Rare Earth Elements (REE) & Rencana Tambang Gamping Di Kab. Matim

Oleh: Servas Pandur (Direktur Risk Consulting Group [RCG], Jakarta)

349
Servas Pandur
Servas Pandur | Direktur Risk Consulting Group (RCG), Jakarta

 

(Bagian 4 dari 4 tulisan)

 

Tidak ada penjelasan ilmiah dan alamiah, mengapa sering dalam operasi di sekitar Flores-Blok Masela, peralatan navigasi ‘black-out’. Kecuali, sesuai amanat alinea ke-3 dan ke-4 Pembukaan UUD 1945 ialah ‘berkat rakhmat Allah’. Begitu pesan Marsekal Madya TNI (Purn) Teddy Rusdy (2016), yang dikemukakan pada bagian ke-2 tulisan ini.

 

Apa hubungan pesan tersebut dengan rencana pembangunan pabrik semen di Kampung Luwuk dan tambang gamping di Dusun Lengko Lolok, Desa Satar Punda, Kabupaten Manggarai Timur (Kab. Matim), Provinsi NTT di Negara Kesatuan RI (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945?

 

Dengan semakin nyata ancaman terorisme internasional yang meluas dan melampaui batas-batas wilayah suatu negara, Intelijen ABRI pada masa Pak LB Moerdani (LBM), Pak Teddy Rusdy dan para perwira intelijen lainnya pertengahan 1970-an, memandang perlu menciptakan suatu kemampuan perang anti-teror dengan pola, metode, dan sistem senjata yang berbeda dari perang-perang sebelumnya yang kita kenal. Ini jejak awal pembentukan pasukan khusus kontra teror pertama NKRI.

 

Tahun 1980, Teddy Rusdy menjalin kontak langsung dengan rekannya di jajaran Intelijen Israel (Mossad). Ketika masih Letnan Muda Udara I 1960-an, Teddy Rusdy ditugaskan oleh pimpinan Leo Watimena dalam Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) karena ia terbaik dalam navigasi dan operasi radio-silent. Teddy Rusdy misalnya melakukan terbang pesawat tempur cross-country sejauh 1.500 mil tanpa peta, kecuali sketsa dan pemetaan posisi bintang dan bulan.

 

Selain pesan Marsekal Madya TNI (Purn) Teddy Rusdy (2016) tersebut di atas, berikut diuraikan pengalaman Ir. Soekarno, Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia, tahun 1934-1938, riset ahli bio-geografi Alfred Russel Wallace (1869), ahli-ahli evolusi dan migrasi manusia, ahli-ahli UNESCO (organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa), ahli-ahli Komodo, dan foto satelit badan antariksa NASA dari Amerika Serikat (AS).

 

Tujuannya, memberi suatu gambaran bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah khususnya, agar tidak gegabah dan tidak berisiko dalam mendesain dan merilis kebijakan investasi di kawasan Komodo, Rinca, Padar, Timor dan Flores sekitarnya. Tiap pilihan kebijakan investasi di kawasan-kawasan ini, termasuk aliran investasi asing asal Tiongkok dalam (rencana) pembangunan pabrik semen dan tambang gamping di Kab. Matim, Flores, (NTT), harus benar-benar sesuai dengan dan merawat sejarah, situs budaya, karakter daerah, wilayah, flora-fauna, alam lingkungan, dan masyarakat di Kab. Matim dan Flores umumnya.

Kampung Luwuk : pasir (warna putih) dan hutan bakau (hijau gelap) (kiri) dan hutan Kampung Luwuk terlihat indah dari bukit (kanan)
Gambar 1. Hasil citra satelit Kampung Luwuk : pasir (warna putih) dan hutan bakau (hijau gelap) (kiri) dan hutan Kampung Luwuk terlihat indah dari bukit (kanan). (Sumber: Don N, April 2020).

 

Asumsi dasar 4 (empat) tulisan bersambung ini ialah rencana pabrik semen dan tambang gamping di Kab. Matim, Flores, Provinsi NTT, termasuk kebijakan berisiko dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara NKRI berdasar Pancasila dan UUD 1945; maka kebijakan ini, harus dikaji-ulang dan sebaiknya segera dibatalkan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah di NTT.

