kominfo iklan

In Memoriam Prof. Azyumardi Azra, M.A., CBE

Oleh Hendrik Maku Dosen IFTK Ledalero, sekarang sedang belajar di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

394
Penulis /Hendrikus Maku

 

PROF. DR. AZYUMARDI AZRA, M.A., CBE adalah seorang cendikiawan muslim yang tidak asing lagi untuk publik Indonesia dan bahkan dunia. Setiap pribadi yang mengenalnya tentu memiliki kesan yang khusus dan personal. Kesan-kesan yang demikian biasanya terbit seperti bintang bertaburan pasca siang kehidupan berlalu. Sebab, sudah menjadi hukum yang tidak tertulis bahwa glorifikasi dan apresiasi selalu datang terlambat. Dan itu semua hanya menjadi menu klasik yang dinikmati bukan oleh dia yang pantas mendapatkannya.

Prof. Azra bukanlah pribadi yang lapar dan haus akan pujian. Baginya, segala pujian itu adalah milik Allah SWT. Dia, kini telah berpulang ke Rahmatullah. Berita wafatnya ketua dewan pers nasional itu datang dari RS Serdang Kuala Lumpur, Malaysia pada Ahad 18 September 2022, jam 12.30 waktu setempat. “Dengan berat hati disampaikan bahwa ayahanda Prof Azra telah meninggalkan kita semua… Mohon dimaafkan segala kekhilafan beliau dan mohon doa utk beliau. Untuk kepulangan jenazah sedang dikoordinasikan oleh KBRI Kuala Lumpur.”

Bagi civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan para alumni, berita tersebut bukanlah jawaban dari setiap doa dan harapan. Dikatakan demikian karena sebelum berita itu diterima, melalui WA group internal UIN disebarkan sebuah undangan doa bersama bagi kesembuhan Prof. Azra. “Ikaluin (ikatan alumni UIN) Jakarta mengundang Anda untuk bergabung ke rapat Zoom yang terjadwal. Topik: Do’a Bersama untuk Kesembuhan Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBD. Waktu: 18 Sep 2022 06:00 PM Jakarta.”

Dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi yang super canggih, berita duka itu tersebar begitu cepat. Publik terkejut. Seakan tidak percaya kalau Guru Besar di bidang Sejarah dan Peradaban Islam itu telah pergi untuk selamanya. Sementara itu, ucapan turut berbelasungkawa mengalir tiada henti dari seantero jagat, dalam banyak bentuk dan cara. Sebab dia dikenal tidak hanya oleh publik Nusantara tetapi juga oleh publik internasional.

BACA JUGA :  “Buru Warat” dan Deep Ecology ala Orang Manggarai
Pater Hendrik Maku,SVD melayat jenazah Prof Azra.

 

Di dalam in memoriam Prof. Azra, beberapa penulis melukiskan kedekatan pribadinya dengan Almarhum. Ada cukup banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya mengenal Prof. Azra melalui tulisan-tulisannya. Pada titik ini kita tertegun, membenarkan ungkapan bahwa tulisan akan membuat dirimu dikenal. Sebab kalau orang kaya akan dikenal karena kekayaannya, maka seorang profesor akan dikenal karena ilmu pengetahuan yang ditulis dan dipublikasikannya. Prof. Azra telah menulis lebih dari 200-an artikel yang diterbitkan di berbagai jurnal dan puluhan buku, dengan total citasi 16.853 (bdk. google scholar_Azyumardi Azra).

Apa pun yang dikerjakan oleh Prof. Azra bukan untuk sebuah pretensi minor. Perbuatan-perbuatan baik dan amal jariyah yang dikerjakannya dilakukan dengan dan dalam spirit rahmatan lil ‘alamin, dengan membiarkan siapa pun untuk menilai apa yang dikontribusikannya bagi kemajuan peradaban dunia. Almarhum tidak pernah bermimpi untuk menjadi yang terbaik.

obor ormas

Sebaliknya, yang menjadi konsentrasi dari jihad dan ijtihadnya adalah melakukan yang terbaik, mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Keberhasilannya dalam bidang akademik kemudian diapresiasi oleh otoritas baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Beberapa dari penghargaan tersebut antara lain: The Asia Foundation Award (2005), Bintang Mahaputra Utama (2005), dan CBE (Commander of the Order of British Empire dari Ratu Elisabeth, Kerajaan Inggris pada September 2010 (bdk. Azra: Jaringan Ulama, cet. ke-3, 2018, h. 482-483).

Benar bahwa pahala dari amal jariyah tidak pernah berhenti mengalir, juga setelah seseorang itu wafat. Amal jariyah yang dikerjakan oleh Prof. Azra bagi anak-anak ideologisnya di UIN Jakarta adalah ilmu pengetahuan. Di kalangan mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN, Prof. Azra dikenal sebagai seorang guru yang dermawan. Dia tidak pelit dengan ilmu pengetahuannya. Kegelisahannya terhadap realitas yang carut marut tidak berhenti pada titik kekesalan yang pasif dan mandul. Sebaliknya, kenyataan yang muram itu justru merangsang aqal dan nuraninya untuk secara kreatif melahirkan sebuah respons-kritis yang konstruktif. Dan cara terbaik yang selalu dipilih oleh Putra kelahiran Sumatera Barat tanggal 04 Maret 1955 ini adalah menulis artikel dan mempublikasikannya. Sebab dengan cara demikian, dia tidak ingin hanya sampai pada apa yang dikatakan filsuf Prancis pada abad ke-17, Descartes, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Tetapi lebih dari itu, dia ingin mengaktualisasikan filosofi, scribo ergo sum (saya menulis maka saya ada).

