kominfo iklan

Romo Laurens Noi Launching Buku Emas Paroki Santo Thomas Morus Maumere

388
Romo Laurens Noi Launching Buku Emas Paroki Santo Thomas Morus Maumere
Pastor Paroki RD. Laurens Noi dan tim penulis berpose bersama Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Kapolres Sikka AKBP Nelson Filipe Diaz, Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret RD. Hilde Tanga, dan Wakil Rektor I Unipa Indonesia Dr. Jonas KGD Gobang, S.Fil, M.A usai peluncuran buku di Halaman Gereja Santo Thomas Morus Maumere, Kamis (29/9/2022). Foto Istimewa.

 

MAUMERE, Pojokbebas.com – Pastor Paroki Santo Thomas Morus Maumere, RD. Laurens Noi melaunching Buku berjudul “The King’s Good Servant, But God’s First” (Aku adalah abdi raja yang setia, tetapi di atas segalanya aku adalah abdi Allah) dalam acara syukuran pesta emas Paroki Santo Thomas Morus Maumere di Halaman Gereja Paroki itu, Jalan Soekarno Hatta, Kamis (29/9/2022). Launching Buku Emas Paroki Thomas Morus ini  ditandai dengan pembagian/penyerahan buku kepada sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat di antaranya Yang Mulia Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Kapolres Sikka AKBP Nelson Filipe Diaz, Ketua Panitia Emas dr. Ignatius Henyo Kerong, Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret RD. Hilde Tanga, dan Wakil Rektor I Unipa Indonesia Dr. Jonas KGD Gobang, S.Fil, M.A,  RD. Quin Galmin, dan sejumlah perwakilan umat di Gereja Santo Thomas Morus Maumere, Kamis (29/9/2022).

Peluncuran diawali dengan pembacaan puisi yang merupakan salah satu puisi yang juga dimuat dalam buku ini karya RD. Quirinus Galmin.Buku “The King’s Good Servant, But God’s First (Aku adalah abdi raja yang setiap, tetapi di atas segalanya, Aku adalah abdi Allah) ini ditulis tim penulis Walburgus Abulat, Eugenius Moa, dan Jacobus Herin. Buku setebal 300 halaman lebih ini juga dilengkapi dengan sambutan Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu dan sambutan Bupati Sikka serta beberapa tulisan terkait Santo Thomas Morus yang disumbangkan oleh EP d a Gomez, RP. John M. Prior, RD. Dr. Philip Ola Daen, RD. Richard Muga Buku, RD. Yanuarius Hilarius Role, RD. Polykarpus Sola,dan beberapa puisi karya RD. Quirinus Galmin.

Buku memiliki  23 bab yang antara lain mengupas soal Sejarah Misi Katolik Keuskupan Maumere, Sejarah Berdirinya Paroki-Paroki di Keuskupan Maumere, Sejarah Paroki Thomas Morus, Mengenang RD. Philipus Loi Riwu, Paroki Santo Thomas Morus Maumere Sebuah Perjalanan yang ditulis E.P. da Gomez; Nelayan Buruh dan Petani Meneguhkan Frater Sirilus Meo Mali; Gempa 1992 Perkokoh Iman Umat, Misi Gereja Dalam Terang Dialogika oleh RD. Philip Ola Daen, Toleransi Altar Tahbisan Imam, Menentang Mafia Perbankan; Orang Muda Katolik, Kreatif dan Inovatif;Media Sosial dan Tugas Kerasulan IMK oleh RD. Polykarpus Sola; Sekami Mengunjungi Biara Simeon Ledalero, Paroki Santo Thomas Morus Dalam Bingkai Pastoral Keuskupan Maumere oleh RD. Yanuarius Hilarius Role, Afirmasi Pastoral Partisipatif oleh RD. Richard Muga Buku, Sejarah Stasi  Martir Brai, Globalisasi dan Spiritualitas Thomas Morus oleh Jack J. Herin, Sajak karya RD. Quin Galmin; Data Paroki Santo Thomas Morus Maumere Tahun 2022, dan Daftar Kongregasi di Paroki Santo Thomas Morus Maumere.

