kominfo iklan

Pancasila adalah Dasar NKRI Bukan Pilar (Bedah Buku)

Oleh: Konstantinus Hati, S.ST.,M.Kes

138
Cegah Covid-19 Masuk Desa, Tingkatkan Surveilance Puskesmas
Konstantinus Hati, S.ST.,M.kes

 

PANCASILA dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah lahir pada 17 Agustus 1945. Dia, NKRI lahir dari dalam Rahim Negeri Nusantara dan kini juga hidup, bertumbuh dan berkembang dalam bumi pertiwi Nusantara juga. Negeri Nusantara sudah ada berjuta-juta Abab sebelum negeri terbaru ini yaitu NKRI. Sudah banyak peradaban yang ditemukan di bumi pertiwi Nusantara ini pada zaman NKRI. Temuan yang dimaksudkan adalah Baik peradaban yang ditemukan di daratan maupun peradaban yang ditemukan di dasar laut Nusantara. Semua temuan itu merupakan bukti bahwa sudah ada kehidupan yang memiliki budaya, tata Negara dan agama pada bumi Nusantara.

Seperti temuan George Coedes yang diketahui melalui publikasinya tahun 1918. Publikasi Coedes telah menunjukan kepada kita anak NKRI saat ini bahwa pada zaman sebelum kita di Bumi yang kita pijak sudah ada kehidupan yang sangat beradab yaitu kerajaan Sriwijaya (Taylor, Jean Gelman (2003) Indonesia Peoples and Histories, New Haven and London). Padahal, sejarah kerajaan Sriwijaya ini telah tenggelam dan hilang dari anak Nusantara. Hal ini terjadi karena anak Nusantara sendiri sudah terkungkung oleh kemajuan pada zaman NKRI sehingga lupa sejarah. Sehingga George Coedes terpanggil untuk melakukan penelitian lewat tulisan Pendeta I Tsing dari Dinasti Tang, yang dalam tulisannya melukiskan kunjungannya ke kerajaan Sriwijaya pada tahun 671. Dalam tulisan Pendeta I Tsing menggambarkan adanya peradaban yang paling tua di Sriwijaya adalah Prasasti kedukan Bukit di Palembang (Casparis, J.G. (1975). Indonesian Palaeography; a History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C.A, Part 1500. E.J. Briil).

Kehidupan-kehidupan leluhur anak Bangsa yang hidup di Bumi Nusantara telah digambarkan oleh hidup anak Bangsa Nusantara pada zaman kerajaan Nusantara seperti zaman kerajaan Sriwijaya yang berdaulat sejak tahun 670-1025. Kerajaan yang sangat berpengaruh sampai ke Asia ini, kekuasaanya membentang dari Sumatra, kepulauan Riau, Bangka Belitung, Singapura, Semenanjung Malaka, Thailand, Kamboja, Vietnam Selatan, Kalimantan, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kerajaan Sriwijaya memiliki kosmologi budaya yang bisa mengatur masyarakatnya untuk hidup mengakui adanya Tuhan sebagai wujud yang Maha Tinggi, menghormati sesama, berkomunikasi dengan alam. Semua itu membentuk ritual yang diatur dalam ajaran Budha Mahayana. Sriwijaya telah memiliki budaya seni tari, seni sastra dan budaya Ritual. Peninggalan Candi-candi dan prasasty Sriwijaya telah menjadi wisata terbaik saat ini.

Selain cerita Sriwijaya masih terlalu banyak ceritra peradaban terdahulu di Nusantara seperti Dinasty Syailendra telah mendirikan Candi Borobudur sekitar tahun 770 selesai pada tahun 825 masehi (Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Balai Konversi Borobudur. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Pendidikan Tinggi 2019). Candi ini didirikan sebagai tempat pemujaan terhadap wujud yang Maha Tinggi dari ajaran Budha Mahayana. Candi atau Kuil Borobudur merupakan candi atau kuil terbesar di dunia. Ini menunjukan bahwa ajaran Budha Mahayana telah hadir tertua di bumi Nusantara dan telah membentuk karakter anak Bangsa Nusantara bersama ajaran agama lain. Hal ini tidak bisa diganggu gugat lagi.

