Me-reinkarnasi-kan Fungsi Eks Kantor Dan Waserda KUD Lela Jadi Rumah Produksi (Sebuah Harapan dan Sumbangan Pemikiran)

Oleh Alvares Keupung*

156
makna puasa
Alvares Keupung

 

1. Pengantar :

Tanggal, 10 Maret 2022, seorang sahabat facebooker Bapak Agripinus Yoseph ( dalam hal ini penulis menyebut dan menyapanya Bapak secara spesial, karena pertalian darah istrinya dengan mama penulis ) mempost foto bangunan eks Kantor dan Waserda KUD Lela yang pernah jaya di masanya. Bangunan itu ibarat rumah tua yang tak berpenghuni lagi. Penulis coba menebak saja, barangkali Bapak Agripinus Yoseph sengaja mempost berangakat dari keprihatinannya, untuk juga menggugah keprihatinan banyak orang demi melihat nasib bangunan tua ini. Atas postingan itu, secara pribadi penulis pun tergugah dan terinspirasi untuk memberikan pikiran melalui tulisan ini, yang kiranya juga menjadi pemikiran bersama demi kepentingan banyak orang. Dengan pertanyaan dasarnya, mau diapakan bangunan tua itu ?

2. Melihat Sejarah Koperasi Indonesia
2.1. Pengertian Koperasi

Koperasi merupakan sebuah organisasi yang berbadan hukum dengan asas dasarnya adalah kekeluargaan beranggotakan orang perorangan. Menilik dan mengacu pada pengertiannya, maka spirit dasar sebagai tujuan koperasi adalah kesejahteraan para anggotanya. Dengan itu berarti, seluruh proses operasional koperasi dijalankan bersama oleh seluruh anggota, di mana seluruh anggota memiliki porsi ( hak ) yang sama dalam memberikan suaranya. Dalam artian bahwa setiap anggota memiliki hak yang proporsional atas keputusan intern kelembagaan : Koperasi.

Pasal 33 ayat ( 1 ) UUD 1945, menegaskan bahwa ” Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan “. Pesannya jelas, sistem perekonomian yang mesti dikembangkan adalah sistem yang tidak terbangun atas basis persaingan dan asas individualistik. Maka, secara konstitusi eksistensi lembaga yang bernama koperasi dijamin dan dilindungi oleh Undang – Undang Dasar 1945. Karena, koperasi perekatnya adalah kebersamaan dan kekeluargaan.

Koperasi sebagai sebuah organisasi ekonomi yang berwatak sosial, sejatinya hadir sebagai perkumpulan orang ( bukan perkumpulan modal ). Dia dibentuk oleh para anggotanya dengan kapasitas pelayanan untuk kesejahteraan anggotanya. Dari sini dapat dimaknai bahwa, ” misi dan etika kerja ( perkumpulan ) koperasi adalah pelayanan sebaik – baiknya dan semaksimal mungkin kepada anggota ” ( Mubyarto, Dalam ” Pancasila Sebagai Ideologi “, 1990 : 243 ). Kosistensi koperasi sebagai sebuah wadah kebersamaan dan kekeluargaan dengan kekuatannya ada pada anggota, hukumnya adalah menjamin kesejahteraan anggota mesti terus dijaga sebagai karakter utama koperasi. Demikian cita – cita luhur koperasi dimaksudkan hadir di tengah – tengah kehidupan anggotanya, yang dijamin legalitasnya secara konstitusional : UUD 1945 Pasal 33 ayat 1.

2. 2. Lahirnya Koperasi Di Indonesia

Mengutip www. anneahira. com, ” Koperasi pertama kali diperkenalkan seorang berkebangsaan Skotlandia, yang bernama Robert Owen ( 1771 – 1858 ) “. Rupanya ini merupakan embrio awal yang menjadikan koperasi berkembang pesat di berbagai negara. Dan negara Indonesia adalah salah satu negara yang memberi ruang bagi koperasi untuk berkembang.

Sejarah awal munculnya Koperasi di Indonesia dimulai pada tahun 1896, yang diperkenalkan oleh Patih R. Aria Wiria Atmaja. Dilatari oleh sebuah keprihatinan atas persoalan sosial yang dialami para pegawai negeri yang mendapatkan pinjaman uang dengan bunga tinggi dari para rentenir. Dia kemudian mendirikan bank pegawai negeri dengan mengadopsi sistem koperasi kredit di Jerman.

