kominfo iklan

Puisi “Tini Minta Karet”: Refleksi Bersama Edi Menori

Oleh : Alvares Keupung**

406
makna puasa
Alvares Keupung

 

TINI MINTA KARET
( Doa Seorang Bocah Untuk Orang Tuanya )

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk bermain bersama teman
Tini minta karet
Untuk menghibur ade yang menangis
Tini minta karet
Untuk ikat kado, buat kakek Lazarus yang miskin

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat kaki Papa
Agar betah tinggal di rumah
Tini minta karet
Untuk mengikat kaki Papa
Agar tidak ke tempat judi
Tini minta karet
Untuk mengikat rencana Papa dan Mama
Agar tidak bercabang tidak menentu
Tini minta karet
Untuk mengikat tangan Papa
Agar tidak pukul Mama

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat kaki Mama
Agar tidak arisan terus
Tini minta karet
Untuk mengikat tangan Mama
Agar tidak pukul Tini dan Ade
Tini minta karet
Untuk mengikat mulut mama
Agar tidak maki Papa dan Tini
Tini minta karet
Untuk mengikat mulut mama
Agar tidak menceritakan nama buruk tetangga dan Pastor
Tini minta karet
Untuk mengikat mulut mama
Agar tidak menyebarkan isu yang tidak benar

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat kata dan perbuatan Papa dan Mama menjadi satu
Tini minta karet
Untuk mengikat Papa dan Mama
Agar seia sekata, sehati sejiwa sampai mati
Tini minta karet
Untuk mengikat uang Papa dan Mama
Agar tidak terhambur di tempat judi

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk menyatukan hati dan pikiran Papa dan Mama
Dalam hati Yesus
Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat Papa dan Mama setiap hari
di bawah kaki salib
Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat Papa dan Mama
Dekat kaki Bunda Maria

Akhirnya Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat satukan kami sekeluarga
Agar bahagia selalu
Amin.
(Edi Menori, Dalam We Have A Dream, Bunga Rampai Sastra, Teatet Tanya Ritapiret, 1999 : 119 – 121)

Karya – karya sastra yang hadir di dalam realitas hidup manusia merupakan ungkapan ekspresif manusia berupa tulisan atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman hingga ke perasaan yang direfleksikan dan dalam bentuk yang imajinatif. Dengan itu, karya – karya sastra merupakan representasi dari realitas yang dikemas secara estetis dan terungkap lewat bahasa. Ringkasnya, karya – karya sastra merupakan realitas yang diberi arti secara estetis melalui bahasa.

Sebagai contoh adalah puisi. Salah satu fungsi puisi adalah fungsi sosial : sebagai media yang menggugah para pembaca atau pendengar untuk secara lebih sadar dan terbuka terhadap isu – isu sosial yang terjadi di dalam realitas. Bahkan, dalam hal lain, puisi secara lebih terbuka dan tegas memberikan kritik terhadap realitas sosial.

Maka, pada tataran ini Edi Menori mengemas Puisi ” Tini Minta Karet ” sebagai bentuk kririk terhadap realitas hidup sosial, dan penulis meyakini berangkat dari latar pengalaman hidup sosial yang diamatinya, kemudian diserap ( direfleksikan ) dan diberikan makna estetika melalui bahasa. Kedalaman, kejelian dan ketajaman reflektif Edi Menori terhadap realitas sosial, lalu membahasakannya secara estetis dalam puisinya, mempertegas fungsi sosial puisi.

Melalui tulisan ini, penulis memetakan dan memberikan beberapa bagian catatan sebagai bentuk keterlibatan reflektif penulis terhadap Puisi ” Tini Minta Karet “, karya Edi Menori. Pada hal yang lain, serentak sebuah apresiasi kepadanya atas kepekaan dan naluri puitiknya yang menggugah kesadararan terhadap persoalan realitas sosial.

Mengutip apa yang diyakini Rene Descartes, ” Hidup yang tidak dihidupi, tidak layak dihidupi ” penulis merasa perlu, bersama Edi Menori barangkali baiklah juga menjadi refleksi bersama para pembaca.

Bagian Pertama : Tini, Representasi Ekspresi Kebebasan Seorang Anak

BACA JUGA :  Penguatan Etika Berbahasa (Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional)

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk bermain bersama teman
Tini minta karet
Untuk menghibur ade yang menangis
Tini minta karet
Untuk mengikat kado, buat kakek Lazarus yang miskin

Siapa bilang, seorang anak tidak memiliki dunianya sendiri ? Dunia seorang anak adalah dunia bermain. Dunianya merupakan ” gelanggang ” untuk mengekspresikan kebebasannya secara ekspresif, tulus, lugu tanpa patron yang diciptakan oleh orang lain ( baca : orang dewasa ).

