Si Kontroversial Itu Telah Pergi: Mengenang 3 Hari Kepergian Bupati Lembata

Oleh: Poya Hobamatan *)

2.483
Natal
Penulis | foto istimewa

Tiga hari yang silam Lembata berduka karena bupatinya, Eliezer Tjenci Sunur, meninggal akibat covid yang menyerangnya. Bendera setengah tiang segera menghiasi rumah-rumah masyarakat Lembata. Berita tentang Yance, sapaan akrabnya, segera menghiasi jagad maya. Pujian maupun cercaan, ratap tangis maupun gelak tawa, segera memenuhi ruang berbagai media yang dipunyai warga Lembata mondial.

Sebagai seorang yang pernah mendukungnya di periode pertama untuk memimpin Lembata, serentak memantau kiprahnya dalam 9 tahun kepemimpinannya, saya harus mengakui bahwa nama Yance memang tenar. Ia hampir selalu diperbincangkan setiap hari oleh masyarakat selama 9 tahun, bila dibanding dengan para pemimpin Lembata sebelumnya. Ia diperbincangkan oleh para pemujanya maupun masyarakat yang muak dengannya. Ia tenar karena ia sosok kontroversial.

Politisi Kontroversial

Saya teringat ketika masa pilkada periode pertama, 9 tahun silam. Kala itu agamanya dipermasalahkan. Kepada masyarakat Yance diberi stigma buruk sebagai orang yang diragukan identitas agamanya. Dalam kondisi di mana masyarakat sedang gamang memperbincangkannya di seantero Lembata, Yance memainkan ketenarannya dengan membuat lobi-lobi politik untuk semakin meraup suara. Menjelang hari pemilihan, ia mengundang P. Yoseph Djaga Dawan, SVD; Pastor Parokinya di Bekasi untuk merayakan misa di Lewoleba. Masyarakat dibuat kaget, sebab dalam kotbah, P. Yoseph membuka rahasia bahwa  Yance merupakan salah satu petinggi pastoral di Parokinya. Semua terlena. Suhu politik meredah. Usaha-usaha para lawan politik untuk menjungkirbalikkan keadaan  terasa sia-sia karena limit waktu yang sangat sedikit. Yance melenggang ke panggung pilkada dengan meraup suara terbanyak. Ia bupati pilihan rakyat, bukan bupati angan-angan para sarjana.

Itulah sebabnya, walau di kalangan para sarjana, ia dibenci dan dicaci maki; tetapi di kalangan masyarakat bawah, ia adalah dewa. Ke manapun ia pergi, ia pasti dikalungkan secara adat, disambut dengan tarian meriah. Bahkan dalam sebuah video di jagad maya, ia dipikul dalam tandu bagai para raja tempo dulu.

Kendati demikian permainan politik belum berhenti. Di masa kepemimpinannya, ijazah sarjananya terus dipersoalkan oleh mereka yang muak dengannya. Isu kriminal dan korupsi, entah itu Awalolong maupun Wei Lain,  tak pernah menjauh darinya. Namun Yance tetap tidur dengan tenang, pulang pergi Lembata-Jakarta tanpa beban. Justru sebaliknya ia membuat lawan-lawannya tak bisa tidur, terus mengusik dan mencari celah untuk mendapatkan titik serang. Sayang, sampai wafatnya, para lawannya tak bisa membuktikannya secara hukum di pengadilan, kecuali berkoar-koar di jagad maya.

Begitulah Yance. Ia bukan seorang birokrat murni. Ia justru seorang politisi kawakan. Dan oleh karena itu ia jeli memantau cuaca politik dan lihai pula memainkan sentiment politik. Adigium politik “tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik”,menjadi kartu truf yang selalu dipegangnya dan dimainkannya di saat yang tepat.

Tidak heran ia yang terlahir dari Partai PDIP mudah meloncat ke Partai Golkar, ketika periode kedua tak lagi diusung oleh partai banteng bermocong putih itu. Bahkan, sebagaimana dikisahkan oleh Dr. Andreas Hugo Parera, setelah memenangkan pilkada periode kedua, Yance dengan sangat lugas mengatakan “walau saya berbaju kuning tetapi darah tetap merah”.

Adigium politik sebagai kartu truf itu juga yang membuat ia sanggup menjahit jejaring politik dengan para legislator maupun dengan  mereka yang berkecimpung di bidang yudikatif. Bahkan karena begitu kuat menggenggam adigium politik itu, ia membuat para bawahannya di bidang eksekutif tak sanggup bergeming, selain tunduk dan taat, karena jika tidak setiap saat bisa dihempas.