Dalam perkembangannya, sistem koperasi kemudian mudah beradaptasi dan cepat diterima karena iklim semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan yang menjadi spirit budaya Bangsa Indonesia. Spirit ini, kemudian menjadi asas dari koperasi di Indonesia.

Pasca kemerdekaan Indonesia, persis di tanggal 12 Juli 1947, gerakkan koperasi di Indonesia mengadakan konggres pertama di Tasikmalaya. Namun, saat itu situasi belum kondusif, maka segala hasil keputusan konggres pertama di Tasikmalaya belum sepenuhnya direalisir. Oleh Karena itu, pada tanggal 12 Juli 1953 diadakan konggres koperasi kedua di Bandung. Salah satu butir keputusannya adalah : mengangkat Mohamad Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Sejak saat itu, setiap tanggal 12 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi Indonesia dan Mohamad Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

3. Sepintas Tentang KUD ( Koperasi Unit Desa )

Koperasi yang sudah lahir, hadir, tumbuh dan berkembang di Indonesia , pada sisi lain menjadi salah satu sokoguru perekonomian bangsa selain usaha negara dan usaha swasta. Dengan kata lain, koperasi menjadi mitra penguat perekonomian bangsa. Sejalan dengan itu, atas dasar misi dan etika kerjanya, maka dipandang perlu koperasi mesti mengembangkan sayapnya. Salah satunya adalah : KUD ( Koperasi Unit Desa ) dan induk koperasi menjadi rujukannya terutama tujuannya untuk kesejahteraan anggotanya. Mari kita melihat, seperti apakah KUD itu ?

BACA JUGA :  Rizieq Syihab Ditahan Demi Tegaknya Wibawa Hukum  
Me - Reinkarnasi - kan Fungsi Eks Kantor Dan Waserda KUD Lela Jadi Rumah Produksi
Bangunan eks kantor dan waserda KUD Lela

 

3. 1. KUD ( Koperasi Unit Desa ) Umumnya

Pada tahun 1963, atas prakarsa pemerintah dibentuklah wadah semacam koperasi di kalangan petani yang dinamakan Koperta ( Koperasi Pertanian ). Koperta dibentuk dengan mengadopsi spirit koperasi secara umum yang bergerak dengan produk utama ( padi ) untuk memenuhi kebutuhan utama bahan makanan pokok. Pada tahun 1966 – 1967 dibentuklah BUUD ( Badan Usaha Unit Desa ) sebagai pengembangan dari Koperta. Tugas utama BUUD adalah membantu para petani produsen dalam mengatasi masalah produksi ( diringkas dari induk – kud . com ). KUD lahir pada tahun 1973 dan secara organisatoris yang memiliki induk organisasinya, pada tanggal 12 November 1979.

Sesungguhnya BUUD menjadi cikal bakal lahirnya KUD. BUUD kemudian bermetamorfosis menjadi KUD yang bertitik fokus pada konteks masyarakat pedesaan. Artinya, secara organisatoris KUD senantiasa cenderung pada bidang – bidang pertanian sebagai basis ekonomi masyarakat pedesaan.

Meskipun KUD sendiri bukan merupakan organisasi bentukan pemerintah, tetapi senantiasa berada di bawah pengawasan pemerintah, terutama berkaitan dengan proses produksi dan transaksi jual beli hasil – hasil pertanian masyarakat. Pengawasan dimaksudkan, agar KUD sebagai organisasi milik masyarakat tidak menjadi tengkulak yang menekan masyarakat periferis ( golongan petani ). Peranan lain dari pemerintah ( dalam hal ini Kementerian Koperasi ) terhadap KUD adalah penyaluran sarana produksi pertanian. Dengan itu, intervensi pemerintah cukup punya andil untuk menyokong geliat perekonimian yang sedang dijalankan oleh KUD sebagai salah satu sokoguru perekonomian bangsa.

3. 2. Melihat Sepintas KUD Lela

Tidak jauh berbeda dengan KUD pada umumnya, KUD Lela juga hadir dengan semangat yang sama : memberdayakan masyarakat pertanian pada umumnya dan mensejahterakan anggotanya pada khususnya.

Seturut pengalaman empirikal penulis, kehadiran KUD Lela bergerak dalam sektor perekonomian rakyat. Bertitik fokus pada sektor pertanian, KUD Lela berupaya melakukan pelayanan kepada masyarakat umumnya dan anggota khususnya dengan mengeksplor ( baca : membeli ) hasil pertanian masyarakat.

