Mengendus Fenomena Tanah Bergerak di Dusun Tado

1.475
Mengendus Fenomena Tanah Bergerak di Dusun Tado
Lokasi tanah bergerak (terbelah) terjadi di Kampung Wae Munting, RT 006 Dusun Tado, Desa Persiapan Benteng Tado, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Foto : Robert Perkasa, Rabu (16/3/2022)

 

SANO NGGOANG, Pojokbebas.com-Peneliti Ahli Madya Bidang Geoteknik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Adrin Tohari menjelaskan fenomena tanah bergerak seperti itu biasa dikenal dengan tanah longsor bertipe nendatan. Penyebab umum terjadi tanah bergerak karena adanya kenaikan air di dalam tanah yang dipicu oleh hujan.

Tanah bergerak tipe nendatan ini bisa menyebabkan jalan terbelah, dan turun. Jika retakan melewati rumah, maka rumah dapat ambruk, retak, atau ambles. Biasanya, fenomena tanah bergerak dengan tipe nendatan bergerak secara perlahan. Tidak terjadi tiba-tiba. Sementara, fenomena tanah longsor yang terjadi dengan sangat cepat, adalah tanah bergerak dengan tipe luncuran.

“Sebenarnya fenomena ini bisa diamati oleh masyarakat terdampak. Biasanya muncul retakan-retakan kecil lama-lama muncul amblesan dan lama-lama makin besar,” jelas Adrin, dikutip dari Kompas.com.

Fenomena tanah bergerak dengan tipe nendatan biasanya terjadi di daerah yang luas. Daerah tersebut umumnya satu hingga beberapa kampung. Adapun risiko fenomena yang terjadi umumnya adalah jalan atau rumah yang rusak.

Adrin mengatakan, berdasarkan pengamatannya, umumnya tanah bergerak di daerah-daerah yang banyak lahan basah seperti dekat persawahan, kolam, maupun daerah yang di bawahnya sungai.

Hal ini karena di beberapa sungai terdapat bebatuan yang sulit untuk tempat air merembes masuk sehingga air merambat naik, mengenai bagian lemah dan terjadilah tanah bergerak. Untuk kasus tanah bergerak dengan tipe nendatan yang merusak, Adrin menilai, relokasi adalah solusi yang tepat.

Permukiman penduduk sebaiknya dipindahkan ke lokasi atau daerah yang lebih aman atau stabil (berdasarkan hasil kajian geologi), tetapi mereka masih bisa bercocok tanam di lokasi yang lama. “Karena tanah bergerak tipe ini acapkali terjadi secara berulang dalam kurun waktu beberapa tahun kemudian,” kata dia.

Adrin menyebutkan, tanah bergerak tipe nendatan semacam ini berbeda dengan liquifaksi. Liquifaksi terjadi karena adanya getaran gempa.

Mengendus Fenomena Tanah Bergerak di Dusun Tado

Penampakan tanah terbelah sepanjang ratusan meter di ujung bawah Kampung Wae Munting, RT 006 Dusun Tado. Foto : Robert Perkasa, Rabu (16/3/2022)

 

Fenomema tanah bergerak di Dusun Tado

Kasat mata, tekstur Dusun Tado berada di kemiringan. Dusun ini dilingkungi pegunungan Golo Leleng, hamparan perkebunan kemiri dan hutan Jati.  Akses jalan menuju Dusun mungil ini melalui cabang Dahot-Pusut-Bibang-simpang Ndiri dengan tekstur jalan berkelok dan tanjakan tajam sekira 6 kilo meter atau 3 km dari simpang Ndiri.

BACA JUGA :  Relokasi Warga Menunggu Hasil Penelitian Ahli Geologi

Dusun Tado ditopang dua anak Kampung ; Dange dan Wae Munting yang letaknya berdekatan sekira ratusan meter. Khusus kampung Wae Munting, diapiti dua anak sungai, Wae Dongka sebelah kanan dan Wae Tiku Dange di seberang kiri. Sementara itu di sebelah atas kampung ini terdapat banyak sumber air (mata air) termasuk Wae tiku  (sumber air bersih) bagi warga kampung ini.

Di bagian atas kampung, persis di depan rumah bapak Benyamin Nene Haefeto (salah seorang korban) tampak berair mirip rawa-rawa. Sedangkan di bagian bawah Kampung itu terdapat hamparan sawah dan bentangan perkebunan warga.

Sebanyak 62 KK dengan total penduduk 200-an jiwa menghuni kampung ini. Kampung Wae Munting, Dange dan Mengkaleng masuk dalam wilayah administrasi kepemerintahan Desa Persiapan Benteng Tado (pemekaran dari Desa induk Nampar Macing) dengan total 132 KK atau 484 jiwa penduduknya adalah petani.

Empat tahun terpapar bencana alam tanpa penanganan

Kampung Wae Munting terpapar bencana alam tanah bergerak (terbelah). Fenomena ini mulai muncul sejak tahun  2018 hingga 2022.  Terdata, 11 rumah warga rusak  sepanjang empat tahun terakhir. Satu rumah roboh-hancur berantakan. Tiga rumah rusak berat dan 7 lainnya rusak ringan. Kondisi terparah terjadi di RT 006 Kampung Wae Munting. Dugaan sementara, penyebab kerusakan rumah warga di Dusun Tado karena fenomena tanah bergerak/tanah terbelah.

