Secangkir Kopi Bercitarasa Toleransi  Beragama ala  Kedai Keuskupan Maumere

Oleh Walburgus Abulat (Wartawan Pojokbebas.com)

139
Secangkir Kopi Bercitarasa Toleransi Beragama ala Kedai Keuskupan Maumerepengunjung sedang berada di Mai Sai Kedai Pangan Lokal dan Ole-ole Maumere, Rabu (24/11/2021). Foto Walburgus Abulat
Beberapa pengunjung sedang berada di Mai Sai Kedai Pangan Lokal dan
Ole-ole Maumere, Rabu (24/11/2021). Foto Walburgus Abulat

 

MAI  Sai Kedai Pangan Lokal dan Oleh-Oleh Maumere milik PT Langit Laut Biru yang terletak di Jalan Mgr. Sugiyopranoto Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT berdiri kokoh. Kedai yang  diresmikan oleh Bupati
Kabupaten Sikka  Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si pada Juni 2021 lalu berjualan aneka jenis pengolahan makanan lokal, aneka minuman kopi, aneka sayur buah non pestisida, prasman, nasi kotak, dan coklat.

Setelah diresmikan, kedai ini ramai dikunjungi konsumen dari pelbagai profesi, suku, agama, dan latar belakang lainnya. Tingginya animo warga menyambangi kedai ini memiliki beragam  alasan.  Beberapa alasan di antaranya  karena kedai ini memiliki aneka produk pangan bahan lokal yang pengolahannya  berkualitas seperti nastar sorgum, selai nanas, dan puding kelor. Ada juga warga bertandang ke sana dengan alasan yang sederhana yakni karena kedai ini menyiapkan aneka kopi yang bercita rasa lokal, nasional dan internasional.

 

Kopi bercita rasa lokal, nasional dan internasional. Ya, semuanya ada di  Kedai milik Keuskupan Maumere ini. Betapa tidak. Kedai ini menyiapkan aneka kopi arabika dan robusta dari hasil produksi petani kopi dari beberapa lokasi di daratan Flores, plus kopi    produksi petani kopi dari Aceh dan daerah lainnya di Indonesia, dan kopi dari luar negeri.

Di antara deretan produksi kopi itu, ada kopi arabika  asal Loke/Sikka,  dan Manggarai. Ada juga jenis kopi Robusta asal Hokeng, Wolofeo, Gera, Mandailing, Yellow caturra Manggarai, dan beberapa jenis kopi lainnya dari mancanegara.

Aneka jenis kopi yang disiapkan di kedai menjadi  salah satu alasan utama tingginya animo konsumen mengunjungi tempat ini. Ya, memang setiap orang datang di tempat ini selalu memesan kopi. Bahkan, kopi
menjadi salah satu untuk mengawali berbagi cerita, saling menguatkan, saling memotivasi untuk maju, dan sarana untuk menyatukan perbedaan.

 

Sebab, selama menenggak segelas kopi, antar pengunjung apa pun agamanya, apa pun sukunya dan profesinya mereka duduk di satu meja dalam bingkai keindahan keberagaman.

Sebab, ada pengunjung yang mengenakan aksesoris rohani yang menjadi ciri khas penganut agama Kristen Katolik seperti memakai Rosario atau kalung yang ada corpus Yesus di Salib. Ada  juga pengunjung yang
mengenakan busana muslimah seperti berjilbab dan memakai tasbih. Ada juga pengunjung yang beragama Kristen Protestan, dan beragama Hindu.

