Umat Paroki Santo Thomas Morus Maumere Berkomitmen Bertolak Ke Tempat Yang Dalam

132
Para imam dan umat dengan penuh khidmat merayakan ekaristi Pesta Pelindung Paroki Santo Thomas Morus, Rabu (22/6/2022). Foto Walburgus Abulat

 

MAUMERE,  Pojokbebas.com-Pelbagai elemen umat Paroki Santo Thomas Morus Maumere berkomitmen untuk bertolak ke tempat yang dalam (Duc In Altum) dengan meneladani nilai-nilai perjuangan pelindung paroki ini dengan selalu  memperjuangkan kebenaran, keadilan, semakin cinta dengan ekaristi rajin membaca kitab suci, selalu berdoa dan pelbagai nilai positif lainnya.

Komitmen untuk bertolak ke tempat yang dalam ini  disampaikan oleh Pastor Paroki RD. Laurens Noi, para imam konselebrantes, pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Pastoral Stasi (DPS), biarawan-biarawati, para seminaris asal Paroki ini, Orang Muda Katolik (OMK) anak-abak Sekami dan Sekar, pengurus stasi, lingkungan, dan Komunitas Basis Gerejani (KBG)  dalam rangkaian acara syukuran dan misa memperingati Pelindung Paroki yang berlangsung di Gereja Thomas Morus, Jalan Soekarno Hatta Maumere, Rabu (22/6/2022).

Pesta Pelindung Paroki tahun ini terbilang unik karena diselenggarakan di saat  Paroki sudah berusia 50 tahun atau pesta emas, meskipun acara puncaknya akan dilaksanakan pada 29 September 2022 bertepatan dengan Pesta Malaikat Agung Mikhael, Gabriel dan Rafael.

Disaksikan media ini, elemen umat yang hadir dalam rangkaian acara pesta pelindung dan syukuran ini mengambil bagian secara aktif dalam rangkaian acara seperti menjalankan tugas-tugas liturgis, menyiapkan dan mengantar persembahan, menyanyikan bersama Mars Santo Thomas Morus yang syair nyanyiannya demikian “Martir perkasa Santo Thomas Morus sang pejuang yang membela iman akan Kristus, berani berkorban demi kebenaran dan tak gentar ironi,pahlawan iman Santo Thomas Morus sang teladan amal kasih kepada yang papa, tekun berdoa, junjung Sabda Tuhan, hidup saleh dan bersahaja dengan Refrein Doakan kami O martir ksatria pada Kristus   Raja Agung agar kami tetap berkanjang dalam iman menuju kehidupan kekal.”

Pastor Paroki RD. Laurens Noi (berjubah) didampingi Ketua Panitia dr. Ignatius Henyo Kerong (ke-4 dari kanan), para  tokoh umat, dan para pastor mengikuti rangkaian acara syukuran di area belakang Gereja, Rabu (22/6/2022) malam. Foto Walburgus Abulat

 

Mars Santo Thomas Morus ini dinyanyikan semua umat yang hadir, termasuk para pastor, para suster, biarawan-biarawati, para seminaris. Mereka menyanyikan Mars ini dengan penuh penghayatan di bawah pimpinan dirigen Nona Agusta.

Teladai Santo Thomas Morus

Sementara Pastor Paroki RD. Laurens Noi dalam khotbah dan sambutannya antara lain  mengajak umat untuk meneladani hidup Santo Thomas Morus yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tekun berdoa dan baca kitab suci, bermeditasi, rajin mengikuti ekaristi, suka menolong dan selalu menunjukkan nilai-nilai positif. “Bersama Santo Thomas Morus, kita bertolak ke tempat yang dalam,” kata  Romo Laurens.

BACA JUGA :  Pelangi Nusantara Perkuat Pertahanan Negara

Romo Laurens mengajak seluruh elemen umat untuk berani menjadi saksi Kristus dalam keseharian hidup sebagaimana yang telah ditunjukkan Santo Thomas Morus yang berani menentang penguasa lalim di zamannya, berkata benar kalau memang itu benar, dan salah kalau memang itu salah; bahkan rela kehilangan nyawa demi membela iman  yang diyakininya. “Jadilah saksi-saksi Kristus yang hidup,” pinta Romo Laurens.