Pantauan Pojokbebas.com, Rabu (16/3/2022) tampak tanah terbelah sepanjang ratusan meter  di ujung kampung ini.  Separuh jalan telford di ujung bawah Kampung menuju SDI Mengkaleng juga tampak terbelah. Kedalaman permukaan tanah terbelah sekira satu meter.  Sementara di  setiap rumah yang rusak itu ditemukan titik- retakan pada permukaan lantai, fondasi hingga tembok rumah dengan  kedalaman dan lebar retakan bervariasi.

BACA JUGA :  Nasibmu Hutan Bowosie

Tokoh masyarakat setempat, Yohanes Sehadun mengatakan fenomena tanah bergerak di kampung itu terjadi bersamaan  dengan kenaikan permukaan tanah di dekat hamapar sawah warga sekitar ratusan meter jaraknya dari lokasi tanah terbelah yang terjadi di ujung kampung itu.

“Kami juga bingung, tanah yang turun di ujung kampung ini lari ke mana? Anehnya lagi, di sekitar sawah di bawah sana juga terjadi permukaan tanahnya naik. Sebelumnya permukaan tanah itu rata”, ujar bapak Yohanes.

Mengendus Fenomena Tanah Bergerak di Dusun Tado

Lokasi tanah bergerak (terbelah) terjadi di Kampung Wae Munting, RT 006 Dusun Tado, Desa Persiapan Benteng Tado, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Foto : Robert Perkasa, Rabu (16/3/2022)

 

Enggan tinggalkan rumah

Dari 11 KK dengan puluhan warga penghuni rumah yang terdampak bencana, kini masih ada warga (korban) yang memilih bertahan di rumah mereka meskipun berisiko. Sebagian lagi menginap di rumah keluarga tetangga. Para korban pasrah sembari membutuhkan perhatian serius pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

“Sebetulnya bencana alam yang ada di Wae Munting sejak tahun 2018. Waktu itu yang menjadi korban hanya 1 rumah atas nama Benyamin Nanifeto. Saya sebagai ketua kelompok penerima bantuan BSPS sudah laporkan ke pemerintah desa, namun tidak ada tanggapan.

Pada tahun 2021 intensitas curah hujan semakin tinggi sehingga bencana alam yang dialami oleh saudara Benyamin dialami juga oleh 3 warga lainnya di Kampung ini. Dan tahun 2021 sempat kami laporkan bersama bapak Dusun bahwa yang jadi korban di sini ada 4 rumah. Pemerintah Desa juga sudah melaporkan kepada pemerintah yang lebih tinggi namun  sampai saat ini belum ada pihak terkait yang datang monitor.

Di tahun 2022 ini korban semakin bertambah menjadi 10 rumah. Bencana ini membuat warga kampung ini tidak nyaman, apalagi kalau hujan malam hari. Warga waspada tinggal di depan rumah”, tutur Ketua BPD, Viktor Bitrudis, Rabu  (16/3).

Kepala Dusun Tado, Mikael Agung juga mengemukakan hal senada. Ia merincikan, dari total 11 rumah yang terdampak, 4 rumah kategori rusak berat dan 7 lainnya rusak ringan.

Rusak berat

1. Rumah  tembok permanen ukuran 6×8 meter milik Simplisius Jempo dan tiga anggota keluarganya.

BACA JUGA :  Jokowi Minta Program Penurunan Stunting Dijalankan dengan Fokus dan Tepat Sasaran

2. Rumah semi permanen berdinding  papan ukuran 6×8 meter milik Matius Demin dan 7 anggota keluarganya.

3. Rumah permanen 6×8 meter milik Benyamin Nene Haefeto dengan dua anggota keluarganya.

4. Rumah semi permanen ukuran 6×7 meter milil Kosmas Mandang dan dua anggota keluarganya.

“Keempat rumah yang rusak berat ini terjadi tahun 2021. Sedangkan khusus untuk rumah bapak Benyamin mengalami dua kali tertimpa bencana, yaitu tahun 2018 dan tahun ini mengalami kerusakan total”, jelas Mikael Agung.

Rusak ringan

1. Rumah permanen ukuran 7×9 meter milik Wilhelmus Gostram dan 3 anggota keluarganya.

2. Rumah permanen ukuran 6×8 meter milik Kristoforus Mantat dan 3 anggota keluarganya.

3. Rumah permanen ukuran 4×7 meter milik seorang mama Sisi Dawas, seorang lansia 80 tahun.

4. Rumah semi permanen ukuran 6×8 milik Daniel Derin dan 7 anggota keluarganya.

5. Rumah semi permanen ukuran 6×6 meter milil Viktor Bitrudis (Ketua BPD)  dan 3 anggota keluarganya.
Sedangkan dua rumah lainnya berada di Kampung Dange RT 005.

6. Rumah permanen ukuran 6×9 meter  milik Karolus Kembung dan 6 anggota keluarganya di Kampung Dange, RT 005.

7. Rumah berlantai semen ukuran 6×6 meter milik Mikael Agung, Kepala Dusun Tado yang dihuni 5 orang anggota keluarganya di Kampung Dange, RT 005.

Rumah bantuan

Data yang dihimpun di lokasi kejadian menyebutkan 6 dari 11 rumah yang rusak itu merupakan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) TA 2017 dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Satuan kerja non vertikal tertentu penyediaan Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mantan Ketua Kelompok penerima manfaat BSPS TA 2017, Viktor Bitrudis merincikannya, nominal bantuan  tersebut berkisar Rp10.000.000 hingga R 15.000.000 per unit.

“Bangun rumah baru senilai Rp 15.000.000/unit, rehap berat Rp 10.000.000/unit dan rehap ringan Rp7.500.000/unit”, jelas Viktor yang juga Ketua BPD Desa Persiapan Benteng Tado. (Robert Perkasa)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.