Secangkir Kopi Bercitarasa Toleransi Beragama ala Kedai Keuskupan Maumere
Direktur Operasional PT LLB Maumere Ibu A. Dian Setiati (kiri), didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lanjut Usia pada Dinas Sosial Kabupaten Sikka Reginaldus Moat Wona (ke-2 dari kiri) dan Store Manager Gramedia Lilik Hendra Saputra (kanan) sedang meninjau hasil aneka produk yang dihasilkan kelompok difabel bidang menjahit yang dipajangkan di Halaman Mai Sai Kedai Pangan Lokal milik PT Langit Laut Biru Keuskupan Maumere, Jalan Mgr. Soegiyopranoto, Rabu (24/11/2021). Foto Walburgus Abulat

 

Meskipun mereka berbeda secara agama dan latar belakang suku, namun mereka memiliki satu tekad yang sama yakni mendukung memajukan produk-produk lokal, baik produk hasil olahan kopi petani Flores,
maupun produk  dari pengolahan bahan pangan lokal seperti Nastar Sorgum, Selai Nanas, dan Puding Kelor. Mereka juga mendukung memakai aksesoris yang terbuat dari tenunan Sikka seperti tas jinjing, tas HP, dan sejenisnya.

Suasana keberagaman seperti ini menjadi salah satu pemandangan utama di kalangan konsumen di Kedai milik Keuskupan Maumere ini. Media ini mencatat, situasi keberagaman seperti ini juga terjadi ketika penutupan kegiatan pelatihan softskill yang diselenggarakan Kementerian Sosial (Kemensos) RI melalui Balai Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu  Wicara  Efata Kupang yang diikuti 36 difabel dari pelbagai agama yang dilangsungkan di Kedai ini pada Rabu 24 November 2021.

Pada saat itu, para peserta yang hadir  acara penutupan ini dari pelbagai agama. Mereka  merajut kebersamaan dalam keberagaman. Mereka menenggak kopi atau minuman lainnya sambil saling memotivasi untuk maju dalam berusaha. Mereka saling membagi pengalaman, saling membagi ilmu untuk menghasilkan aneka produk hasil karya tangan mereka seperti aneka  pakaian bermotif tenunan Sikka, aneka olahan pangan lokal
seperti nastar sorgum, selai nanas, dan puding kelor. Mereka juga menghasilkan aneka mebel seperti meja,kursi, kursi jongkok, dan aneka mebel lainnya.

Uniknya mereka mensharingkan pengalaman ini dalam suasana rada santai-sambil menenggak kopi. Ya kopi hasil usaha petani di daratan Flores seperti Yellow Catura Manggarai, kopi loke, kopi Hokeng, kopi
Mekendetung, dan kopi lokal Flores lainnya.“Ya, secangkir kopi permudah komunikasi antarpengunjung  lintas agama,” kata Arif salah satu pengunjung Kedai .

Pengakuan Arif ini semakin mendapatkan keutuhan maknanya, tatkala, di antara pengunjung Kedai yang datang saat itu,  ada beberapa pastor di antaranya calon misionaris dari Kongregasi Societas Verbi Divini (SVD)
Ledalero yang mendapatkan penempatan di Afrika yakni RP Yos Meda, SVD dan RP Yanto Ria, SVD. Dua  pastor ini diterima  Direktur Keuangan PT LLB, Direktur Keuangan PT LLB RD Edwaldus Dionisius Goa.

Dua pastor muda ini tampak duduk santai di salah satu sudut bagian Timur  Mai Sai Kedai Pangan Lokal itu. Mereka duduk di atas kursi terbuat dari mebel dalam polisi melingkar satu meja. Di atas meja diletakkan beberapa gelas minuman kopi. Kopi menebarkan aroma cita rasa berbeda. Sebab ada yang dibuat dengan menggunakan bubuk kopi Arabika Loke, ada yang bercita rasa robusta Yellow catura Manggarai, dan jenis kopi Flores lainnya.

Sambil menenggak minum kopi, dua misionaris  itu tampak berbincang santai dengan beberapa punggawa PT LLB, termasuk RD Donis dan penulis. Topik pembicaraan kami seputar  Kampus Bukit Sandar Matahari Terbit
alias Ledalero. Ya, kami berbicara seputar pengalaman kami saat menimba ilmu di STFK Ledalero, soal vaksinasi covid-19 yang dilangsungkan di Ledalero di mana vaksin berasal dari Muhammadiyah, dan topik humanis dan joke lainnya.