Bandingkan dengan sejarah agama lain masuk ke Nusantara tidak terlalu berbeda jauh dengan masuknya ajaran Budha Mahayana. Contohnya ajaran Kristus masuk di Nusantara pada sekitar tahun 630 – tahun 645 sehingga berdiri corak gereja Assiria Nestorian di Barus Tapanuli tengah Sumatra dan Pancur wilayah delly serdang. Sedangkan gereja Katholik Roma masuk Indonesia tahun 1511 di tanah Aceh dari Ordo Karmel dan di Maluku oleh St.Fransiskus Saverius pendiri Ordo OFM  tahun 1546 (sejarah gereja di Indonesia: Gereja Asiria). Lalu ajaran Islam masuk ke Indonesia juga pada abab ke-7 dari Gujarat India berkat kehadiran para pedagang Arab yang membeli rempah-rempah di bumi Nusantara untuk dijualkan ke tanah Arab. Namun perkembangan dakwah sejak abab 11 dan 12. Islam masuk ke Indonesia melalui tiga teori yaitu teori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia. Teori Gujarat artinya Islam dipercaya bahwa Islam masuk ke Indonesia berawal dari wilayah Gujarat India melalui peran Pedagang ke Indonesia pada abab ke-13 Masehi. Sedangkan teori Makkah artinya islam masuk ke Indonesia langsung dari Timur Tengah oleh para pedagang Arab Muslim sekitar abab ke-7 masehi. Lalu teori Persia artinya Islam masuk ke Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang singgah di Gujarat sebelum ke Nusantara pada abab ke-13 masehi (Tiga Teori Masuknya Islam ke Indonesia: Teori Gujarat, Teori Makkah dan Teori Persia).

BACA JUGA :  Sambil Menangis, Kalina Bongkar Alasan Batalkan Pernikahan dengan Vicky Prasetyo

Semua kehadiran ajaran dan keyakinan kepada Tuhan yang datang dari luar Nusantara sesungguhnya sudah ada di bumi Nusantara pada beberapa abad sebelumnya. Anak bangsa Nusantara pada abad sebelum ajaran Budha Mahayana, Kristen dan Islam masuk ke Nusantara, mereka manusia di Nusantara sudah memiliki perilaku religiusitas seperti dalam teori panteisme-momisme yang dijelaskan penulis Ben Senang Galus Dalam Buku ini. Dalam perilaku religiusitas panteisme, anak bangsa Nusantara sudah melakukan penghormatan terhadap wujud yang Maha Tinggi, pengakuan adanya roh-roh pada setiap benda, penghormatan terhadap sesama. Lalu adanya niat untuk memuja wujud itu sehingga mereka menciptakan bentuk tata ritual yang disebut dengan liturgis budaya. Pembentukan liturgis budaya ini pada hakekatnya tidak bertentangan dengan ajaran agama yang masuk seperti Budha Mahayana, Kristus dan Nabi Muhammad, SAW. Sehingga semua ajaran itu masuk ke Nusantara mudah bertumbuh dengan subur. Namun, kehadiran ajaran agama itu tidak pernah dan tidak boleh menghapus ajaran budaya atau ajaran Panteisme leluhur kita.

Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Majapahit memiliki budaya yang sangat lengkap dengan liturgisnya. Sehingga ajaran Budha Mahayana pada kedua kerajaan ini hadir bersama budaya Nusantara membentuk karakter anak Bangsanya. Sehingga lahir para Budayawan dan agamawan yang sangat suci nan mulia bathin mereka. Mpu Tantular menulis buku Soetasoma yang isinya padat dengan falsafah kehidupan bangsa pada zaman kerajaan kuno. Dalam buku Soetasoma tertulis banyak aturan atau sila yang mengatur kehidupan manusia. Sila-sila itu sebenarnya retensifikasi dari cara hidup mulia yang telah diwariskan leluhur. Konfigurasi tatanilai kehidupan kenegaraan pada zaman kerajaan itu terbukti pada bentuk liturgis budya yang diwariskan leluhur kepada kita.

obor ormas

Pewarisan budaya yang mulia merupakan bentuk ajaran yang hidup untuk mengatur cara hidup, cara memandang, cara menilai dan cara laku dari manusia atau keturunannya agar tetap survive sepanjang masa. Sebenarnya budaya dengan liturgisnya sudah ada sejak awal dunia ini dijadikan. Hanya bentuknya tidak tertulis. Sehingga cara pewarisan budaya dan ritualnya setiap budaya di Nusantara ini hanya melalui tutur dari leluhur kepada keturunan mereka. Sehingga penguasaan ajaran tutur ini tidak sempurna dan bahkan mudah punah jika tidak dipertahankan. Itulah sebabnya kehadiran ajaran agama dari luar seperti Budha Mahayana, Kristiany dan Islam mudah masuk merasuki anak Nusantara sejak zaman kerajaan, karena ajaran mereka sudah tertulis dalam kitab suci. Andaikan dahulu leluhur kita sudah mempunyai bahasa tulis di bumi Nusantara maka ajaran dinamisme, animisme yang disebutkan dengan panteisme tentu akan menjadi sebuah ajaran agama. jika terminology agama, “a artinya tidak dan gama artinya kaco maka agama artinya tidak kaco”, maka budaya juga memiliki terminology yaitu budy berdaya, “bu dari kata budy artinya tubuh yang terdiri dari raga dan jiwa sedangkan daya artinya kekuatan, cara, strategi, upaya, kerja, karya”. Berdasarkan penjelasan terminology kata budaya maka budaya memiliki arti tubuh dan jiwa yang berkarya suci nan mulia, luhur dan agung. Dalam KBBI budaya memang mempunyai arti tradisi, culture yang sudah berkembang, adat istiadat. Orang yang berbudi luhur sebenarnya lahir dari turunan yang berbudaya luhur.

