kominfo iklan

Pembongkar Rahasia

Oleh Ramli Lahaping

250
Pembongkar Rahasia
Penulis Ramli lahaping

 

WAKTU terus memburu. Sebagai seorang intel, aku mesti bertindak sigap demi menyukseskan sebuah misi rahasia. Karena itu, aku memutuskan untuk memperdaya seorang mahasiswi demi membongkar rencana penyelundupan narkoba dalam jumlah besar yang dikomandoi oleh ayahnya. Aku ingin membuainya atas nama cinta untuk mengulik rahasia ayahnya, agar aku dan timku dapat menggagalkan peredaran barang haram tersebut di tengah masyarakat.

Untuk mempercepat aksi, aku pun melancarkan adegan perebutan hati. Pada satu malam, sebulan yang lalu, aku menugaskan seorang kawanku untuk menjambret tasnya di pinggir jalan, setelah ia keluar dari sebuah kafe. Aku lantas pura-pura mengejar kawanku itu sampai ke tikungan jalan yang tertutup dari penglihatannya, lalu kembali dan menyerahkan tas tersebut kepadanya. Akhirnya, ia jadi sangat terkesan, seolah-olah aku adalah sosok pahlawan baginya.

Sehari berselang, kami pun bertemu di sebuah kafe untuk mengakrabkan diri. Aku mengaku-aku sebagai pegawai perusahaan konstruksi yang tengah mengadakan pemantauan proyek di kotanya, sedang ia mengaku secara jujur sebagai seorang mahasiswi di sebuah kampus ternama. Aku lantas mengaku-aku berlatar belakang keluarga guru, sedangkan ia sedikit menutupi latar belakangnya dengan mengatakan bahwa orang tuanya menjalankan bisnis ekspedisi.

Untuk menguak rahasia darinya, hari demi hari, aku pun menghabiskan banyak waktu bersamanya. Aku terus memperturut keinginannya bersenang-senang, sebagaimana kebiasaannya. Aku memanjakannya semaksimal mungkin. Dan atas semua itu, ia makin lekat denganku. Hingga pada satu malam, seminggu yang lalu, di sebuah restoran yang mewah, aku pun menyatakan cinta kepadanya, dan ia menerimaku dengan raut bahagia.

Dengan status sebagai sepasang kekasih, hubungan kami jadi begitu akrab. Kami bahkan mulai saling mengunjungi tempat tinggal kami dan berbagi cerita dengan lebih terbuka. Aku senantiasa menuturkan cerita karangan perihal diriku agar ia terpancing untuk melakukan hal serupa. Sampai akhirnya, dua hari yang lalu, di ujung sore, saat kami tengah duduk berdua di satu titik pantai, ia pun terbawa suasana dan mulai menyinggung persoalan personalnya.

BACA JUGA :  ¡RENAZCO!

“Apa kau serius dengan hubungan kita ini?” tanyanya kemudian, dengan raut cemas.

Aku lekas mengangguk. “Iyalah. Kamu juga, kan?”

Ia terdiam beberapa lama, dan akhirnya menggeleng lesu. “Aku ragu tentang masa depan kita.”

“Kenapa?” sergahku.

“Kita ini seolah berbeda alam. Meskipun kita saling mencintai, kita tidak akan bisa hidup bersama,” jawabnya.

“Kenapa begitu?” ulikku.

Ia lantas mendengkus kalut. “Kau ini berasal dari keluarga yang baik-baik, sedangkan aku sebaliknya.” Ia lantas menjeda beberapa saat. Tampak berusaha menguatkan hatinya untuk bertutur. Hingga akhirnya, ia menyambung, “Seharusnya aku mengatakan kepadamu sedari awal, bahwa ayahku menjalankan bisnis pengiriman barang haram. Ayahku adalah bandar narkoba jaringan internasional.”

Seketika, aku merasa senang telah berhasil menghanyutkannya ke dalam arus penyelidikanku. Tetapi untuk menggali informasi lebih dalam, aku tetap tampil lugu, seolah-olah aku belum tahu apa-apa. Karena itu, aku menimpali, “Oh, ya? Kau serius?”

Ia kemudian mengangguk dengan raut muram. “Orang tuamu berusaha mendidik generasi muda di negara kita ini, tetapi ayahku malah menghancurkan mereka.”

Aku pun melayangkan senyuman simpul. Mencoba menabahkan hatinya agar terus membongkar rahasia tentang ayahnya. “Yang penting, kamu berbeda sikap dengan ayahmu.”

