Puisi Ronaldus Jehatu*

191

 

Puisi Ronaldus Jehatu
Ronaldus Jehatu, mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng

 

Pemulung Kecil

Pagi gemerlap mulai bergerak
Beranjak menatap sinar
Udara dingin tak peduli
Memungut sisa sampah berserak

Dicarinya botol menuai hasil
Si kecil kurus tak berdaya
Pakaian kusut tak terurai
Menelusuri jalan tanpa dekapan

Beban hidup sebatang kara
Cucuran keringat tanpa lelah
Berat sampah di atas pundak
Tak peduli demi menghilangkan dahaga dan lapar

Tak ada tong dilewati
Berharap ada yang tersisa
Sungguh malang
Nasibmu Nak
Kini lama tak dijumpai
Pemulung kecil tanpa cinta

 

Jabatan Berkuasa

Aku sedih dengan Keadaan
Jiwa yang setengah sampah
Seolah tak punya harga diri

Manusia tak beretika itu
Merajalela hidupku
Hingga aku tutup mulut
Tak ada yang dapat kulakukan
Hukum dan tahta dalam kendali mereka

Harkatku tak dimusyawarah
Hanya didengar lalu lupakan
Inikah yang dinamakan keadilan?
Pih…

Omong kosong!

Saat pemilu
Ngomong itu, ngomong ini
Janji itu, janji ini
Tapi apa?
Kini aku dipandang butiran debu
Mantapnya tipuanmu pak…pak

Aku sebut sebagai panutan
Tapi panutan korupsi
Aku sebut sebagai bapak
Tapi bapak tak punya malu

Baju putih, jas hitam, dasi berwarna
Dipakai sang tuan
Tapi sayang
Koalisi bundar hitam dijalankan
Tangis rakyat tak diurus

 

Bidadariku

Sayapmu mengepak melantunkan melodi cinta
Menerpa melintasi imaji
Kaulah satu yang mendiam hati
Membahagiakan raga dengan penuh warna

Nada kata terdengar sendu
Mengarungi malam yang gelap
Beribu cerita yang indah
Tak akan pernah letih melengkapi hariku

Denganmu kurasakan tenang
Mahkota hati tak bersayap
Impian ini terasa sempurna
Terhibur akan canda tawamu
Bidadariku
Ini kali terima kasihku
Padamu sang pujaan hati.

*Ronaldus Jehatu, mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng

BACA JUGA :  Janda Moni
kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.