 

 Ir. Soekarno Gali Pancasila Di Flores

 

Pada 29 Desember 1929, Ir. Soekarno, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkeopraja ditangkap oleh pemerintah Hindia (kolonial) Belanda di Yogyakarta. Selama 8 bulan, Ir. Soekarno dijebloskan ke sel lantai atas Blok F No. 5 ukuran 2,5 x 1,5 m dengan kasur lipat dan toilet non-permanen pada penjara Banceuy–dibangun oleh Belanda tahun 1877— di Jl. Banceuy No. 8 Bandung, Jawa Barat. Di penjara Banceuy, Ir. Soekarno menyusun pledoi Indonesia menggugat (Klaagt Aan) dalam persidangannya di Gendung Landraad, Bandung Jawa Barat (Prof. Dr. Deddy Mulyana, et al, 2017). Ilham tentang Pancasila tidak muncul dan lahir pada Ir. Soekarno saat itu di Bandung, Jabar.

 

Kemudian Ir. Soekarno dan keluarganya diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Kota Ende, Flores, selama 4 (empat) tahun sejak 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Ir. Soekarno dan keluarganya harus menjalani perjalanan laut 8 hari dari Jawa ke Ende. Dari literatur, lingkungan alam, dan budaya di Kota Ende (Flores, NTT), Ir. Soekarno mendapat ilham Pancasila (Cambridge Editorial Partnership, 2006: 225; Imelda Akmal, 2013:17).

 Situs Rumah Pengasingan Ir. Soekarno (kiri) dan Ir. Soekarno (kanan, berdiri) dan keluarga di Ende, Flores
Gambar 2. Situs Rumah Pengasingan Ir. Soekarno (kiri) dan Ir. Soekarno (kanan, berdiri) dan keluarga di Ende, Flores (Foto: Istimewa).

 

Presiden RI Soekarno merilis suatu testimoni pada Peringatan Hari Kelahiran Pancasila Selasa 2 Juni 1964 di Yogyakarta : “Aku tidak mendapat wahju; Aku bukan Nabi; Aku sekedar menggali Pantja Sila di Bumi Indonesia sendiri!” (Harian Kedaulatan Rakjat, 2/6/1964).

 

Merawat Bumi, Air dan nilai kehidupan di Bumi NKRI, termasuk khususnya kawasan Flores dan sekitarnya, Luwuk, Lengko Lolok, Kab. Matim, Flores, Timor, dan lain-lain di NKRI, adalah juga merawat nilai-nilai Pancasila. Hal ini sesuai pula dengan pandangan Marsekal Madya TNI (Purn) Teddy Rusdy (2016).

 

Kita baca dan belajar dari para pendiri Negara RI. Kamis 31 Mei 1945 di Gedung Tyuuoo Sangi-In (kini Pejambon), Jakarta, di depan Rapat Besar Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Profesor Dr. Raden Soepomo, SH menegaskan : “Struktur kebatinan, struktur kerohanian dari Bangsa Indonesia bersifat dan bercita-cita persatuan hidup…yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin, antara mikrokosmos dan makrokosmos, antara Rakyat dan pemimpin-pemimpinnya.” Rapat Besar BPUPKI itu menyelidik Dasar Negara Indonesia merdeka, Daerah Negara dan Kebangsaan Indonesia (Sjaafroedin Bahar, et al / Sekretariatan Negara RI, 1992:28).

 

Geistlichen Hintergrund atau suasana kebatinan dan aliran pemikiran filsafat dari para pendiri Negara Indonesia merdeka yang tergabung dalam BPUPKI, menyuarakan persatuan Rakyat dan Bumi, Rakyat dengan tempat hidupnya, dan Rakyat dan Pemimpinnya. Ini inti negara-bangsa.

 

Bagaimana prakteknya? Tidak perlu, jika seseorang warga negara – khusus digaji oleh Negara melalui APBN –“pasang badan” bagi aliran investasi asing berisiko ke NKRI; “pasang badan’ itu bernilai pahlawan, ketika warga-negara betul-betul “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah”. Ini pesan alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.