Ia lekas mengangguk. “Aku tentu tak setuju ayahku menjalankan bisnis semacam itu. Tetapi aku tak punya daya untuk menghentikannya.”

“Apa kau pernah menasihati atau memprotesnya?” tanyaku, sekenanya.

“Tentu saja,” jawabnya, lantas mengembuskan napas yang panjang. “Tetapi setiap kali aku melakukan itu, ia malah marah besar dan memintaku untuk tidak merecoki urusannya. Karena itu pula, aku memilih menjauh darinya dan indekos di kota ini, sembari menyembunyikan identitasku sebagai anaknya.”

obor ormas

“Sabarlah. Semoga saja ia segera menginsafi perbuatannya. Bagaimanapun, ia adalah ayahmu. Kau tidak patut membencinya selain daripada perbuatannya itu,” tanggapku, sok bijak, sembari memikirkan alur pertanyaan yang tepat untuk sampai pada pertanyaan intiku.

BACA JUGA :  Misteri Gaun Tua

Ia lalu mengangguk, kemudian merebahkan tubuhnya di atas pasir. Lantas tiba-tiba saja, ia menyinggung sendiri perihal yang ingin kuselidiki, “Karena itulah, belakangan ini, aku sangat mengkhawatirkannya, sebab ia akan kembali menerima kiriman narkoba dari luar negeri. Itu tentu mengandung risiko yang besar. Ia bisa saja tertangkap polisi dan dijerat hukuman yang berat, bahkan hukuman mati.”

“Oh, ya?” responsku. Pura-pura terkejut.

Ia hanya mengangguk.

Akhirnya, dengan sikap tenang, aku lalu melontarkan pertanyaan pemungkasku, “Kapan dan di mana penerimaan barang itu akan berlangsung?”

Ia lantas menolehiku. “Besok malam, saat lewat tengah malam, di pelabuhan tikus, di Kampung Nelayan Selatan,” terangnya, enteng.

Seketika, aku merasa beruntung atas keterangannya yang cukup detail, sehingga aku tak perlu lagi mendalaminya.

Sampai akhirnya, kini, waktu yang dimaksud tiba. Berbekal informasi yang kudapatkan, sejumlah personel kemudian disebar di sejumlah titik. Mereka fokus memantau keadaan di balik persembunyian mereka masing-masing. Mereka akan segera mengambil tindakan yang tepat ketika kapal pengantar barang haram tersebut telah bersandar di sebuah pelabuhan tradisional.

Detik demi detik terus bergulir di tengah situasi yang menegangkan. Para personel tetap sabar memata-matai. Tetapi kapal yang mencurigakan tak juga terlihat.

Akhirnya, setelah sekian lama, waktu pun menjelang subuh. Komandanku lantas kembali meneleponku dan bertanya dengan nada keras, “He, kenapa tak ada juga kapal yang datang? Apa kau benar-benar telah memperoleh informasi yang tepat?”

Seketika, aku jadi keder. “Kukira begitu, Komandan. Yang disampaikan anak sang bandar, demikian,” jawabku, sekenanya.

“Tetapi mana buktinya, he?” sidiknya, geram.

“Maaf, Komandan. Aku pun tak mengerti,” tanggapku, kagok.

“Ah, bodoh! Jangan sampai kau telah dipermainkan oleh perempuan itu? Jangan sampai transaksi telah dilakukan pada waktu dan tempat yang lain, dan ia telah berhasil mengelabui kita semua di sini?” terkanya.

BACA JUGA :  Ayus Sabyan Ngaku Khilaf dan Minta Maaf, Ayah Nissa: Putri Saya Bersumpah Tidak Benar

Aku sonak kelimpungan. Aku pun mulai mengkhawatirkan taksirannya itu.

“Sudah. Bubarkan personel!” titahnya. “Nanti, jam 9 pagi, temui aku di kantor. Jangan terlambat!”

“Siap, Komandan,” balasku.

Sabungan telepon pun terputus.

Akhirnya, pikiranku menjadi kacau. Dengan dugaan yang menjurus ke mana-mana, aku lantas menghubungi putri sang bandar itu atas status kami sebagai sepasang kekasih. Tetapi sayang, keterangan suara operator menyatakan bahwa ia berada di luar jangkauan jaringan telepon, seolah-olah ia memang telah menghilang.***

 *) Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).

knpi
hanura

Leave A Reply

Your email address will not be published.