Penulis melihat, bahwa secara representatif dan personifikatif dalam diri Tini pada Puisi “Tini Minta Karet “, Edi Menori menggambarkan sebuah kerinduan akan kebebasan ekspresif seorang anak untuk mengungkapkan kesenangannya ( Tini minta karet // Untuk bermain bersama teman ), menyatakan kepedulian dan kasih sayang ( Tini minta karet // Untuk menghibur ade yang menangis ), mengisyaratkan tentang jiwa yang berbela rasa ( Tini minta karet // Untuk mengikat kado, buat kakek Lazarus yang miskin ).

” Tini Minta Karet “, penting menjadi sebuah gugahan dan gugatan, manakala kebebasan seorang anak ditempatkan dalam ruang pembatasan yang kaku dan ekstrim. Pembatasan – pembatasan yang kaku dan ekstrim apa pun bentuk dan caranya, selalu mengkerdilkan potensi – potensi yang diekspresikan oleh seorang anak. Maka, ” Tini Minta Karet ” adalah sebuah pemberontakkan ( protes, keberatan ), bahwa ada sesuatu yang hilang dari dunia anak.

Penulis melihat bahwa Edi Menori dalam Puisi ” Tini Minta Karet ” sangat respektif terhadap dunia anak. Menempatkan seorang anak pada dunianya, berarti menghargai kehidupannya. Dengan pisau puitiknya yang tajam, Edi Menori sesungguhnya mau mengatakan begini : biarkanlah anak – anak membangun kepekaan sosial dalam dirinya dengan memberikan ruang kebebasan yang ekspresif bagi dirinya sendiri ( bermain bersama teman, menghibur ade yang menangis dan mengikat kado untuk kakek Lazarus ). Yang lain dari diri dan dunia anak mestinya lebih mengarahkan kepada model kebenaran, sehingga ekspresi kebebasan seorang anak lebih berkarakter positip dalam koridor pengawasan dan kontrol yang melekat. Bukan pada pembatasan yang kaku dan ekstrim.

Jika ekspresi kebebasan yang ekspresif membuat seorang anak gembira untuk mengaktualisasikan diri, mengapa mesti menciptakan pembatasan yang kaku dan ekstrim baginya ? Kerinduan untuk bermain, bergembira dan berbagi rasa adalah kerinduan seorang anak di masa kecilnya, sebagaimana Tini dalam Puisi “Tini Minta Karet”.

Bagian Kedua : Rindu Seorang Anak Pada Sosok Ayah Sebagai Pengayom

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat kaki Papa
Agar betah tinggal di rumah
Tini minta karet
Untuk mengikat kaki Papa
Agar tidak ke tempat judi
Tini minta karet
Untuk mengikat rencana Papa dan Mama
Agar tidak bercabang tidak menentu
Tini minta karet
Untuk mengikat tangan Papa
Agar tidak pukul Mama

Idealnya, seorang ayah adalah seorang yang selalu hadir sebagai pengayom dalam kehidupan sebuah keluarga. Pengayom berarti, pelindung yang memberi rasa nyamam dan damai, kekuatan, keadilan, peneguhan lahir dan batin. Figur seorang ayah, hadir sebagai ” matahari ” yang memberikan cahaya, ” tonggak ” yang menjadi penopang dan ” fondasi ” sebagai dasar pijak bagi kehidupan sebuah keluarga.

obor ormas

Menjadi seorang ayah adalah menjawabi panggilan kebajikan tugas – tugas pengayoman bagi sebuah keluarga. Dia tidak semata menjadi seorang ayah yang menafkahi secara fisik demi pemenuhan kepuasan lahiariah, tetapi dia juga menjadi seorang ayah yang menafkahi secara psikis demi pemenuhan kepuasan batiniah.

Terlepas dari itu, hal – hal kasuistik yang tidak jarang “dilakoni” segelintir ayah dengan pelbagai kasus penelantaran, perjudian, perselingkuhan, kekerasan ( fisik, emosional, seksual ) menjadi titik kritik seorang Edi Menori. Ayah yang begitu diidealkan menjadi pengayom, secara paradoksal berubah menjadi buas, ganas dan bahkan menjadi ancaman keutuhan sebuah keluarga.