BACA JUGA :  Jasa Raharja NTT akan Mengembangkan Program Perlindungan Penumpang Wisata di Mabar

 

Kita belajar dari Keteladanan ‘pasang badang’ Arie Frederik Lasut yang lahir 9 Juli 1918 di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, Sulawesi Utara (M. Safwan, 1976). Ia alumnus Corps Opleidingvoor Reserve Ojjicieren (Pendidikan Perwira Cadangan), alumnus Algemene Middelbare School (AMS) tahun 1937, dan setahun belajar di Techniche Hoogeschool Bandung (kini ITB). Pada masa penjajahan Jepang, Lasut menjadi Chrisitsu Chosayo (Jawatan Geologi) di Bandung, Jawa Barat.

 

Pasca Poklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, AF Lasut terpilih sebagai Kepala Jawatan Tambang-Geologi dan aktif pada organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi Utara (KRISS) dan terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

 

September 1945, Pemerintah RI merilis instruksi pengambil-alihan instansi-instansi dari Jepang di Negara Kesatuan RI. Lasut berhasil mengambil-alih Jawatan Geologis secara damai dari Jepang dan menamakannya Jawatan Pertambangan dan Geologi.

 

Karena mengetahui data pertambangan dan geologi Indonesia dari arsip-arsip peninggalan Jepang, kolonial Belanda (NICA) mengincar Arie Frederik Lasut. Tapi, ia menolak bekerjasama dengan kolonial Belanda (Ariobimo Nusantara, 1994/2007). Ini contoh kepahlawanan bagaimana bersikap terhadap unsur-unsur asing dalam sistem NKRI.

 

Pagi Sabtu 7 Mei 1949, AF Lasut diculik oleh kolonial Belanda dari rumahnya di Yogyakarta. Di Pakem, sekitar 7 km utara Yogyakarta, Arie Frederik Lasut ditembah mati oleh kolonial Belanda. Kemudian, jenazahnya dipindahkan ke Sasanalaya Jl Ireda, Yogyakarta. Upacara pemakamannya dihadiri oleh Mr. Assaat (M. Safwan, 1976). Presiden RI Soeharto menanda-tangan Surat Keputusan (SK) No. 012 /TK/Tahun 1969 Tanggal 20 Mei 1969 yang menetapkan Arie Frederik Lasut (1918-1949) sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

 

Kita juga belajar keteladanan Panglima Besar Jenderal Soedirman.  Bahwa bagi Bangsa Indonesia, hutan memiliki nilai historis dan strategis dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Meski menderita sakit TBC semakin parah, Panglima Besar Jenderal Soedirman, pantang menyerah dan memimpin perang grilya, masuk-keluar hutan, melawan pasukan kolonial Belanda selama 7 bulan 28 hari, sejak 19 Desember 1948 hingga 10 Juli 1949.

Rute grilya Panglima Besar Jenderal Soedirman
Gambar 3. Rute grilya Panglima Besar Jenderal Soedirman, masuk-keluar hutan sejauh 1.009 km (Sumber: Diolah dari berbagai sumber).

 

Kebijakan Pemerintah Pusat

 

Pasal 18A ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 menetapkan : “Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.”

 

Pasal 33 ayat (4) UUD RI Tahun 1945 menetapkan : “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.”

Presiden RI Jokowi Widodo dan rombongan menyaksikan Komodo
Gambar 4. Presiden RI Jokowi Widodo dan rombongan menyaksikan Komodo saat mengunjungi Pulau Rinca, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, NTT, Kamis (11/7/2019) pagi. (Foto: Rahmat/Humas Setneg RI)

 

Bunyi amanat UUD 1945 tersebut di atas, sangat jelas dan pasti bahwa dasar dan arah kebijakan Pemda, termasuk Pemda Kab. Matim dan NTT dalam hal rencana pembangunan pabrik semen dan tambang gamping, misalnya, harus “menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”, “berwawasan lingkungan”, dan “berkelanjutan”.

 

Senin (20/1/2020), Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas (Ratas) Pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo sebagai kawasan wisata super premium di Plataran Komodo Resort, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Presiden Joko Widodo, Labuan Bajo adalah wisata alam dan membutuhkan pasokan makanan dari petani-petani lokal. Ratas itu antara lain dihadiri oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat. (Setkab RI, 21/1/2020).