Sistem yang dibangun KUD Lela adalah bertitik tolak dari sistem perkoperasian nasional. Dalam arti, bahwa KUD Lela dibangun dan dibentuk dengan semangat asas kekeluargaan dan gotong royong. Perkoperasian nasional yang menjadi payung ( juga ) bagi KUD Lela, menjadi landasan bagi KUD Lela bagaimana mengembangkan asas perkoperasian, yaitu : untuk kesejahteraan anggotanya.

Atas asas kesejahteraan anggotanya, KUD Lela berkegiatan membeli hasil – hasil pertanian secara langsung dari anggotanya, pun masyarakat pada umumnya. Hemat penulis, hal ini dimaksudkan KUD Lela membantu para anggotanya dan masyarakat umumnya dari praktek para tengkulak yang secara ekonomis dapat ” membelenggu ” anggota dan masyarakat.

Hasil – hasil pertanian, seperti : kopra, kakao, mente, asam, kemiri menjadi ” bidikan ” KUD Lela untuk menunjang eksistensinya sebagai koperasi milik rakyat. Dan memang geliat perkoperasian dan perekonomian yang dibangun bersama anggotanya, menjadikan KUD Lela berjaya di masanya. Bahkan pada satu titik masa, KUD Lela menjadi yang terbaik nasional baik secara manajemen maupun pengembangan usahanya.

3. 3. Hal – Hal Inovatif Yang Dibuat KUD Lela
3. 3. 1. Gedung Kantor Baru

Organisasi apa pun juga, membutuhkan soliditas manajemen untuk menunjang operasionalisasi organisasi. Organisasi setara KUD, juga KUD Lela membutuhkan manajemen baik pengurus maupun staf pegawai kantornya. Maka, demi menunjang aktivitas manejerial dan perkantoran, pada awal tahun 1990an manajemen KUD Lela membangun sebuah gedung baru yang representatif sebagai pusat perkantoran KUD Lela.

3. 3. 2. Waserda ( Warung Serba Ada )

Secara manajerial, KUD Lela kian berkembang pesat. Setelah gedung kantor baru dibangun, pada bangunan yang sama di salah satu bagiannya, dihadirkan sebuah Waserda ( Warung Serba Ada ). Waserda ini sebentuk toko kecil yang menyediakan berbagai kebutuhan ( termasuk sembako ) bagi masyarakat umumnya dan anggota khususnya.

BACA JUGA :  Desaku Yang Kucinta

Waserda milik KUD Lela ini hadir tidak dimaksudkan sebagai kompetitor yang mematikan usaha swasta perorangan. Justru kehadirannya sebagai mitra yang sehat, karena patokan harganya sangat bersahabat disesuaikan dengan daya jangkau dan daya beli anggota dan masyarakat. Karena, KUD Lela hadir dengan mengusung asas kesejahteraan anggotanya.

3. 3. 3. Wartek ( Warung Telekomunikasi )

Secara telekomunikasi yang membantu komunikasi, pada tahun 1990an di Kecamatan Lela, tidak jauh berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Tidak ada jaringan telepon rumah. Jaringan telkomsel melalui sambungan telepon selular, belum ada. Komunikasi lebih cenderung lewat komunikasi surat menyurat.

Melihat kondisi seperti ini, manajemen KUD Lela membangun jaringan kerja sama dengan telkomsel. Maka, dibangunlah Wartek ( Warung Telekomunikasi ) untuk membantu masyarakat dalam membangun komunikasi melalui jaringan telepon.

Demikianlah beberapa langkah inovatif yang mampu dihadirkan manajemen KUD Lela untuk tetap eksisnya koperasi milik masyarakat anggotanya.

4. Era Pasar Bebas : Runtuhnya Eksistensi KUD

Awal milenium kedua ( awal tahun 2000an ) eksistensi KUD benar – benar runtuh. Di mana – mana KUD kolaps. Milenium kedua sebagai era pasar bebas menjadi titik awal jatuhnya kejayaan KUD secara nasional. Era pasar bebas yang ditandai dengan persaingan perdagangan dalam jaringan perekonomian pasar daerah, regional, nasional dan internasional. KUD dengan metode pola lama, terutama ketika masyarakat dan anggotanya lebih memilih menjual hasil produksi pertaniannya secara langsung ke pasar bebas. Kondisi demikian, membuat KUD kehabisan ” daya ” saing. Konsekuensinya, banyak KUD ( termasuk KUD Lela ) jatuh pailit.

