mendampingi Pol PP, kata Suster Inez Surat Lanan.

Lanjutkan Perjuangan Suster Esto Hentikan Perdagangan Orang di Flores, Puluhan Suster dan Pastor Temui Bupati dan Wabup Sikka
Inilah sebagian elemen warga yang tergabung dalam Tim Anti Perdaganan Orang yang mengikuti dialog terkait penanganan 17 anak perempuan korban eksploitasi anak pada 4 pub dengan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, dan Wakil Bupati Sikka Romanus Woga di Ruang Rapat Bupati Sikka, Senin (15/11). Foto Walburgus Abulat

 

Bertemu DPRD Sikka

Media ini mencatat, usai bertemu Bupati dan Wakil Bupati Sikka, elemen warga yang tergabung dalam Tim Anti Perdagangan Orang menyambangi DPRD Sikka untuk berdialog terkait kasus yang dialami 17 anak perempuan yang menjadi korban eksploitasi pada 4 pub di Kota Maumere, dan sikap DPRD terkait dugaan praktik tak terpuji pada pub-pub di Kota Maumere dan masalah perdagangan orang yang kian marak di Kabupaten Sikka belakangan ini.

Diberitakan media ini sebelumnya, elemen warga Kabupaten Sikka yang tergabung dalam Tim  Anti Perdagangan Orang Kabupaten Sikka, Provinsi NTT menggelar demo dua hari secara beruntun untuk menolak dugaan eksploitasi terhadap 17 anak perempuan di bawah umur yang dipekerjakan pada 4 pub di Kota Maumere yang kasusnya ditangani Polda NTT pada Juni 2021 lalu. Demo elemen warga yang terpusat pada 4 kantor pemerintah di Kabupaten Sikka yakni DPRD Sikka, Kantor Bupati Sikka, Polres Sikka, dan Kejari Sikka digelar selama dua hari yakni pada Selasa (2/11) dan Rabu (3/11) antara lain menyuarakan penolakan terhadap pelbagai upaya eksploitasi anak dan meminta para pihak yang didatangi menuntaskanp roses hukum dan sanksi bagi pemilik 4 pemilik pub.

Media ini mencatat, pada Selasa (2/11), ratusan warga yang terlibat dalam unjuk rasa menggelar orasi  di Mapolres Sikka dan Kejari Sikka.

Sementara pada Rabu (3/11/2021), pengunjuk rasa melakukan orasi di Kantor DPRD Sikka dan Kantor Bupati Sikka.

Dalam aksi di Kantor Bupati Sikka, Rabu (3/11), pengunjuk rasa diterima oleh Asisten Administrasi Umum atau Asisten II Robertus Ray, Asisten I Drs. (Ekon) Bernadus Ratu, dan Plt, Kadis Satpol PP & Damkar Sikka Verdinando Lepe  di Ruang Kerja Bupati. Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo,dan Wakil Bupati Romanus Woga tidak berada di tempat karena sedang melakukan tugas di luar kantor.

Dalam aksi di  Kantor Bupati Sikka, Staf TRUK-F Heny Hungan membacakan 4 tuntutan.

Pertama, Bupati Sikka harus melakukan pengontrolan yang sistematis, profesional dan independen terkait izin operasional pub-pub yang ada di Kabupaten Sikka.

Kedua, Bupati Sikka harus meninjau kembali izin operasi 4 pub yang terkait dengan kasus ini untuk dibekukan sementara sampai dengan kasus ini benar-benar selesai.

Ketiga, Bupati Sikka harus mencabut kembali izin 2 pub yang beroperasi dengan nama baru yang berlokasi di tempat kejadian perkara sementara waktu sampai kasus ini benar-benar selesai. Keempat, Bupati Sikka
harus mengeluarkan pernyataan sikap yang tegas sebagai kepala daerah yang memiliki kewajiban untuk melindungi hak setiap warga di nian tanah ini. Jangan tinggal diam dengan persoalan-persoalan kemanusiaaan. Sekali lagi, kami mendesak agar Bupati segera mengeluarkan pernyataan sikap atas persoalan ini.*(Walburgus Abulat)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.