Romo Laurens Noi Launching Buku Emas Paroki Santo Thomas Morus Maumere
Pastor Paroki St. Thomas Morus Maumere RD. Laurens Noi didampingi Seksi Publikasi dan Dokumentasi dan Tim Penulis Buku menyerahkan Buku Emas Thomas Morus kepada YM Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Wakil Bupati Sikka Romanus Woga, Kapolres Sikka AKBP Nelson Filipe Diaz, Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret RD. Hilde Tanga, dan Wakil Rektor I Unipa Indonesia Dr. Jonas KGD Gobang, S.Fil, M.A saat launching Buku Emas Thomas Morus Maumere, Kamis (29/9/2022). Foto Istimewa.

 

BACA JUGA :  Janji Keenam Menteri Baru Usai Dilantik

Terima Kasih

Pastor Paroki Santo Thomas Morus, RD,. Laurens Noi dalam kata pengantar buku ini antara lain menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, terutama Ketua Panitia dr. Ignatius Henyo Kerong, Ketua Pelaksana Felix Wodon, Germanus Goleng, dan Alfridus Aeng, dan secara khusus kepada tim penulis dan para pihak yang menyumbangkan tulisan dalam buku emas ini.

“Salah satu seksi dari kepanitiaan adalah seksi Dokumentasi dan Publikasi. Pekerjaan utama seksi ini adalah menyusun Buku Kenangan 50 Tahun Paroki Santo Thomas Morus Maumere. Dalam buku ini sudah tersusun sekian banyak judul yang tentunya kaya kisah, makna dan pesan bernas untuk karya pelayanan dan pastoral selanjutnya,” kata Romo Laurens.

Untuk diketahui buku ini dicetak oleh Moya Zam Zam Bantul Yogyakarta, dan diterbitkan oleh Penerbit Lamaholot Yogyakarta. Buku ini dijual Rp100.000 per eksemplar.

 

Sekilas Santo Thomas Morus

obor ormas

Thomas Moore atau Thomas Morus adalah martir Inggris, negarawan dan pengacara terkenal. Ia menjadi lambang kebanggaan para pengacara. Ia lahir di London pada tanggal 6 Februari 1478. Ayahnya Sir John Moore adalah seorang pengacara dan hakim pada Mahkamah Kerajaan. Ibunya Agnes Granger adalah seorang ibu yang saleh. Ketika memasuki usia remaja, Thomas memulai pendidikannya di Sekolah Santo Antonius di London. Kira-kira pada tahun 1490, ia menjadi pelayan Kardinal John Morton, Uskup Agung Carterbury. Di sana ia mendapat pelajaran Bahasa Yunani di bawah bimbingan William Grocyn.

Setelah itu ia memasuki pendidikan dalam bidang hukum di London. Setelah menyelesaikan studi hukum itu, ia menjadi anggota Parlemen pada tahun 1504. Minatnya pada sastra klasik sangat besar. Oleh karena itu ia belajar lagi karya-karya klasik dari Aristoteles dalam bahasa Yunani. Selain mahir dalam bahasa Yunani, Thomas pun mahir berbahasa Latin dan Prancis, serta ahli di bidang sejarah, ilmu pasti dan musik. Keahlian-keahliannya ini membuat dia menjadi seorang pengacara yang populer tetapi juga orang yang ragu-ragu akan panggilan imamat yang sudah lama bergolak dalam batinnya.