BACA JUGA :  Ratapan Satar Punda (Puisi Gerald Bibang)

Pancasila merupakan lima aturan pokok atau dasar yang sudah ada dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bertanah air sejak zaman Majapahit. Pancasila sudah ada dan sudah dipraktekan oleh anak bangsa Nusantara sejak zaman sebelum kerajaan Mataram kuno dan Majapahit. Namun nilai-nilai pancasila baru dituliskan oleh Mpu Tantular seorang pujangga sastra Jawa ternama yang hidup pada abab ke-14 zaman Raja Rajasanagara(Hayam Wuruk). Tantular yang mempunyai pendirian yang sangat teguh dan tidak terpengaruh ini merupakan penganut agama Budha namun beliau juga sangat terbuka dengan ajaran Hindu-Siwa yang terkonfigurasi dalam karya jiwanya yaitu kakawin arjunawijaya dan kakawin sutasoma yang salah satunya adalah Bhinneka Tunggal Ika yang sekarang menjadi Motto Republik Indonesia. Kakawin Sutasoma ditulis sekitar tahun 1365-1389. Lingkaran tahun ini merupakan selesainya kakawin negarakretagama yaitu tahun 1365 Masehi. Kakawin Sutasoma dan kakawin negarakretama ditulis bertujuan untuk hidup toleransi antara umat beragama (Behren, T.E. dan Alan H. Feinstein. 1990. Katolok Induk Naskah Nusantara vol.1. Jakarta; Yayasan Obor Indonesia). Ajaran toleransi yang ditulis Mpu Tantular ini merupakan ajaran Mulia.

Pancasila yang berasal dari Buku Sutasoma karangan Mpu Tantular ini merupakan esensi dari semua ajaran Budaya diseluruh kerajaan kecil dan besar di bumi Nusantara yang dipersatukan oleh Majapahit dibawah panglima perangnya yaitu patih Gajah Mada. Sejak itu, Patih Gajah Mada bergeliat mempersatukan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, tanpa menghapus budaya-budaya yang ada disetiap kerajaan kecil. Sehingga kita bisa memahami bahwa kehadiran buku Sutasoma, Negarakretagama dan Arjunawijaya merupakan deskripsi dan retorika dari semua isi budaya dibumi Nusantara. Demikian halnya Pancasila merupakan dasar, cara hidup, cara pandang, pedoman hidup penghuni bumi Nusantara. Lalu cara hidup, cara pandang penghuni Nusantara ini oleh Soekarno disimpulkan menjadi lima aturan dasar atau lima sila atau lima dasar yang disebutkan dengan Pancasila. Itulah sebabnya pancasila sebagai dasar Negara, sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa serta tujuan bangsa.

Sejak Negara Indonesia lahir, Soekarno sebagai tokoh proklamator bersama tokoh lain seperti Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat, R.P Soeroso, Ichibangse Yoshio, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Mohammad Yamin, Mr. Yohanes Laturhary, Mr. R. Hindromartonotelah merumuskan Pancasila sebagai dasar Negara bukan pilar Negara. Pancasila ini diambil dari tatanan budaya bangsa Indonesia, nilai-nilai Kehidupan religius Bangsa Indonesia dan tatanan kehidupan ketatanegaraan Nusantara. Sejak awal sila-sila dalam pancasila itu mempunyai akar dari budaya bangsa Nusantara yang memiliki ritual atau tata liturgis budaya Nusantara. Demikian juga sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, sejak awal diusulkan untuk digantikan bunyi sariat-sariat islam namun waktu itu sudah ditolak dengan keras oleh tokoh pendiri Bangsa ini. Mengapa ditolak Jakarta charter atau piagam Jakarta itu? Jawabannya karena sudah tidak sesuai dengan isi konsensus awal berdirinya Negara Indonesia. Pancasila berasal dari budaya bangsa, nilai-nilai kehidupan Nusantara dan tata kehidupan kenegaraan Nusantara sehingga sila-silanya harus menjiwai akar kehidupan Bangsa bukan hanya menjiwai satu agama saja atau menjiwai ajaran agama saja., tetapi harus menjiwai seluruh konsep religiusitas Bangsa Indonesia.