Begitu piawainya dalam politik, sehingga ia merupakan satu-satunya bupati yang menjadikan rumah pribadinya sebagai rumah jabatan dengan segala remah-remah yang didapatinya, seraya membiarkan rumah jabatan terlantar begitu saja tanpa ada sangsi hukum oleh DPRD. Tidak heran jalan indah di Lembata serta aksesoris lainnya hanya terwakilkan di Kuma Resort. Di sanalah segala urusan birokrasi, politik dan bisnis diolah dan disajikan ke public. Lewoleba yang menjadi ibukota dibuat kumuh tak terurus.

Bukan hanya itu, memimpin sebagai politisi juga pada akhirnya menggiring Yance untuk sekedar memenuhi syawat pemilih dan tak berani berdiri sebagai seorang bupati untuk Lembata. Banyak suara sumbang tentang ketidakadilan, terutama sarana-sarana public, seperti jalan dan air, yang hanya terpenuhi ke wilayah timur yang merupakan basis pemilih dan menelantarkan masyarakat lain di wilayah Lembata. Masyarakat  Atadei, Nagawutun, dll; seakan dianaktirikan. Hak-hak mereka untuk mendapatkan remah bonum commune dipangkas, bukan karena mereka warga non Lembata, melainkan karena warga non pemilih Yance. Ia dipilih di zaman reformasi, namun cara bertindaknya tetap bergaya orde baru.

Bukan hanya untuk warga saja Yance berbuat demikian. Ia juga sanggup membuat kebijakan-kebijakan untuk dirinya sendiri, tanpa kesulitan. Baru-baru ini jagad maya heboh atas usulan gaji dan tunjangan dirinya yang mendekat setengah miliar rupiah, di tengah situasi masyarakat yang sedang terkapar. Banyak protes dan caci maki kepadanya, yang menghiasi media social, namun semuanya tak berdaya, karena wakil rakyat yang diberi kuasa untuk menelaah budgeting daerah merasa usulan itu biasa-biasa saja.

Seniman Kontroversial

Selain dipengaruhi oleh jiwa politisi, Yance juga  lebih memimpin Lembata dengan naluri sebagai seorang seniman. Sebagai seniman, ia bertindak hanya dengan selera jiwanya, yang terkadang berbenturan dengan aturan main normative, sehingga memusingkan kepala para Sekretaris Daerah. Beberapa kali, di group WA Ata Lembata, Pak Petrus Atawolo, mantan sekda yang sangat piawai itu, memberikan analisa benturan kebijakan yang dibuat Yance, yang bisa membuat orang nomor satu Lembata ini berurusan dengan hukum. Namun lagi-lagi Yance melenggang tanpa beban. Sebagai seniman, ia sangat lembut sekaligus sangat keras dan kokoh pada naluri jiwanya, begitu merdeka, tak hirau pada hukum yang seharusnya punya wewenang untuk membatasinya.

Jiwa seniman itu juga membuatnya tampak tak terlalu religious; tak  alergi dengan pimpinan agama formal manapun, bahkan sangat bersahabat erat dengan para dukun kampung untuk menikmati mantra-mantra. Jiwa seni itu pula yang membuatnya tampak bergairah dan sangat menikmati sajian budaya-budaya lokal sampai mengangkatnya ke atas pentas di panggung pariwisata, yang ia jadikan sebagai leading sector economy Lembata. Hati yang berpaut dengan budaya dan mata yang sangat jeli melihat panorama Lembata itu, yang terus dipromosikan di media social dengan satu semboyan sederhana “Aku Lembata” untuk merangsang adrenalin wisatawan supaya beranjangsana sekaligus mencicipi kenikmatan di titik-titik keindahan yang dimiliki oleh tubuh Lembata, yang tempo  dulu disebut Lomblen ini.

