Kehidupan Itu Baru Ada Jika Tubuh dan Darah Itu Satu

Oleh Dionisius Ngeta, Komsos Paroki Nangahure

DALAM Kotbahnya di hadapan 145 anak-anak calon komuni pertama, orangtua dan keluarga yang memadati gereja Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure, Pastor Paroki P. Wilhelmus Lae, CP mejelaskan dan menegaskan keterkaitan yang sangat erat antara tubuh dan darah serta konsekuensi dari hubungan yang tak terpisahkan antara tubuh dan darah itu.

Hal tersebut ditegaskannya di saat umat Katolik sedunia merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus selain ketika anak-anak hendak menerima tubuh dan darah Kristus. ‘’Tubuh tidak berarti kalau tanpa darah dan darah juga tak berarti jika tanpa tubuh.  Tubuh tanpa darah, itu mayat dan darah tanpa tubuh, tidak ada gunanya. Tubuh dan darah menjadi satu baru ada kehidupan” demikian P. Wilem, CP yang pada hari itu, Minggu 02 Juni merayakan hari ulang tahunnya.

Karena itu menurut P. Wilem, CP ketika kita menerima Tubuh dan Darah Kristus berarti kita menerima kehidupan. Kita hidup di dalam Yesus Kristus yang hidup, menderita, yang wafat dan bangkit untuk kehdupan yang kekal. Dan hal tersebut merupakan fakta dan misteri iman kita. Sakramen Ekaristi yang kita terima dan yang akan diterimakan kepada anak-anak calon komuni pertama adalah puncak dan pusat dari kehidupan orang katolik.

BACA JUGA:
Ziarah: Momentum Duc in Altum, Kesempatan Bertolak Lebih Dalam
Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More