Citra satelit Lengko Lolok (kiri) dan sawah produktif Kampung Luwuk
Gambar 5. Citra satelit Lengko Lolok (kiri) dan sawah produktif Kampung Luwuk, Kecamatan Lamba Leda, Kab. Matim, Flores, Provinsi NTT (Sumber: Don N/2020)

 

Secara turun-temurun wilayah Kampung Luwuk khususnya adalah zona budi-daya flora dan fauna Rakyat setempat; zona ini adalah milik mereka turun-temurun dengan adat-istiadat dan sejarahnya; saat ini, di wilayah Kampung Luwuk, misalnya, warga masih menanam bibit padi, mengelola sawah, dan berkebun; di wilayah ini juga terdapat sebuah gereja, yang meski bangunannya tidak begitu terawat, namun memiliki ‘collective memory’, ingatan dan nilai bersama seperti tertulis dalam sila pertama Pancasila alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.

 

Oleh karena itu, dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di daerah, Pemda Kab. Matim di Flores dan Pemprov NTT, harus dapat mendukung dan bersinergi dengan dasar dan arah kebijakan Pemerintah Pusat Negara RI di bidang investasi. Pilihannya ialah investasi sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan wisata yang melaksanakan prinsip keberlanjutan pembangunan. Pemda kab. Matim dibiayai oleh APBN; Pemda Kab. Matim dan Provinsi NTT, bukan “negara-bagian” dalam sistem negara federal.

 

Dasar dan arah kebijakan Pemerintah Pusat di Provinsi NTT selama 6 (enam) tahun terakhir, sangat jelas, terukur, dan terarah. Misalnya,

Presiden RI Joko Widodo sekitar 8 kali melakukan kunjungan kerja ke Provinsi NTT untuk memastikan program kebijakannya dilaksanakan atau tidak. Presiden RI Joko Widodo sangat konsisten dengan visi dan misi membangun NKRI dari pinggiran secara geografis dan ekonomis.

 

Secara geografis, NTT berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, dan secara ekonomis, NTT merupakan provinsi kedua termiskin di Negara RI. Arah kebijakan Presiden Joko Widodo ialah wisata, peternakan, pertanian, perikanan dan sejenisnya menjadi lokomotif pembangunan NTT. Melalui pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2015-2019, Pemerintah membangun 7 waduk atau bendungan di NTT dari total 49 waduk atau bendungan di seluruh Negara RI.

 

“Pemerintah telah membangun 74 embung di Kabupaten Rote Ndao. Kalau air ada, urusan pertanian, kebun, dan keperluan air baku akan terselesaikan. Dengan 74 embung yang sudah ada ini kita harapkan produktivitas pertanian dan kebun akan meningkat,” papar Presiden RI Joko Widodo saat meresmikan Embung Saina, di Kabupaten Rote Ndao, NTT, Selasa, 9 Januari 2018 (PresidenRI.go.id, 9/1/2018). Maka Pemda mesti belajar melihat dasar dan arah kebijakan Pemerintah Pusat ini.

BACA JUGA :  Nasibmu Hutan Bowosie
Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas
Gambar 6. (kiri) Presiden RI Joko Widodo memimpin Rapat Terbatas tentang Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Program Prioritas di Provinsi NTT, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/2/2017) sore. (Foto: Deny S/Humas Setkab RI); (kanan) Presiden RI Joko Widodo meresmikan Embung Saina di Kab. Rote Ndao, Provinsi NTT, Selasa (9/1/2018) (Foto: Kantor Staf Presiden)

 

Hingga tahun 2018, Pemerintah RI telah membangun 1.100 embung di Provinsi NTT. Karena menurut hasil Rapat Terbatas (Ratas) tentang Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Program Prioritas di Provinsi NTT di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/2/2017) sore, 30 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTT berasal dari sektor pertanian dan perikanan. Hal itu menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut merupakan kunci kesejahteraan Rakyat NTT.

 

Dalam proyek strategis nasional, Pemerintah Pusat membangun 1.100 embung di Provinsi NTT. Kunci peningkatan kesejahteraan masyarakat NTT ialah ada pasokan air cukup. “Kalau air ada, urusan pertanian, kebun, dan keperluan air baku akan terselesaikan. Dengan 74 embung yang sudah ada ini, kita harapkan produktivitas pertanian dan kebun akan meningkat,” papar Presiden RI Joko Widodo saat meresmikan Embung Saina, di Kabupaten Rote Ndao, NTT, Selasa, 9 Januari 2018 (Kantor Staf Presiden (KSP), 9/1/2018).

eta kawasan Asia, NKRI, Australia, dan rencana pembabasan lahan sekitar 505 ha di Kampung Luwuk dan Dusun Lengko Lolok,
Gambar 7. Peta kawasan Asia, NKRI, Australia, dan rencana pembabasan lahan sekitar 505 ha di Kampung Luwuk dan Dusun Lengko Lolok, Kec. Matim, Flores (NTT), untuk penambangan gamping yang antara lain dikelola oleh perusahan PMA, milik WNA asal Tiongkok.