Kolapsnya KUD, mau tidak mau secara manajerial, KUD mesti ” bertekuk lutut “. Kepengurusan vakum dengan sendirinya. Produk – produk pertanian yang menjadi ” dapur ” andalan bagi KUD tidak lagi mensuplai ke KUD. Pasar bebas yang lebih menjamin harga daya beli yang lebih baik, menjadi titik ketertarikan masyarakat dan anggota beralih kepada pasar bebas. Era pasar bebas : runtuhnya eksistensi KUD.

5. Eks Kantor Dan Waserda : Bukti Monumental KUD Lela

Dampak runtuhnya eksistensi KUD secara nasional karena persaingan pasar bebas, juga dirasakan oleh KUD Lela. KUD Lela yang pernah jaya di masanya, juga kolaps. Geliat perekonomiannya macet total. Secara manejerial, KUD Lela tidak mampu lagi menghidupi dirinya. Keseluruhan keuntungan bagi anggotanya mulai “goyah”, pengelolaan aset perlahan mulai tidak jelas peruntukkannya, sistem manajemen dan kepengurusan tidak jelas, pertanggunjawaban dipertanyakan. Akibatnya, banyak anggota memilih untuk mundur dari keanggotaannya sebagai bentuk ketidakpercayaan lagi terhadap KUD. Kalau mau diberi judul, ” KUD Lela Jatuh Pailit ” sebagai akibat dari pasar bebas dan mismanajemen. Yang tertinggal adalah, Eks Kantor Dan Waserda : Bukti Monumental KUD Lela pernah ada. Dan Pertanyaannya : mau diapakan ?

5. 1. Alih Fungsi Eks Kantor Dan Waserda KUD Lela Menjadi Rumah Produksi

Sejak berakhirnya masa kejayaan KUD Lela, secara operasional eks kantor dan waserda KUD Lela berhenti dari pelayanannya. Manajemen yang bangkrut, tidak mampu lagi mengelola aset “berharga” milik KUD Lela ini. Meski demikian, secara fisik aset monumental ini tetap berdiri hingga saat ini.

Menjadi keprihatinan penulis, bahwa aset yang sedemikian berharga yang hadir dengan cucuran keringat anggotanya, dibiarkan mubasir. Sejauh ini, entahkah tidak ada sentuhan pikiran konstruktif untuk mendayagunakannya ? Sangat boleh jadi, barangkali ada pikiran – pikiran konstruktif untuk “menyentuhnya”, namun masih terbentur oleh hal – hal prosedural. Atau dengan kata lain, ke saluran manakah pikiran konstruktif bermuara ?

Pada akhir tulisan ini, penulis memberanikan diri untuk melemparkan gagasan sebagai sumbangan pikiran yang konstruktif, agar eks bangunan kantor dan waserda milik KUD Lela tidak terlampau lama “distigma” mubasir. Barangkali, menjadi Rumah Produksi adalah salah satu langkah solutif yang mesti dipikirkan bersama.

Wilayah Kecamatan Lela memiliki 9 Desa dengan karakter potensi yang beragam. Kesembilan Desa yang potensial ini bisa menjadi wilayah – wilayah yang dapat memberikan sumbangsihnya bagi Rumah Produksi sebagaimana penulis gagaskan.

Hal – hal potensial, hemat penulis dapat dipetakan secara garis besar berdasarkan karakter potensi wilayahnya. Katakanlah sebagai misal :

BACA JUGA :  Pandemi Covid-19 dan Cara Antisipasi Keadaan Terburuk 

Pertama, Desa Sikka : sumber mata air Waermea bisa dijadikan bahan baku bagi air kemasan yang diproduksi Rumah Produksi. Kelimpahan kerang bisa menjadi sumber pembuatan kerajinan tangan untuk souvenir atau cenderamata produksi Rumah Produksi. Kawa atau Bongor ( sejenis ikan kecil yang kaya protein ) bisa diolah menjadi makanan kemasan yang diproduksi oleh Rumah Produksi.

Kedua, Desa Du : dari desa ini, pengrajin yang potensial dengan spesifikasi perabot rumah tangga anyaman, dapat berkolaborasi dengan Rumah Produksi untuk diproduksi bersama.

Ketiga, Desa Watutedang : hampir seperti Desa Sikka, desa ini juga memiliki potensi laut yang cukup menjanjikan, dengan para nelayan yang handal. Potensi laut ini dapat diolah menjadi makanan kemasan di Rumah Produksi dengan bahan baku Ikan.