Perwakilan umat secara spontan menyiapkan dan membawa persembahan ke altar Tuhan dalam perayaan ekaristi pesta pelindung Paroki Santo Thomas Morus, Rabu (22/6/2022). Foto Walburgus Abulat

 

Meriah

Perayaan pesta pelindung kali ini berlangsung meriah. Kemeriahan ditandai dengan kemasan liturgis yang disiapkan secara baik. Koor dan liturgis ditanggung oleh OMK yang dipimpin Nona Agusta.

Warna kemeriahan  lebih terasa di tenda syukuran sederhana yang dibuat di area belakang Gereja. Pada latar tenda syukuran dipajang  gambar raksasa Santo Thomas Morus dan diatasnya ada tema besar yang dibuat dengan huruf yang sangat mencolok bertuliskan “Bersama Santo Thomas Morus, Kita bertolak ke tempat yang dalam.”

Di bawah tenda ini,  para pastor dan elemen umat bergembira bersama dalam semangat persaudaraan, kerja sama, saling melayani, dan berbagi cerita.

Mereka juga menyaksikan pelbagai atraksi dan aneka hiburan yang dibawakan OMK. Remaja, anak-anak/Sekami dan Sekar, serta hiburan nyanyian yang dibawakan beberapa penyanyi berbakat di antaranya Elis dan Ina.

Suasana kebersamaan semakin terasa tatkala Pastor Paroki mempersilahkan beberapa perwakilan umat di antaranya Daniel Daseng, Ketua OMK Yopi, dan utusan remaja dan anak-anak menyeringkan pengalaman mereka seputar pelayanan yang mereka alami dalam kehidupan menggereja di Thomas Morus dalam pengalaman pengabdian mereka.

Pastor Paroki Santo Thomas Morus RD. Laurensius Noi (jubah putih) berpose dengan para seminaris asal Paroki Thomas Morus usai misa syukuran pelindung paroki, Rabu (22/6/2022). Foto Walburgus Abulat

 

Terima Kasih

Ketua Panitia dr. Ignatius Henyo Kerong dalam sambutan pada kesempatan ini antara lain menyampaikan terima kasih atas kerja sama, partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja selama ziarah paroki itu selama ini, terutama dalam menyukseskan perayaan syukuran pesta pelindung, dan persiapan punca pesta emas Paroki yang diagendakan pelaksanaanya pada 29 September 2022.

“Kami menyampaikan terima kasih atas partisipasi kita semua dalam menyukseskan perayaan pesta pelindung  paroki  kita,” kata dr. Ignatius Henyo Kerong.

Pantauan media ini, warna kebersamaan pesta pelindung paroki kali ini juga terlihat dari semangat setiap umat dari setiap lingkungan di Paroki ini yang menyiapkan menu makanan lokal untuk disantap bersama di area pelataran belakang gereja. Mereka semua, baik para imam, para suster, para  seminaris, DPP., DPS, OMK, Sekami-Sekar dan elemen umat yang hadir makan dari hidangan yang disiapkan di atas tenda yang sama. Mereka saling melayani, dan saling berbagi dan sejalan dengan spiritualitas Santo Thomas Morus-Pelindung Paroki.

BACA JUGA :  Harga Migor di Pasar Belum Stabil, BEM-Nus Pertanyakan Dana Rp7,6 Triliun yang Dikelola BPDPKS
Laurens Noi didampingi Wartawan Pojokbebas.com Walburgus Abulat sedang melayani permintaan pose bersama salah seorang anak kecil usai misa pesta pelindung paroki, Rabu (22/6/2022). foto Istimewa.

 

Sekilas Tentang Santo Thomas Morus

Thomas Moore adalah martir Inggris, negarawan dan pengacara terkenal. Ia menjadi lambang kebanggaan para pengacara. Ia lahir di London pada tanggal 6 Februari 1478. Ayahnya Sir John Moore adalah seorang pengacara dan hakim pada mahkamah Kerajaan. Ibunya Agnes Granger adalah seorang ibu yang saleh. Ketika memasuki usia remaja. Thomas memulai pendidikannya di Sekolah Santo Antonius di London. Kira-kira pada tahun 1490, ia menjadi pelayan Kardinal John Morton, Uskup Agung Canterbury. Di sana ia mendapat pelajaran bahasa Yunani di bawah bimbingan William Grocyn. Setelah itu ia memasuki pendidikan dalam bidang hukum di London. Setelah menyelesaikan studi hukum itu, ia menjadi anggota Parlemen pada tahun 1504.