 

Dari dasar dan arah kebijakan Pemerintah Pusat melalui rilis program kebijakan strategis Presiden RI di atas, sekilas terlihat bahwa rencana pembangunan pabrik semen dan tambang gamping Pemda di NTT, berisiko sangat bertolak-belakang dengan atau bahkan menghambat, upaya-upaya proyek strategis kebijakan nasional Pemerintah Pusat.

 

Gamping dan Pusat Kepulauan NKRI

 

Tahun 2011, BBC World Service merilis video, yang berisi simulasi evolusi dan migrasi manusia di planet Bumi, berdasarkan hasil penemuan kerangka tulang manusia di gua batu-gamping Liang Bua, dekat kota Ruteng, Manggarai, Flores, Provinsi NTT, pada tahun 2003. Video BBC itu dijual oleh toko buku Gramedia di seluruh Negara RI.

(kiri) Imej foto satelit NASA (1999, 2004) tentang Flores Barat (Manggarai)
Gambar 8. (kiri) Imej foto satelit NASA (1999, 2004) tentang Flores Barat (Manggarai), NTT, dan (kanan) rincian fosil manusia yang ditemukan di gua batu gamping Liang Bua, Manggarai, Flores, NTT, tahun 2003 (Sumber: Daisy Dunne, 2017).

 

BBC World Service antara lain merujuk ke foto satelit NASA tentang Pulau Flores tahun 1999. Imej NASA tentang Manggarai – Kab. Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur (Matim)—di Flores Barat, NTT, dibuat oleh Jesse Allen dari Earth Observatory NASA berdasarkan data satelit Landsat pada Global Land Cover Facility di University of Maryland, Amerika Serikat (AS). Imej foto Flores diperoleh dengan sarana Thematic Mapper Plus (ETM +) satelit Landsat 7, 29 September 1999 (Earth Observatory, NASA, 2004).

 

Menurut Earth Observatory-NASA (2004), para arkeolog dan biologi dari puluhan negara, telah tertarik pada Pulau Flores dan sekitarnya selama beberapa waktu karena zona Pulau Flores dan sekitarnya terpisah fisik dan ekologis selama 2,6 juta tahun terakhir dari lempengan raksasa Asia. Karena zona ini tumbuh sendiri terpisah dari perut Bumi. Maka bisa disebut : “Pulau Jurassic”.

 

Pulau Flores, tidak seperti Pulau Sumatera, Jawa, dan pulau-pulau lain di NKRI yang memiliki “land bridges” dengan lempengan Asia atau Australia. Maka UNESCO menyebut zona Komodo, Rinca, Padar, Flores dan sekitarnya adalah kawasan ‘shatter belt’ dan ‘the center of Indonesian Archipelago’. Intelijen ilmiah (scientific intelligence) semacam ini, harus diketahui oleh Pemkab. Matim dan Pemprov. NTT agar tidak gegabah dan keliru mengizinkan aliran investasi tambang ke zona Flores, Timor, komodo, Rinca, Padar, dan sekitarnya di NTT.

 

Earth Observatory-NASA (2004) juga menyebutkan bahwa seluruh jenis fauna dan flora berkarakter Asia dan berkarakter Australia, terputus di kawasan Flores dan sekitarnya. Maka tidak ada harimau Sumatera, misalnya, di seluruh kawasan timur NKRI (Sulawesi, Maluku, dan Papua). Zona Flores dan sekitarnya adalah titik-awal dan patokan garis bio-geografi ‘Garis Wallace’ dari ahli bio-geografi Alfred Wallace asal Inggris dalam karyanya The Malay Archipelago (1869).

Foto ‘the limestone cave’ atau ‘the hobbit cave’
Gambar 9. Foto ‘the limestone cave’ atau ‘the hobbit cave’, sebutan tentang gua batu-gamping Liang Bua, tempat penemuan fosil homo floresiensis di Manggarai, Flores, NTT, pada tahun 2003.