Keempat Desa Lela : di desa ini, ada potensi yang sangat tekenal, yaitu : Ikan Tembang Lela yang gurih. Rumah Produksi dapat memproduksi Ikan Tembang awetan dalam kemasan Ikan kaleng. Atau kemasan lainnya berbahan baku ikan sejenis atau lainnya.

Kelima, Desa Iligai : Desa Iligai sangat potensial dengan hasil pertanian dan perkebunan, semisal : Buah Salak dan Buah Kakao. Kolaborasi bersama Rumah Produksi, dapat mempeoduksi makanan atau minuman kemasan berbahan baku Buah Salak dan Buah Kakao.

Keenam, Desa Baopa’at : di desa ini terdapat cukup banyak Pohon Bambu yang cukup menjanjikan untuk produksi perabot rumah tangga berbahan baku bambu.

Ketujuh, Desa Hepang : dengan banyaknya pengrajin sapu ijuk dan sapu lidi, penulis berpikir Rumah Produksi bisa mengakomodirnya menjadi kolaborasi produksi bersama. Banyaknya pengrajin kain tenun ( sarung ), sepantasnya juga diakomodir untuk menjadi produksi bersama Rumah Produksi berupa cenderamata arau souvenir berbahan kain tenun ( sarung ).

Kedelapan, Desa Korowuwu : di sepanjang pinggiran kali desa ini, banyak penambang batu kali dan pasir yang mengais rezekinya dari hasil tambang. Ada hal produktif yang mungkin bisa dipikirkan oleh Rumah Produksi untuk berkolaborasi bersama memproduksi hasil produksi yang berbahan batu kali dan pasir.

Kesembilan, Desa Kolidetung : Desa Kolidetung cukup banyak menghasilkan sayuran dan buah holtikultur dari kelompok tani. Kolaborasi yang baik antara kelompok tani dengan Rumah Produksi mampu menghasilkan sesuatu yang produktif bagi kepentingan banyak orang.

Bagi penulis, hal – hal potensial yang demikian, jika dipikirkan dan didiskusikan bersama, maka keprihatinan terhadap eks kantor dan waserda milik KUD Lela tidak menjadi sebuah keprihatinan berkepanjangan. Tentu masih banyak potensi – potensi lain yang mesti digali bersama untuk ditingkatkan menjadi barang – barang produksi di Rumah Produksi. Ruang diskursus sudah ada, pertanyaannya : siapa yang berani membukanya ? Jawaban atas pertanyaan ini, Camat Lela sebagai pimpinan wilayah Kecamatan setempat mesti berani mengambil langkah untuk memfasilitasi membuka ruang diskusi yang produktif. Para mantan anggota KUD Lela yang masih hidup diinventarisir, para Kepala Desa dari kesembilan desa, Anggota Legislatif setempat, para tokoh masyarakat, para toko agama, toko orang – orang muda, para pelaku usaha diundang untuk membangun diskusi bersama demi memikirkan bagaimana bangunan tua itu dieksplor menjadi lebih produktif. Jika sepemahaman, proses perizinan terkait perubahan nomenklatur eks bangunan kantor dan waserda KUD Lela, penulis memandang perlu Camat Lela dapat mengupayakannya seturut ketentuan birokrasi yang berlaku. Mari membangun pikiran – pikiran yang konstruktif menjadi mimpi bersama. Mengapa tidak ?

6. Kata Akhir

Berpijak pada semangat koperasi, yaitu : asas kekeluargaan dan gotong royong, maka perekonomian bersama mesti menjadi semangat dalam pembangunan ekonomi bangsa. Bangsa akan semakin maju, jika semangat yang ada mampu diakomodir untuk mengeksplor potensi – potensi alamiah untuk meningkatkan produktifitas dan ketahanan ekonomi.

Maka, hal serupa mesti diadopsi untuk memanfaatkan kembali aset KUD Lela yang selama ini tertidur, menjadi aset yang produktif. Rumah Produksi bisa menjadi rumah yang prospektif dan potensial untuk dikembangkan. Setidaknya, membuka ruang diskusi bersama menjadi jalan awal menuju : Me- Reinkarnasi-kan Fungsi Eks Kantor Dan Waserda KUD Lela Jadi Rumah Produksi.***

*(Penulis adalah warga Lela diaspora. Saat ini berdomisili di Ende ).

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.