Presiden Jokowi Didesak Selamatkan Pelaut yang Dibajak Pemberontak Houthi Yaman

150
Presiden Jokowi Didesak Selamatkan Pelaut yang Dibajak Pemberontak Houthi Yaman
Pengamat Maritim dan  pendiri Perkumpulan Ahli Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (AKKMI), Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa SSiT.,M.Mar|Foto Pojokbebas.com

 

JAKARTA, Pojokbebas.comPresiden Jokowi didesak agar segera menyelamatkan pelaut Indonesia atas nama Surya Hidayat Pratama, Chief Officer yang ikut dibajak oleh pemberontak Houthi Yaman dan hingga kini belum diketahui nasibnya.

Pengamat Maritim dan  pendiri Perkumpulan Ahli Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (AKKMI), Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa SSiT.,M.Mar mengatakan, Kementerian Luar Negeri harus membantu pembebasan awak kapal Indonesia tersebut. Baca juga: Wow Keren! Presiden Jokowi Bentuk Gugus Tugas Manajemen Talenta Nasional

“Saya mendesak pihak-pihak yang memiliki otoritas membuka jalur diplomasi yang dibutuhkan, agar bisa menyelamatkan warga Indonesia yang disandera. Saya sangat mendukung langkah yang diambil oleh Serikat Pelaut Sulawesi Selatan (SPSS) yang telah berusaha menghubungi pihak KBRI di negara UEA,” kata Capt. Hakeng di Jakarta, Senin (10/01/2022).

Sebagaimana diberitakan, sebuah kapal kargo Rwabee milik Uni Emirat Arab (UEA) yang sedang berlayar di Laut Merah pada Minggu (2/1/2022) lalu dibajak pemberontak Houthi Yaman. Kapal tersebut dikabarkan sedang mengangkut peralatan medis dan obat-obatan milik Arab Saudi dari Pulau Sokotra, sekitar 80 kilometer di timur Tanduk Afrika.

Dalam kapal kargo Rwabee yang dibajak para pembajak tersebut, sejumlah awak kapal disandera. Salah satun awak kapal berasal dari Indonesia, yaitu Surya Hidayat Pratama, Chief Officer yang ikut disandera hingga kini belum diketahui nasibnya. Baca juga: Indonesia Raya Berkumandang Di Langit Tokyo, Presiden Jokowi: Saya Sangat Bangga

Dalam tayangan Youtube di saluran Radarekspres, Sabtu (8/01/2022),  bertajuk ‘Pemberontak Houthi Yaman Membajak Kapal Uni Emirat Arab, 1 Diantaranya Warga Makassar’ istri dari pelaut Indonesia itu, Sri Rahayu mengungkapkan harapannya kepada Presiden Joko Widodo untuk dapat membantu pembebasan suaminya. Dan dalam tayangan itu pula pihak Humas Serikat Pelaut Sulawesi Selatan juga meminta perhatian dari pemerintah.

BACA JUGA :  Sowan ke Wapres Ma'ruf, Panglima TNI Lapor Perkembangan Keamanan di Papua

Langkah SPSS, menurut Hakeng, memberi angin segar bagi kepedulian untuk para pelaut dan keluarga. Capt Hakeng menegaskan, negara mempunyai tanggung jawab untuk melindungi warga negaranya yang berada  di luar negeri. Nagara harus hadir menangani ketidaknyamanan yang timbul pada para warga negara yang berada di luar negeri terkait dengan pelanggaran keadilan internasional ataupun peristiwa kejahatan yang menimpa warga negara. Baca juga: Peluang Dan Tantangan Dunia Kepelautan Indonesia Serta Pembenahan Aspek Hukum

“Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Kemenaker, Kepolisian, TNI AL, Persatuan Pelaut Nasional dan Internasional dapat berkoordinasi dengan pihak keamanan di sana. Pemerintah sebaiknya juga  berkoordinasi dengan agen, dan atau dengan pemilik kapal kargo Rwabee yang mempekerjakan pelaut Indonesia. Perlindungan hukum terhadap awak kapal adalah tanggung jawab negara. Pelaut Indonesia adalah WNI dan berhak untuk dibantu dan dilindungi oleh negara seperti WNI lainnya,” bebernya.

Dia menegaskan, pemerintah Indonesia dapat turut serta menangani kasus pembajakan ini. “Karena dalam UNCLOS 1982 (konvensi hukum laut 1982) pada Pasal 100 yang berbunyi, Semua negara harus bekerjasama sepenuhnya dalam penindasan pembajakan di laut lepas atau di tempat lain manapun di luar yurisdiksi suatu negara,” ujarnya. Baca juga: Presiden Jokowi Perintahkan Panglima TNI Dan Kapolri Kejar KKB Sampai Dapat

Iinilah saatnya pemerintah menunjukkan tanggung jawab dalam melindungi pelaut Indonesia yang sedang mengalami masalah. “Dengan ikut sertanya pemerintah untuk menyelamatkan pelaut yang disandera akan membawa dampak positif di mata masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Segera bertindak untuk membantu pelaut yang dalam masalah,” jelasnya.

Menjaga keselamatan jiwa pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing, tegas Capt Hakeng, merupakan sebuah harga mati. Apalagi ada hampir 1,2 juta pelaut Indonesia, baik yang bekerja di kapal perikanan maupun kapal niaga. Para pelaut memberi sumbangan devisa untuk negara. Dan, berdasarkan catatan dari International Labour Organization (ILO) mencatat bahwa Indonesia adalah penyuplai pelaut di Indonesia, imbuh Capt. Hakeng.

BACA JUGA :  6 Selebriti Myanmar Diperintahkan Ditangkap karena Ajak PNS Mogok Kerja

“Patut diingat, pelaut adalah salah satu  pekerja yang memiliki peran penting sebagai penopang perekonomian sebuah negara Indonesia. Sumbangan dari pekerja maritim kita adalah sekitar Rp150 triliun,” pungkasnya. (Pb-6)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.