 

Earth Observatory-NASA (2004) menambahkan, tidak ada ‘mega-fauna’ seperti harimau Sumatera, berkarakter asal Asia, yang berkoloni atau masuk ‘menjajah’ wilayah kawasan timur NKRI. Karena terputus di zona Flores dan sekitarnya sejak Zaman Es atau era permukaan air laut rendah. Artinya, meski harimau Sumatera dapat melintasi Flores dan sekitarnya menuju zona timur NKRI pada Zaman ES sekitar 2,6 juta tahun silam, namun hal itu tidah terjadi.

 

Di sisi lain, Burung Cendrawasih (bird of paradise), misalnya, hanya hidup di Maluku, Papua dan sekitarnya selama ribuan tahun. Burung unik ini tidak hidup di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, atau Jawa. Begitu hasil riset Alfred Russel Wallace (1869). Alfred Russel Wallace lahir 8 Januari 1823 di Inggris. Dengan berbekal ayam, telur, sagu, pisang raja, ubi jalar, labu kuning, cabe, ikan, dendeng rusa, kaki Alfred Russel Wallace masuk ke Dorei (Papua), senja hari 29 Maret 1858 (Michael  Shermer, 2002).

 

Mengapa Komodo dragon hanya hidup selama ini di Flores dan sekitarnya? Mengapa Bird of Paradise hanya hidup di Maluku, Papua, dan sekitarnya? Riset Alfred Russel Wallace (1869) menemukan jawabannya : “There is nothing that the study of geology teaches us that is more certain or more impressive than the extreme instability of the earth’s surface… during countless ages of past time.”

 

Russel (1869) menambahkan : “Now the study of the distribution of animal life upon the present surface of the earth, causes us to look upon this constant interchange of land and sea−−this making and unmaking of continents, this elevation and disappearance of islands−−as a potent reality, which has always and everywhere been in progress, and has been the main agent in determining the manner in which living things are now grouped and scattered over the earth’s surface.

 

Jadi,  faktor iklim, vegetasi, suhu, dan pergerakan permukaan tanah mempengaruhi seleksi alam dan keragaman fauna – seperti serangga, burung, dan lain-lain di Papua, Maluku, Flores, Timor, sulawesi dan sekitarnya, sehingga memiliki karakter berbeda jika dibandingkan dengan fauna di Eropa, Asia, dan Afrika. Burung selalu terbang terpandu oleh glombang getaran gravitasi Bumi. Karena itu, burung selama ini dilatih menjadi “intel” dalam pertempuran dan perang. Ada getaran ‘unik’ dari kerak Bumi di zona timur RI, sehingga bird of paradise hanya hidup di sana selama ini.

BACA JUGA :  Karya Seorang  Musafir

 

Begitu pula halnya, mengapa pohon Cendana hanya hidup di kawasan Flores Timur dan Timor selama ini? Karena faktor mineral langka di perut Bumi. Maka ketika pohon Cendana, misalnya, ditanam di Gunung Kidul (Yogya), Los Angeles, atau Jakarta, menjadi ‘pohon biasa’, bukan lagi pohon Cendana.

 

Contoh intelijen ilmiah tersebut di atas, harus diketahui oleh Pemda di NTT. Sehingga instrumen kebijakan investasi misalnya harus benar-benar sesuai dengan dan merawat keunikan, keutuhan, dan kelangsungan nilai-nilai kehidupan hasil seleksi alam jutaan tahun di sana. Tidak gegabah merilis kebijakan investasi dengan risiko mengubah bentangan alam atau merusak mata-rantai kehidupan dari alam.

 

Contoh lain, batu gamping adalah jejak penting dari arkeologi dan evolusi manusia selama ini, khususnya batu-gamping di Manggarai, Flores, NTT. Misalnya, Earth Observatory-NASA (2004) menyebutkan bahwa menemukan sisa-sisa fosil dan artefak di daerah tropis Manggarai, Flores, Provinsi NTT, tidak mudah; karena dalam lingkungan iklim panas dan lembab, sisa-sisa fosil manusia cenderung membusuk dan hanyut dengan cepat.