Secangkir Kopi Bercitarasa Toleransi Beragama ala Kedai Keuskupan Maumere
Pelayan Mai Sai Kedai Pangan Lokal dan Ole-Ola Maumere, Juan (kiri) sedang melayani seorang pengunjung di Kedai yang terletak di Jalan Mgr. Sugiyopranoto Maumere, Rabu (24/11/2021). Foto Walburgus Abulat

 

Dalam suasana persaudaraan ini, terkadang suasana canda ria dan tawa yang terlahir dari rahim putih selalu terbias dari hati telanjang di antara kami. Suasana canda diselipi kata-kata pujian seputar cita rasa kopi yang menyegarkan. “Cita rasa kopi di Mai Sai Kedai Pangan Lokal ini sangat enak,” kata Pater Yos Meda.

Sementara di dalam Aula Mai Sai Kedai tampak puluhan difabel   asal Sikka lintas agama _ peserta pelatihan softskill yang diselenggarakan Kemensos RI melalui Balai Rehabilitas Sosial  Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu  Wicara  Efata Kupang.

Para difabel yang didampingi para instruktur dan  pendamping lagi mendengarkan arahan dan masukan dari Perwakilan Balai Rehabilitas Sosial  Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu  Wicara  Efata Kupang Sam Umbu Zaza; dan Ibu Elisabeth Bergita Rihi atau yang biasa disapa Ibu Elsi yang mewakili Dinas Sosial Kabupaten Sikka.

Turut hadir di tengah para difabel beberapa tamu yang mengenakan jilbab di antaranya Nur Apriyanti,  dan Nona Ayu. Nama yang terakhir tampak antusias memesan segelar kopi untuk diminumnya. “Saya pesan segelas kopi,” kata Ayu kepada pelayanan Mai Sai Kedai Pangan Lokal bernama Juan.

“Kopi jenis apa?” ujar Juan. “Kopi Arabika Loke atau kopi asal Sikka  lainnya,” timpal Ayu.

Ayu kepada media ini mengaku, ia sudah beberapa kali menikmati aneka kopi dengan pelbagai cita rasa yang disiapkan Mai Sai Kedai Pangan Lokal. “Saya sangat senang menenggak kopi di Mai Sai Kedai ini. Cita rasanya sangat enak,” kata Ayu bangga.

Ya segelas kopi. Kopi di Mai Sai Kedai Pangan Lokal dan Ole-Ole Maumere. Kopi yang tak hanya berisikan campuran gula, dan bubuk kopi dalam air panas. Segelas kopi di Kedai ini  tidak saja menawarkan atau
merasakan kenikmatan usai ditenggak oleh pihak yang mengonsumsinya. Lebih dari itu, segelas kopi di Kedai milik Keuskupan Maumere ini memiliki makna yang lebih dalam-lebih luas. Ya, itu tadi Secangkir Kopi Bercitarasa Toleransi  Beragama Ala  Mai Sai Kedai Keuskupan Maumere. Sebab di Kedai yang letaknya sekitar 50 meter dari Gereja Katedral Santo Yoseph Maumere ini, atau sekitar 500 meter dari Masjid Perumnas dan Masjid Beru Maumere ini – para pengunjung saling berbagi pengalaman dan ilmu untuk merajut kesuksesan dimasa depan apa pun latar belakang agama, suku, ras dan golongannya.

Suasana pengunjung seperti ini mendapatkan apresiasi dari Direktur Operasional PT Langit Laut Biru (LLB) Keuskupan Maumere, Ibu A. Dian Setiati.

“Saya sangat senang sekali. Karena di Mai Sai Kedai Pangan Lokal dan Ole-Ola Maumere milik Keuskupan Maumere ini orang saling memotivasi, saling mensuport apa pun agamanya. Keberagaman itu perlu, dan
harapannya akan membawa efek positif,” kata Ibu Dian. Mari, nikmati secangkir kopi bercita rasa  toleransi beragama ala Mai Sai Kedai Keuskupan Maumere. ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.