BACA JUGA :  Prefasi Kenaikan I & II

Selain dikenal dermawan, Prof. Azra juga adalah seorang cendikiawan muslim yang cerdas. Dia selalu menjaga keseimbangan antara aqidah dan amal, antara kata dan tindakan. Menurutnya, krisis keadaban publik dewasa ini disebabkan oleh adanya gap antara kesalehan personal dan kesalehan sosial. Kondisi tersebut hanya akan berubah kalau nilai-nilai keagamaan yang universal itu tidak hanya diimplementasikan di dalam ruangan yang terbatas dan eksklusif, tetapi harus bisa diimplementasikan di dalam ruang-ruang perjumpaan yang lebih luas dan inklusif (bdk. Azra: Repulika, 10/02/2022). Menurut saya, gagasan yang cerdas ini adalah cerminan atau gambaran diri dari seorang Azra yang tidak hanya kaya akan ide atau gagasan, tetapi juga kaya akan nilai atau asas yang berkenaan dengan akhlak. Itulah mengapa saya, sebagai murid berani memberikannya gelar kehormatan, the man of ideas and the man of ethics.

Hendrik Maku (kiri), Alam. Prof. Azra (tengah)

 

Kalau ilmu pengetahuan itu bisa dilukiskan seperti matahari, maka Prof. Azra adalah salah satu dari sekian banyak yang pernah terbit dan memberikan daya hidup kepada dunia. Malaikat maut menjemput Azra ketika sedang menjalankan misi keilmuannya di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam agendanya, tercatat bahwa beliau ke sana untuk membawakan presentasi pada Muktamar Sanawi dengan tema, “Kosmopolitan Islam: Mengilham Kebangkitan, Menerka Masa Depan”. Prof. Azra sesungguhnya telah menyiapkan presentasi dengan judul, “Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Muslim Asia Tenggara”. Presentasi yang telah disiapkan itu tidak bisa dibawakan dalam forum internasional itu (17/09/2022) karena kondisi kesehatan yang menurun drastis dalam penerbangan dari Jakarta menuju Kuala Lumpur (16/09/2022).

Sebelum terbang menuju Kuala Lumpur, mantan rektor UIN Jakarta itu selama sepekan berada di Sumatera Barat untuk tugas-tugas kenegaraan sebagai ketua dewan pers nasional dan juga untuk misi kemanusiaan dalam kapasitasnya sebagai akademisi. Saya masih sempat mengikuti secara daring perkuliahan umum yang dibawakannya di hadapan civitas akademika UIN Imam Bonjol Padang, pada Rabu 14 September 2022. Semua cerita tentang hari-hari terakhir kebersamaan dengan Almarhum, oleh para sahabatnya dalam acara takziah (18/09/2022) memberikan gelar khusus kepadanya sebagai model dari sebuah pengabdian yang total. Pemberian dirinya yang utuh kepada yang lain telah menjelma menjadi sebuah cahaya yang menghalau kegelapan. Dialah guru dalam arti yang sesungguhnya. Secara etimologis kata “guru” berasal dari bahasa Sanskerta: gu yang artinya kegelapan dan ru berarti cahaya atau terang. Jadi, guru adalah dia yang diberikan amanah untuk mengantar para muridnya keluar dari situasi kegelapan atau kebodohan untuk masuk kepada kondisi baru yang diliputi oleh cahaya keilmuan.

BACA JUGA :  Pengelolaan Aset Perpustakaan Sekolah Perlu Dibenahi

Prof. Azra, oleh para sahabat dan kenalannya diberikan banyak gelar, antara lain: Inteligensia Bangsa, Intelektual Merdeka, Duta Islam Indonesia di Barat, Guru Bangsa, Cendikiawan Kritis dan Rendah Hati, Investor Kebaikan, dan seterusnya. Gelar-gelar itu tidak selalu sama. Sebab, setiap orang memiliki pandangan dan pengalaman yang berbeda. Namun demikian, apa pun gelar yang disematkan kepadanya, semuanya bisa dileburkan ke dalam apa yang menjadi hakikat pengabdian dari Prof. Azra yakni menjalankan misi rahmatan lil ‘alamin.

Selamat jalan guru. Terima kasih, engkau adalah lilin keilmuan yang telah memberikan cahaya kepada dunia dengan membakar dirimu sampai habis.***

knpi
hanura
1 Comment
  1. Hendrik Maku says

    Tidak ada cara terbaik untuk mengenang seorang guru selain dengan menumbuh-kembangkan benih-benih keilmuannya demi kemaslahatan bersama. Menulis adl salah satu dri sekian metode dalam merawat dan mewariskan nilai yg ditinggalkan oleh sang guru. Aktivitas menulis sesuatu yg ditinggalkn oleh dia yg pergi adl sebuah proyek keabadian dari subjek yg berorientasi bukan kepada kefanaan. Dgn demikian, dia yg telah pergi akan selalu hidup dlm ruang-ruang kenangan dari para mantan muridnya. Sebab, ketika segala yang fana itu kalah di medan jihad, ide yg lahir dari aktivitas beritjihad dan yg dituangkan dlm tulisan akan bertindak sbg pemenang. Tulisan adl senjata akademik yg dapat menaklukkan kesementaraan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.