Rencana Perluasan Pelabuhan Batam Dinilai Sesuai Cita-cita Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia

188
Rencana Perluasan Pelabuhan Batam Dinilai Sesuai Cita-cita Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia
Pengamat Maritim Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa SSiT., M. Mar.Foto istimewa

 

JAKARTA, Pojokbebas.com-Rencana pemerintah untuk membangun pelabuhan di Batam dinilai sesuai dengan program Indonesia menuju poros maritim dunia yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. Pengamat Maritim Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa SSiT., M. Mar. mengatakan, langkah pemerintah dalam pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, dan industri perkapalan, serta pariwisata maritim patut diapresiasi.

“Langkah yang  dilakukan oleh pemerintah ini sepatutnya mendapat apresiasi dari kalangan dunia maritim di Indonesia,” kata Capt. Hakeng di Jakarta, Kamis (27/1/2022).

Sebelumnya, pada hari Senin, (24/1/2022), Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menkomarinves) Luhut Binsar Pandjaitan berkunjung ke lokasi yang diwacanakan menjadi pelabuhan baru di Batam. Lokasi pelabuhan terletak di Tanjung Pinggir, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Rencana pemerintah untuk memperluas pelabuhan di Batam berdasarkan rencana gambar dari Batam New International Port, area datar pelabuhan luasnya 94 hektare, akan ditambah luasnya melalui reklamasi yang mencapai 236 hektare.

Pembangunan atau perluasan pelabuhan di Batam, kata Hakeng, lebih tepat sasaran mengingat fakta sejarah, sejak dulu jalur pelayaran di Selat Malaka atau Selat Sumatera tersebut telah menjadi perlintasan kapal dari dunia. “Jadi bisa dikatakan poros maritim dunia yang sesungguhnya sudah ada dan sudah terbentuk yakni Selat Sumatera atau Selat Malaka,” jelas Capt. Hakeng.

Meski demikian, lanjutnya, tidak berarti pembangunan pelabuhan di tempat lain tidak penting. Hanya saja memang bila kita berbicara terkait jalur pelayaran kapal dunia, maka itu adanya di Selat Sumatera.

Menurutnya, perkembangan pembangunan pelabuhan di Indonesia dapat dikatakan relatif baik, karena dalam masa lima tahun belakangan ini ada beberapa pembangunan pelabuhan baru dan perombakan pelabuhan lama. “Hal itu membuat pertumbuhan terhadap kapasitas tampung pelabuhan di Indonesia khususnya untuk kegiatan penanganan kontainer relatif bertambah besar,” imbuh Hakeng.

BACA JUGA :  Arab Saudi Mau Bekerja Sama Proyek Pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara

Pelabuhan Batam diharapkan mampu bersaing dengan pelabuhan lain yang lebih dulu yang ada di Selat Sumatera seperti Port Klang, Singapura dan Tg Pelepas, Malaysia. Dan perkiraan Menko Marves perluasan pelabuhan itu akan mampu menekan ongkos logistik di Indonesia  yang saat ini 23 persen menjadi 17 persen.

“Keinginan tersebut tentunya harus dapat diikuti pula dengan ketersedian jumlah armada kapal nasional yang harus siap bertambah. Selain itu harus ada dukungan dan aturan bea masuk dan keluar yang berpihak pada pengusaha logistik yang nantinya berujung kepada harga yang tetap kompetitif bagi konsumen,” ujar Hakeng yang juga salah satu dewan pengurus dan pendiri Perkumpulan Ahli Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (AKKMI).

Sebagai salah satu negara kepulauan atau maritim terbesar di dunia, peran pelabuhan sangatlah penting untuk menunjang kegiatan ekonomi dan bisnis, distribusi barang dari daerah/kota di satu pulau ke daerah/kota di pulau lainnya hampir pasti dilakukan melalui pelabuhan. Sehingga peran pelabuhan untuk pengembangan wilayah dan pembangunan ekonomi sangatlah besar perannya.

Keberadaan pelabuhan termasuk pengelolaannya sesuai dengan standar internasional baik dari sisi produktivitas, keselamatan, keamanan maupun tarif yang dikenakan kepada pengguna jasa. Regulasi dan semua aturan turunannya yang menyangkut pengelolaan pelabuhan harus dibuat dengan tujuan agar distribusi barang lancar, efektif dan efisien yang dapat dirasakan oleh semua stakeholder dan atau semua pihak yang berkepentingan dengan pelabuhan.

“Yang menjadi tantangan kita semua adalah bagaimana meningkatkan pertumbuhan volume barang yang akan didistribusikan lewat pelabuhan yang dibangun tadi. Sehingga investasi pembangunan pelabuhan atau terminal tadi, dari sisi bisnis dapat menghasilkan return sesuai dengan yang diharapkan. Konsep Ship’s follow the trade ataupun sebaliknya harusnya dijadikan kombinasi yang saling menopang guna menarik minat investor tersebut. ” sambungnya.

BACA JUGA :  Vaksinasi dan Disiplin Prokes Diterapkan Sejalan Atasi Pandemi

Hal penting lain adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) pelabuhan di indonesia yang handal, yang akan menangani industri maritim dan/atau pelabuhan dilakukan paralel dan sejalan dengan kebutuhan era digital.

Menurutnya, perlu diperbanyak kursus-kursus dan pelatihan harus guna memastikan SDM maritim khususnya yang mengelola industri pelabuhan mempunyai kemampuan minimal setara dengan SDM di negara-negara lainnya.

Disamping penambahan armada dan profesionalitas SDM, yang perlu diperhatikan juga mengenai teknologi di pelabuhan untuk mendukung kinerja ekspor impor di pelabuhan. Pelabuhan dan pelayaran sudah siap menghadapi teknologi 4.0. Teknologi penanganan pengelolaan pelabuhan utamanya pada peralatan bongkar muat yang memungkinkan untuk bisa menghasilkan produktivitas yang memadai sesuai dengan standar internasional baik rasio jumlah maupun tingkat kecepatannya.

“Di samping tentunya dibantu dengan sistem aplikasi teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.  Melihat hal-hal tersebut, maka perluasan pelabuhan Batam tersebut merupakan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Harapan saya, Pelabuhan yang sedang dikembangkan ini, akan menjadi pioneer dalam pengembangan green port concept di Indonesia terutama bila kita mengingat posisi Indonesia dalam G20 dan juga terkait komitmen kita dalam COP26,” pungkasnya. (Pb-6)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.