Sayang di tengah gencaran untuk mempromosikan Lembata, terhirup pula bau tak sedap. Sebagai seorang yang memiliki naluri bisnis, Yance diisukan telah menguasai lahan-lahan pariwisata milik masyarakat lokal. Bahkan begitu bernafsunya memiliki tanah-tanah yang berpotensi menarik wisatawan itu, jalan ke Lamalera, salah satu daerah pariwisata yang sudah mendunia, justru diabaikan dan ditelantarkan begitu saja. Ia pasti tahu bahwa sejatinya Lamalera adalah pintu gerbang pariwisata Lembata. Dari sanalah pariwisata harus dimulai. Namun Yance justru melihat lain. Ia mengubahnya mulai dari Kuma Resort dan Lamalera menjadi titik finish. Mungkin karena itulah, ia kendati tak pernah alpa ke arah selatan, tetapi sengaja abai dan lalai memperhatikan kebutuhan akan jalan menuju wilayah selatan, karena sibuk mencari semak-semak wisata potensial demi mencapai ereksi bisnis sekaligus untuk merangsang birahi para wisatawan.

Sebetulnya tak ada masalah bagi seorang pejabat public untuk memiliki hak-hak privat, sejauh itu dicapai secara benar dan legal. Tidak masalah pula bila demi menjadikan pariwisata sebagai lokomotif ekonomi Lembata, tanah-tanah potensial pariwisata harus ditata dengan baik dalam semua dimensi agar bisa di-manage selaras dengan kecenderungan  pasar pariwisata itu sendiri. Sebab bagaimanapun, ketika pariwasata dijadikan sebagai andalan, tetapi managemen dan  sumber daya manusia tidak disiapkan secara serius, maka hukum pasar secara alamiah akan berlaku. “Barang yang tak menarik tak digandrung pembeli”.

Kendati demikian harus ada mercusuar peringatan agar hak-hak privat itu bukan untuk pamer keserakahan melainkan agar ikut mendatangkan kebaikan demi masyarakat setempat. Sebab bila penguasaan atas tanah sekedar sebuahi luapan keserakahan belaka karena memegang kunci kuasa, sehingga menutup pintu rejeki dan menghalangi kesejahteraan bagi para pemilik tanah dan masyarakat sekitar, saya rasa para leluhur juga tak akan tinggal diam.

Tetap Kontroversial Sampai Maut Menjemput

Ya! Ako Yance memang sosok kontroversial. Dalam dua kali periode kepemimpinannya, ia bersama para kru politiknya sanggup menghipnotis masyarakat Kedang untuk tidak boleh jadi kondektur, selain menjadi sopir. Semboyan ini begitu kuat tertanam di hati masyarakat pemilih Kedang, sehingga membuat sulit bagi calon non kedang untuk merebut suara dalam pemilu yang akan datang. Hipnotis itu membuat ia melenggang begitu santai di tengah terpaan masalah yang menghunjamnya, karena ia merasa sudah pasti memiliki pengganti yang akan melindungi dirinya, di saat para lawannya sedang membuat ancang-ancang untuk memilih pemimpin di periode berikut.

Tidak heran, di media social telah muncul banyak syarat dan kriteria tentang calon bupati dalam pilkada periode berikut, dari para musuh politik, karena tak puas dengan Yance selama periode kepemimpinannya. Tidak heran pula banyak demo dari elemen mahasiswa dalam periode terakhir, yang bukan disasarkan kepada Yance tetapi kepada aparat penegak hukum.

Begitulah. Sosoknya yang kontroversial itu telah membuat banyak orang tidak bisa tidur, sejak ia memimpin Lembata. Begitu kontroversial, sehingga ia sendiri yang harus menerima resiko. Sebab seandainya ia taat pada aturan yang ia sendiri tetapkan, sehingga tidak bepergian di musim pandemic, sebaliknya melakukan aktivitas melalui daring, ceritanya mungkin lain.

Selamat Jalan Ako

Bagaimana pun banyak jasa telah Yance ukir, yang menghiasi hati masyarakat Lembata. Pada masa kepemimpinannya, Hari Nusantara dirayakan di Lewoleba; sebuah moment yang mungkin tak akan terulang lagi. Ia juga sanggup mengangkat festival tiga gunung sebagai sub sector pariwisata, yang kini telah mendunia, walau mungkin belum mendatangkan devisa. Walau dianggap sepeleh oleh para cendekia, tetapi justru festival itu menyingkapkan konsep taan tou yang mulai tumbuh di hati rakyat Lembata. Sebuah modal untuk bergandengan tangan membangun Lembata, sekaligus warisan budaya untuk generasi milenial yang walau tersekat oleh egoism digital tetap memiliki kearifan bahwa bahwa lembata adalah satu.