Minatnya pada sastra klasik sangat besar. Oleh karena itu ia belajar lagi karya-karya sastra klasik dari Aristoteles dalam bahasa Yunani. Selain mahir dalam bahasa Yunani, Thomas pun mahir berbahasa Latin dan Prancis, serta ahli di bidang sejarah, ilmu pasti dan musik. Keahlian-keahlian ini membuat dia menjadi seorang pengacara yang populer tetapi juga orang yang ragu-ragu akan panggilan imamat yang sudah lama bergolak di dalam batinnya.

Atas nasihat Pastor John Colet, pembimbing rohaninya, Thomas akhirnya mengambil keputusan untuk tetap menjadi awan Katolik yang berkecimpung dalam bidang politik. Ia kemudian menikah dengan Jane Colt pada tahun 1505. Tuhan mengaruniakan kepadanya tiga orang puteri dan seorang putra. Sepeninggal istrinya Jane Colt pada tahun 1511, Thomas menikah lagi dengan Alice Maddleton seorang janda.

Thomas benar-benar seorang awam Katolik yang beriman. Hidupnya sangat sederhana. Ia tidak pernah menerima uang semir untuk semua perkara yang ditanganinya. Ia bahkan berhasil memberantas korupsi dan kemalasan dalam kantor Pengadilan Kerajaan. Sampai akhir hidupnya, ia tetap setia menjalankan tapa, doa dan renungan setiap hari. Seluruh anggota keluarganya setiap pagi diajaknya berdoa pagi dan malam. Pada waktu makan siang, mereka mendengarkan bacaan Kitab Suci atau riwayat orang-orang Kudus. Dia sendiri setiap hari Jumat merenungkan sengsara Tuhan serta berbuat amal kepada orang-orang yang berkesusahan.

BACA JUGA :  Ingin Tuntaskan Pandemi Covid-19, UE Mulai Lakukan Vaksinasi Massal
Santo Thomas Morus

 

Keahliannya di bidang hukum dan sastra membuat dia dikenal banyak orang hingga di luar negeri. Rumahnya ramai dikunjungi orang dan menjadi tempat pertemuan para ilmuwan dan seniman dari berbagai negara. Rakyat jelata sangat menyegani dan menghormatinya. Oleh karena itu, demi keberhasilan usahanya untuk memisahkan gereja Inggris dari pengaruh Roma, Raja Henry VIII mengangkat dia menjadi Kanselir Kerajaan. Demi menunjukkan kepatuhan kepada raja, Thomas menerima tugas ini. Tetapi tiga tahun kemudian ia mengundurkan diri sebagai protes terhadap tindakan Raja Henry VIII yang ingin kawin lagi secara tidak sah dan ingin mengangkat dirinya sebagai kepala Gereja di Inggris. Ia mengasingkan diri ke pedalaman. Karena tidak menghadiri perkawinan raja dengan selirnya maka Thomas ditangkap. Namun beberapa hari berikutnya ia dibebaskan lagi. Ia dipanggil untuk mengucapkan sumpah setia kepada raja dan semua tindakannya, terutama sumpah untuk mengakui raja sebagai Kepala Gereja di Inggris. Ia bersama Uskup John Fischer menolak untuk bersumpah.
Bersama Uskup John Fischer, Thomas dipenjarakan lagi. Harta milik keluarganya disita. Keluarganya sangat menderita karena peristiwa itu. Mereka meminta Thomas agar mengikuti saja kehendak raja seperti dilakukan banyak Uskup. Tetapi Thomas menolak permintaan keluarganya itu dan tidak mau ikut bermain sandiwara. Ia dengan setia mengikuti bisikan suara hati dan keyakinannya.

Atas pertanyaan hakim: “Apakah engkau menganggap dirimu lebih bijaksana dan jujur daripada uskup-uskup dan pembesar-pembesar kerajaan ini?”, Thomas dengan tegas menjawab: “Meski uskup-uskup tidak sependapat dengan aku, ada ratusan orang kudus yang mendukung aku; meski parlemen tidak sependapat dengan aku, aku didukung oleh konsili-konsili umum yang telah berkali-kali diadakan; meski seluruh kerajaan tidak sependapat dengan aku, seluruh kerajaan Kristen sependapat dengan aku.”
Karena ketegasan dan pendiriannya itu, kepalanya dipenggal pada tanggal 6 Juli 1535. Ia mati sebagai seorang martir, seorang awam Katolik yang beriman kokoh. *(Walburgus Abulat)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.