BACA JUGA :  Bincang Bersama Martin Runi, Komponis Asal Flores

Sila pertama Pancasila merupakan pandangan, falsafah, pedoman serta tujuan dari konsep perilaku religiusitas anak Bangsa Indonesia. Jadi bukan hanya menjiwai ajaran agama saja. Apalagi ajaran agama tertentu misalnya kita katakan saja ajaran kilafah. Ajaran kilafah bukan merupakan pandangan, bukan falsafah, bukan pedoman, bukan juga tujuan dari religiusitas segenap anak bangsa Indonesia tetapi hanya merupakan ajaran agama islam bagi pengikutnya. Sehingga untuk menjadi pedoman kehidupan religiusitas, falsafah religiusitas, pandangan religiusitas, dasar religiusitas, pedoman religiusitas dan dasar religiusitas anak Bangsa Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dengan tegas kita semua anak Bangsa Indonesia menolak dengan keras konsep Majelis Permusyawaratan Rakyat yaitu Pancasila menjadi pilar Negara. Pilar artinya tiang. Jika pancasila menjadi tiang maka dengan mudah dicabut atau dipindahkan. Dengan demikian, isi pancasila pun mudah dirubah. Tiang atau pilar sangat berbeda dengan dasar. Dasar itu merupakan fondasi. Jika Pancasila merupakan fondasi atau dasar itu artinya tidak mudah dicabut atau dipindahkan atau dirubah isinya. Pilar seharusnya tumbuh di atas fondasi, itulah sebabnya Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum.

Sejak awal Republik lahir sudah ditetapkan Pancasila merupakan dasar Negara, NKRI adalah Bentuk Negara, Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan Negara, Indonesia Raya adalah Lagu wajib Bangsa, UUD 1945 adalah Konstitusi Negara, bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan dan Tanah air kita adalah tanah air Indonesia. Jadi tidak ada pilar di sana. Kita tetap harus berpikir logis dan argumentative berlandaskan sejarah lahirnya Bangsa Indonesia. Jika kita berpikir keluar dari pedoman hidup bangsa yaitu Pancasila maka Negara ini sudah pasti akan hancur berkeping-keping. Untuk mencegah Negara ini hancur mari kita pertahankan hasil konsensus awal Negara ini dibentuk yaitu Pancasila sebagai dasar Negara tidak boleh dirubah menjadi pilar Negara tetap menjadi dasar Negara. Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.

Sejak awal Negara ini merupakan Negara berkebangsaan artinya bangsa Indonesia sudah berjuta-juta tahun memiliki tatanan kehidupan, sudah memiliki nilai-nilai kehidupan, sudah memiliki falsafah kehidupan yang sudah dikonfigurasikan oleh pedoman hidup yang ditulis oleh Mpu Tantular dalam kakawin Sutasoma, Kakawin Arjunawijaya dan kakawin negarakretagama. Jika kita menjadi warga Negara yang baik jadilah warga Negara yang berbudi perikebangsaan Nusantara, Kita harus menjadi warga Negara yang berbudi perikebangsaan di luar Nusantara, artinya jangan mudah terprofokasi oleh tawaran kemajuan Negara lain lalu mencoba menggugah kekuatan negeri sendiri.

Sebagai akhir kata, saya sebagai penulis menyampaikan bahwa buku Pancasila Dasar Negara bukan pilar hadir di tengah anda untuk mengajak anda berpikirlah sebagai negarawan, berpikirlah nasionalis, berpikirlah arti sebuah perjuangan sejarah, berpikirlah sebagai warga Negara yang berkebangsaan Nusantara, berpikirlah untuk hidup toleransi, berpikirlah untuk hidup berdampingan. Jauhkanlah laku membenci agama lain, jauhkan laku menolak budaya dan semua liturgis budaya sebab anda hidup di bumi Nusantara yang sudah lahir dengan budayanya yang suci dan lebih suci dari pribadimu. Bentuklah suara hatimu dengan Pancasila sebagai dasar Negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, Bhinneka Tunggal Ika semboyan Negara dan NKRI sebagai bentuk Negara kita. Jadi, mari kita tolak konsep pancasila sebagai pilar Negara, itu adalah konsep pembodohan anak bangsa, itu konsep lupa sejarah. Jasmerah pesan Proklamator Bung Karno. ***

knpi
hanura

Leave A Reply

Your email address will not be published.