BACA JUGA :  Transformasi Teknologi 5G, Infrastruktur, dan Masa Depan Anak Cucu (Catatan Ketua MPR RI)

Ideal – ideal seorang ayah yang pengayom, sedemikian dirindukan sosok seorang anak yang tersimbolkan dalam diri Tini. Tini minta karet // Untuk mengikat kaki Papa // Agar betah di rumah, Tini minta karet // Untuk mengikat kaki Papa // Agar tidak ke tempat judi, Tini minta karet // Untuk mengikat rencana Papa dan Mama // Agar tidak bercabang tidak menentu, Tini minta karet // Untuk mengikat tangan Papa // Agar tidak pukul mama.

Harapannya, kerinduan seorang Tini menjadi kerinduan banyak orang akan hadirnya ayah yang pengayom dalam sebuah keluarga. Jika tidak menjadi ayah yang demikian, apakah jasanya ?

Bagian Ketiga : Ibu, Kelembutan Yang dirindukan

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat kaki Mama
Agar tidak arisan terus
Tini minta karet
Untuk mengikat tangan Mama
Agar tidak pukul Tini dan Ade
Tini minta karet
Untuk mengikat mulut Mama
Agar tidak maki Papa dan Tini
Tini minta karet
Untuk mengikat mulut Mama
Agar tidak menceritakan nama buruk tetangga dan Pastor
Tini minta karet
Untuk mengikat mulut Mama
Agar tidak menyebarkan isu yang tidak benar

” Ibu, inilah, anakmu ! ” ( Bdk. Yoh. 19 : 26 ). Pesan biblik ini, tegas mau katakan bahwa sungguh kehadiran sosok seorang ibu penting bagi seorang anak, terutama bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Secara kodrati, seorang ibu dianugerahi dan dipanggil untuk mengandung dan melahirkan anak manusia. Itu berarti, secara alamiah tugasnya adalah memelihara kehidupan, sebuah tugas yang tidak temporal sifatnya ( sesekali waktu bisa berubah ) dan substitusi ( dapat digantikan ).

Hadirnya seorang ibu dalam sebuah keluarga, menjadi simbol spirit kehidupan. Ia menjadi semacam ” roh ” yang memberi daya hidup. Sebab, kehidupan selevel manusia, berawal dari rahim seorang ibu ( terkandung dan terlahir ). Pun, tentang cinta, hati seorang ibu menjadi ” rahimnya “. Kelemahlembutan, kesabaran, ketulusan dan kesetiaan adalah pancaran cinta seorang ibu. Nilai – nilai kebajikan demikian, menjadi warisan seorang ibu bagi kehidupan mestinya senantiasa ” dikonservasi ” demi kehidupan yang berimbang antara cinta dan kedamaian.

Membaca konteks Puisi ” Tini Minta Karet ” pada bagian ini, adalah kegelisahan dan keprihatinan bagi Edi Menori, manakala ibu yang diidealkan meninggalkan ” noktah “, sebuah persoalan yang ” dikulitinya “. Antagonisitas ibu pada Puisi ” Tini Minta Karet ” sekurangnya bagi Edi Menori, telah mendegradasikan nilai cinta yang dimiliki tokoh yang disebut ibu. Dan persis di sini, kerinduan Tini akan sosok seorang ibu yang ideal, mewakili kegelisahan dan keprihatinan Edi Menori.

Untuk ibu yang ideal, Edi Menori memberi catatan demikian : ibu yang ideal adalah ibu yang selalu At Home untuk memberi “roh” ( daya hidup ) bagi sebuah keluarga ( Tini minta karet // Untuk mengikat kaki mama // Agar tidak arisan terus ), ibu yang ideal adalah ibu yang penuh kelembutan, tanpa kekerasan ( Tini minta karet // Untuk mengikat tangan mama // Agar tidak pukul Tini dan Ade ), ibu yang ideal adalah ibu yang mulutnya adalah media yang mewartakan kebaikan, tanpa cacian ( Tini minta karet // Untuk mengikat mulut mama // Agar tidak maki Papa dan Tini ), ibu yang ideal adalah ibu yang mulutnya menjadi corong kedamaian (Tini minta karet // Untuk mengikat mulut mama // Agar tidak menceritakan nama buruk tetangga dan pastor), Ibu yang ideal adalah ibu yang mulutnya mesti mewartakan kebenaran ( Tini minta karet // Untuk mengikat mulut mama // Agar tidak menyebarkan isu yang tidak benar ).

BACA JUGA :  Ketika Jurnalis Warga Mitra Kerja Pena Inklusi Berkomitmen Percepat Sukseskan Vaksinasi Covid-19 Kelompok Rentan di Pelosok Terpencil Sikka

Ketika seorang ibu kehilangan karakter keibuannya, ada daya yang hilang dari kehidupan. Rahim kehidupan keluarga kehilangan ” roh “. Maka, Puisi ” Tini Minta Karet “, pada bagian ini hadir ” memprovokasi ” untuk terkonstruksinya ibu yang ideal dalam keluarga.