BACA JUGA :  Cuaca Buruk Terjang Kapal Motor di Perairan Labuliang, 2 Penumpang Tewas
Foto Buku Emas Thomas Morus

Atas nasihat Pastor John Colet, pembimbing rohaninya, Thomas akhirnya mengambil keputusan untuk tetap menjadi awam Katolik yang berkecimpung dalam bidang politik. la kemudian menikah dengan Jane Colt pada tahun 1505. Tuhan mengaruniakan kepadanya tiga orang puteri dan seorang putera. Sepeninggal isterinya Jane Colt pada tahun 1511, Thomas menikah lagi dengan Alice Maddleton seorang janda. Thomas benar-benar seorang awam Katolik yang beriman. Hidupnya sangat sederhana. Ia tidak pernah menerima uang semir untuk semua perkara yang ditanganinya.

la bahkan berhasil memberantas korupsi dan kemalasan di dalam kantor Pengadilan Kerajaan. Sampai akhir hidupnya, ia tetap setia menjalankan tapa, doa dan renungan setiap hari. Seluruh anggota keluarganya setiap pagi diajaknya berdoa pagi dan malam. Pada waktu makan siang, mereka mendengarkan bacaan Kitab Suci atau riwayat Orang-orang Kudus. Dia sendiri setiap hari Jumat merenungkan sengsara Tuhan serta berbuat amal kepada orang­orang yang berkesusahan.

Keahliannya di bidang hukum dan sastera klasik membuat dia dikenal banyak orang hingga di luar negeri. Rumahnya ramai dikunjungi orang dan menjadi tempat pertemuan para ilmuwan dan seniman dari berbagai negara. Rakyat jelata sangat menyegani dan menghormatinya. Oleh karena itu, demi keberhasilan usahanya untuk memisahkan Gereja Inggris dari pengaruh Roma, Raja Henry VIII mengangkat dia menjadi Kanselir Kerajaan. Demi menunjukkan kepatuhannya kepada raja, Thomas menerima tugas ini.

Walburgus Abulat, salah satu tim penulis buku

 

Tetapi tiga tahun kemudian ia mengundurkan diri sebagai protes terhadap tindakan Raja Henry VIII yang ingin kawin lagi secara tidak sah dan ingin mengangkat dirinya sebagai Kepala Gereja di Inggris. Ia mengasingkan diri ke pedalaman. Karena tidak menghadiri perkawinan raja dengan selirnya maka Thomas ditangkap.

BACA JUGA :  Dinas Pertanian Mabar Gelar Rakor Jelang Musim Tanam April-September

Namun beberapa hari berikutnya ia dibebaskan lagi. la dipanggil untuk mengucapkan sumpah setia kepada raja dan semua tindakannya, terutama sumpah untuk mengakui raja sebagai Kepala Gereja di Inggris. la bersama Uskup John Fischer menolak untuk bersumpah. Bersama Uskup John Fischer, Thomas dipenjarakan lagi. Harta milik keluarganya disita. Keluarganya sangat menderita karena peristiwa itu. Mereka meminta Thomas agar mengikuti saja kehendak raja seperti dilakukan banyak Uskup. Tetapi Thomas menolak permintaan keluarganya itu dan tidak mau ikut main sandiwara.

la dengan setia mengikuti bisikan suara hati dan keyakinannya. Atas pertanyaan hakim: “Apakah engkau menganggap dirimu lebih bijaksana dan jujur daripada uskup-uskup dan pembesar-pembesar kerajaan ini?“, Thomas dengan tegas menjawab: “Meski uskup-uskup tidak sependapat dengan aku, ada ratusan orang kudus yang mendukung aku, meski parlemen tidak sependapat dengan aku, aku didukung oleh konsili-konsili umum yang telah berkali-kali diadakan, meski seluruh kerajaan tidak sependapat dengan aku, seluruh kerajaan Kristen sependapat dengan aku“. Karena ketegasan dan pendiriannya itu, kepalanya dipenggal pada tanggal 6 Juli 1535. la mati sebagai seorang martir, seorang awam Katolik yang beriman. (Walburgus Abulat)

 

 

knpi
hanura

Leave A Reply

Your email address will not be published.