Penguatan Etika Berbahasa (Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional)

Oleh : Alvares Keupung**

101
Menata Pariwisata Yang Partisipatif dan Holistik
Penulis Alvares Keupung. Foto istimewa

SELAMAT Hari Pendidikan Nasional (Indonesia). Alangkah bijaknya, di Hari Pendidikan Nasional (Indonesia) ini, kita mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan sejauh mana peran pendidikan nasional bagi peradaban manusia Indonesia. Dan pada sisi lain, membingkai permenungan untuk menjumpai spirit perjuangan tokoh yang meletakan dasar pendidikan nasional bagi peradaban dan martabat bangsa. Secara pribadi, saya menemukan refleksi dan permenungan sebagai catatan kecil di Hari Pendidikan Nasional (Indonesia) ini : pada akhirnya, salah satu harapan untuk pendidikan kita, adalah mesti bermuara kepada penguatan etika terutama berbahasa.

Sampai kapan pun, pendidikan selalu diyakini sebagai garda terdepan perubahan dan peradaban bangsa manusia. Melalui pendidikan, manusia mencari yang paling hakiki untuk perubahan dan peradabannya, yaitu : kebenaran. Karena kebenaran menjadi titik akhir dari pencaharian dalam pendidikan, maka, output dari upaya – upaya dari pendidikan, tidak sekedar membentuk manusia cerdas secara intelektual, tetapi membentuk spiritualitas, karakter dan integritas. Pendidikan, yang oleh karena kebenaran membebaskan manusia dari keterasingan (alianasi) pada realitas, kegelapan dan kekosongan pengetahuan serta memerdekakan manusia dari keliaran – keliarannya yang tak teratur. Singkatnya, pendidikan membawa manusia kepada paradigma dan sikap yang baru ke dalam realitas absolut, yakni : kebenaran.

Pendidikan dalam konteks Bangsa Indonesia, ditempatkan sebagai cita – cita mulia menjadikan manusia Indonesia yang cerdas, berbudi pekerti luhur, bermartabat dan beradab demi memanusiakan manusia Indonesia yang berkarakter dan berintegritas. Secara konstitusional, konstitusi menjamin cita – cita mulia bangsa ini. Tanpa pendidikan, Bangsa Indonesia tidak pernah berkembang dalam perubahan dan peradaban, karakter dan integritas.

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh perintis perubahan dan peradaban, karakter dan integritas Bangsa Indonesia melalui pendidikan. Dia merubah pendidikan Kolonial Belanda menjadi pendidikan berwajah Indonesia. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat eksklusif (hanya dinikmati oleh kaum ningrat dan kaum kapitalis), digagas dan “dibongkar” Ki Hajar Dewantara agar seluruh masyarakat Bangsa Indonesia dapat merasakan dan menikmati pendidikan. Keterpanggilan Ki Hajar Dewantara atas gagasannya tentang pendidikan bagi seluruh masyarakat Bangsa Indonesia, karena ada bahaya penjajahan laten yang sedang diperankan kaum Kolonial Belanda agar masyarakat Bangsa Indonesia tetap terkebelakang secara pengetahuan, perubahan dan peradaban. Dengan cara itu, kaum Kolonial Belanda tetap melanggengkan imperialismenya melalui sistem kerja rodi dan politik adu domba di tengah kehidupan masyarakat Bangsa Indonesia. Imperialisasi dan politisasi dalam pendidikan yang dilakukan kaum Kolonial Belanda, pada akhirnya dipatahkan oleh perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam mengangkat harkat dan martabat seluruh masyarakat Bangsa Indonesia untuk sama – sama mendapatkan pendidikan, menuju perubahan dan peradaban Bangsa Indonesia ( Bdk. Eka Prihatin, Konsep Pendidikan, 2008 : IV ).

BACA JUGA :  Eksistensi Guru Honorer: Sebuah Refleksi HUT ke-76 Kemerdekaan RI

Apa yang diperjuangkan Ki Hajar Dewantara, sungguh membawa titik terang bagi perubahan dan peradaban masyarakat Bangsa Indonesia. Apa yang disebut sebagai keterbelakangan perubahan dan peradaban, dengan sendirinya “tergerus” oleh paradigma baru sebagai dampak dari hadirnya kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Bangsa Indonesia. Pada sisi seperti ini, gagasan – gagasan tentang pengembangan pendidikan menjadi sangat penting. Tugas utama dari pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia sebagai subyek yang merdeka dari keterbelengguan, menginternalisasikan nilai pengetahuan menuju perubahan dan peradaban.

Kita patut bersyukur, bahwa kita hidup pada masa yang kondusif bagi pendidikan.
Pasca perjuangan Ki Hajar Dewantara, dampak perubahan dan peradaban Bangsa Indonesia mengalami perkembangan. Setidaknya, melalui pendidikan inilah Bangsa Indonesia mampu memiliki daya saing yang sehat dalam perkembangan pembangunan. Pada gilirannya juga, dalam konteks perkembangan dunia internasional, Bangsa Indonesia tidak pernah ketinggalan melalui eksplorasi dan literasi IT. Maka benar apa yang dirumuskan oleh konstitusi, tujuan dari pendidikan nasional adalah : mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut mengambil bagian dalam kemajuan dunia.

Tetapi, sampai pada titik ini perlu ada semacam koreksi atau introspeksi, apakah pendidikan kita benar – benar telah memberikan perubahan dan peradaban bagi tindak tutur dan laku bagi masyarakatnya ? Bahwa kita bangga telah berotonomi dalam dunia pendidikan pasca perjuangan Ki Hajar Dewantara, benar. Namun, membenah celah – celah yang malum, juga perlu. Ternyata, banyak elit intelektual kita dan tidak sedikit masyarakat kecil, terjebak dalam mal etika berbahasa. Persis di sinilah, tugas dari pendidikan kita perlu membangun otokritik.

Harus diakui secara jujur, bahwa jauh sebelum saat ini, kurikulum pendidikan kita aksentuasinya lebih kepada pemenuhan target kurikulum dan akademik. Yang karakter integritas, masih menjadi point yang berikutnya. Bercermin pada konteks ini dan fenomena barbaritas sarkais dalam komunikasi, saya berani katakan bahwa pendidikan kita mesti mempertajam penguatan etika berbahasa. Karena, tidak jarang etika berbahasa yang serampangan dapat membunuh karakter integritas serentak menimbulkan anomali relasi komunikasi sosial.

BACA JUGA :  Rahasia Umur Panjang dan Tetap Sehat di Hari Tua

Komunikasi merupakan kebutuhan manusia dalam membangun relasi sosial. Dan, media yang dibangun dalam komunikasi adalah bahasa. Menjadi sangat penting dan sebagai keharusan, etika berbahasa adalah modal emas untuk membangun komunikasi relasi sosial. Tanpa ini, komunikasi relasi sosial menjadi kaku. Di sinilah letak peran serta pendidikan memberi penguatan etika berbahasa dalam komunikasi relasi sosial. Tugas kita, mengimplementasikannya. Di luar itu, bisa jadi kita tidak lebih dari jenis manusia dekonstruktor yang mengacaukan etika berbahasa dalam komunikasi relasi sosial. Mari kita berbenah untuk perubahan dan peradaban. Selamat Hari Pendidikan Nasional ( Indonesia ).

(Penulis, warga Lela Diaspora. Tinggal di Ende).

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.