Bagian Keempat Dan Kelima : Kesetiaan Dan Keharmonisan Keluarga, Ideal Yang Dirindukan

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat kata dan perbuatan, Papa dan Mama menjadi satu
Tini minta karet
Untuk mengikat Papa dan Mama
Agar seia sekata, sehati sejiwa sampai mati
Tini minta karet
Untuk mengikat uang Papa dan Mama
Agar tidak terhambur di tempat judi

Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk menyatukan hati dan pikiran Papa dan Mama
Dalam hati Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat Papa dan Mama setiap hari
di bawah kaki salib
Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat Papa dan Mama
Dekat kaki bunda Maria

Rumusan janji perkawinan dalam Gereja Katolik ( Roma ), ” Saya berjanji untuk setia dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun sakit “, sesungguhnya sebagai sebuah maklumat tentang kesetiaan dan keharmonisan suami istri Gereja Katolik ( Roma ) dalam menata dan membangun kehidupan berumah tangga. Kesetiaan dan keharmonisan Kristus dengan Gereja – Nya menjadi model bagi perkawinan Gereja Katolik (Roma).

Memilih untuk membangun kehidupan berumah tangga adalah soal pilihan. Tetapi, ketika pilihan itu sudah final, maka, menjaga kesetiaan dan keharmonisan menjadi tanggung jawab bersama dalam menata kehisupan berumah tangga. Adalah sebuah penyangkalan, bila saja ada yang menyebut bahwa dalam menata hidup berumah tangga, persoalan tak perlu hadir. Setiap rumah tangga, persoalan itu ada. Cara meminimalisir dan mengurai persoalan secara solutif dan dewasa, menjadi hal penting yang mesti dibangun.

Dewasa ini, banyak problem yang dihadapi oleh banyak keluarga yang berujung broken. Bisa jadi miskomunikasi menjadi pemicunya. Barangkali, orang tidak meyakini bahwa membangun komunikasi yang baik adalah kunci menata kesetiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga. Sebesar apa pun persoalan, tentu ada celah kecil yang solutif untuk mendamaikan persoalan.

Nah, dalam konteks yang demikian, Edi Menori dengan Puisi ” Tini Minta Karet ” mengkritik dan menawarkan solusinya. Ringkasnya pada bagian ini, Tini yang ekspresif dengan satu kerinduan : Papa dan Mama yang tidak seia sekata, sehati dan sejiwa, dalam kata dan perbuatan, yang begitu royal dengan materi, mesti direkonsiliasi secara rohani ( doa ).

Kritik simbolik yang disampaikan Edi Menori dalam Puisi ” Tini Minta Karet ” mestinya menjadi sebuah awasan bagi setiap keluarga, bagaimana menata kehidupan berumah tangga dalam bingkai kesetiaan dan keharmonisan.

Bagian Keenam : Keluarga Adalah Satu Kesatuan Yang Utuh

Akhirnya Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat satukan kami sekeluarga
Agar bahagia selalu.
Amin.

Pada akhirnya, secara keseluruhan Puisi ” Tini Minta Karet “, Edi menori membentangkan sebuah harapan, dalam situasi apa pun, setiap kehidupan berumah tangga ( keluarga ) mesti dibangun dan dibingkai dalam satu kesatuan yang utuh. Dan, ideal bagi sebuah keluarga : membangun rasa saling percaya, kesetiaan, keharmonisan yang diperkuat dengan keberserahan kepada Tuhan ( doa ) demi mencapai kebahagian yang langgeng.

Akhirnya Tuhan Yesus
Tini minta karet
Untuk mengikat satukan kami sekeluarga
Agar bahagia selalu.
Amin.***

**Penulis adalah warga Lela diaspora. Berdomisili di Ende.

knpi
hanura
1 Comment
  1. Carlos Sarianto says

    Terima kasih atas ulasannya. Sedikit bertanya tentang kutipan pernyataan Rene Descartes: ” Hidup yang tidak dihidupi, tidak layak dihidupi ”. Saya mendalami filsafat Descartes, namun tidak menemukan pernyataan itu. Setahu saya, hanya Socrates yang pernah membuat pernyataan sejenis, tetapi bukan seperti yang dikutip penulis. Socrates berseloroh demikian: ” Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak dihidupi ”. Bukan seperti yang dikutip penulis ” Hidup yang tidak dihidupi, tidak layak dihidupi ”

Leave A Reply

Your email address will not be published.