Lebih dari itu, ia sosok yang merakyat. Saya pernah menyaksikan bagaimana nenek-nenek memeluknya saat kunjungan untuk menghadiri misa perdana seorang imam. Dengan santai ia duduk di atas batu dan makan sirih pinang bersama mereka. Ia tidak canggung dan tidak pula merasa super sebagai bupati.

Ia juga meninggalkan sebuah pemahaman sederhana tentang demokrasi kepada rakyat Lembata bahwa pemilulah yang akan memutuskan siapa yang layak memimpin dan siapa yang dianggap tak layak memimpin. Ia menanamkan sebuah konsep sederhana tetapi jitu, yakni siapa yang sanggup meyakinkan dan menyentuh pemilih, dialah yang diantar ke kursi bupati, walau mungkin sang calon adalah sosok kontoversial seperti dirinya. Konsep ini harus direguk para petualang politik yang ingin menduduki kursi Lembata I. Sebab bagi pemilih, gagasan cemerlang, idealisme tinggi dengan konsep-konsep teoritis mungkin sangat pantas di bangku kuliah yang membutuhkan kerja budi. Sebaliknya  di level masyarakat pemilih, bukti konkret kendati sederhana; itulah yang menyentuh hati. Pemimpin  seperti itu justru akan terus dikenang walau ia sosok kontroversial. Dan pasti lebih banyak lagi kebaikan daripada keburukan yang dibuat, sehingga ia didapuk menjadi pemimpin selama dua periode.

Jasa, kebaikan dan kontroversi Eliezer Tjenci Sunir ini yang saya angkat untuk mengenang 3 hari kematiannya. Saya memberi catatan di hari ketiga, karena dalam tradisi kristiani, hari ketiga adalah hari kebangkitan. Saya yakin Yance bangkit dan membaca catatan ini sambil tersenyum, karena sampai wafatpun, ia masih membuat Gubernur NTT tak bisa tidur karena terus diserang banyak netizen, akibat keputusannya menguburkan Yance di Lembata melanggar aturan.

Saya juga membuat catatan ini tepat di  hari Idul Kurban, karena ternyata stigma atas Yance di periode awal benar adanya. Dua kali sumpah jabatan ia menggunakan sumpah Katolik, namun di akhir jabatan ia dikebumikan sebagai seorang Muslim. Walau begitu, kuburnya sangat dekat dengan kaki Bunda Maria, yang ia bangun di Bukit Cinta

Saya sangat yakin bahwa dengan sosoknya yang kontroversial, Ibrahim pun akan sulit menyembelihnya, karena lebih banyak kebaikan yang ia buat daripada mudarat yang ia sajikan. Kalau ia masih katolik pasti Abraham akan menyembelih domba, tetapi kalau ia sudah muslim, Ibrahim pasti menyembelih kambing sebagai korban.

Ako selamat jalan. Beristirahatlah dalam damai. Berdamailah dengan Tuhanmu. Jangan buat Tuhan terus mete menjagamu.

 

 *) Penulis adalah warga Lembata Diaspora. Tinggal di Bintan.

4 Comments
  1. Johan says

    Sangat bagus ulasannya. Sebagai akar rumput, beliau yth Alm bp Bupati Yance Sunur telah sedikit banyak memberikan ilmu berpolitik bagi masyarakat umum karna santer diskusi sekutar kontroversi kebijakan beliau. Belajar dari lapangan tentang idealisme versus kontroversi.
    Selamat jalan alm bp Yance Sunur. Tuhan mengasihimu. Tuhan menyertai dan berkati tanah Lomlein.
    Selamat bertugas menakhodai pemerintahan dan rakyathingga akhir masa jabatan, sehat selalu pjs bp bupati Thomas Ola Langodai.
    Sukses buat penulis.

  2. Rifai Mukin says

    Catatan yang Bagus, walau harus diakui ada beberapa catatan yang masih tercecer terutama tentang Satu Lembata yang belum tuntas.
    Yance bukan siapa-siapa di Lembata. Yance hanya seorang pebisnis sejati yang berani berenang dalam lautan politik. Dari sana Yance punya konsep Satu Lembata…. Kata ini semacam mantra yang dahsyat dan begitu kuat membeku nadi politik kawan dan lawan.
    Yance….. Tampil elegan dan merakyat. Salut..

  3. Phillip says

    Mantap

  4. Rafael Ola L'Tadakh says

    Ulasan yang cemerlang..salut ..

    IJIN SHARE

Leave A Reply

Your email address will not be published.