 

Namun, menurut Earth Observatory – NASA (2004), sepanjang sejarah, manusia telah hidup di gua-gua dan tempat perlindungan batu dan di lokasi-lokasi itu, sisa-sisa fosil jauh lebih mungkin lestari. Arkeolog dan ahli biologi internasional dan lokal telah bekerja di situs gua batu gamping Liang Bua di Manggarai, Flores barat, NTT, selama bertahun-tahun untuk memahami sejarah manusia.

 

Homo floresiensis di gua batu gamping Liang Bua, Kab. Manggarai, Flores, NTT, dikaji oleh ahli asal Australia dan Indonesia tahun 2003 (Nature, 2004). Hasilnya, fosil itu lebih tua dari Homo erectus di Afrika, Eurasia, India, Tiongkok, dan Indonesia kira-kira 1,9 juta – 143 ribu tahun silam (The Guardian, 2017; M. Hazarika, 2007; P. R. Chauhan, 2003).

Zona Luwuk dan Lengko Lolok terletak di Flores barat, NTT,
Gambar 10. Zona Luwuk dan Lengko Lolok terletak di Flores barat, NTT, yang dekat dengan Liang Bua (situs arkeologis Homo Floresiensis), Mata Menge (situs arkeologis, penemuan fosil rahang manusia 700.000 tahun silam), warisan dunia Rumah Niang Wae Rebo dari UNESCO, dan Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Flores, NTT, tempat Komodo hewan lizard hidup jutaan tahun. (Peta : The Conservation, 2016)

 

Dari analisa 133 poin spesimen Homo Floresiensis, ahli Australian National University (ANU) menyimpulkan, Homo floresiensis (“Hobit” karena postur kecil) – mirip Homo habilis di Afrika 2,4 juta – 1,6 juta tahun silam. Homo Floresiensis merupakan “sister species” Homo habilis dan menempati posisi lebih tua dalam pohon evolusi manusia—asal-usul DNA Homo Sapiens di planet Bumi. (Mike Lee dkk, 2017).

 

Earth Observatory-NASA (2004) sangat rinci menulis : “Formally named Homo floresiensis and affectionately nicknamed “hobbits,” these diminutive hominins (a term that includes all human species and our immediate ancestors) lived on Flores between 38,000 and 18,000 years ago, and probably lived there for a longer time.”

 

Earth Observatory NASA (2004) menambahkan : “Archeologists and biologists have been interested in Flores for some time because of its physical and ecological isolation during the last 2.6 million years. Unlike the islands of Sumatra and Java to the west, Flores was not connected by land bridges to Asia or Australia at times of low sea level, and therefore were not colonized by Asian land animals.”

 

Selain itu, hal sangat pokok menurut UNESCO (1992), yakni Taman Nasional Komodo (TNK), Manggarai Barat, Flores (NTT),  terletak di jantung kepulauan Negara RI dan persimpangan dua lempeng benua (Australia dan Asia) sebagai “shatter belt” garis Wallace (Wallacea Biogeographical Region) antara ekosistem berkarakter zona Australia dan zona Asia (UNESCO, 1992).

 

Sejak awal abad 20 – awal abad 21, para ahli dan sistem intelijen dunia, belum dapat menyingkap tabir, mengapa Komodo secara alamiah hidup dan bertahan di Pulau Komodo, Rinca, Padar, Flores, dan pulau-pulau lainnya di kawasan Flores, NTT. Komodo dapat bergerak dari pantai ke bukit atau bukit lokasi hingga 500 m di ketinggian; Komodo umumnya hidup di zona ekotonal antara savannah dan hutan muson (Auffenberg 1981: 92, 355).

 

Sejumlah ahli berbagai negara meneliti 100 situs World Heritage Sites (Situs Warisan Dunia) awal abad 21. Hasilnya, empat situs warisan dunia yang paling terancam akibat aktivitas manusia yaitu (1) Manas Wildlife Sanctuary di India, (2) Komodo National Park (Taman Nasional Komodo/TNK) di Negara RI, (3) Chitwan National Park di Nepal, dan (4) Simien National Park di Ethiopia.

 

Bentuk aktivitas manusia, yang mengancam situs-situs warisan dunia antara lain pembangunan jalan, urbanisasi infrastruktur industri, dan punahnya hutan dari waktu ke waktu. Riset ini melibatkan para ahli dari University of Queensland, Wildlife Conservation Society University of Northern British Columbia, dan International Union for Conservation of Nature yang dirilis oleh Biological Conservation edisi awal Januari 2017.

Komodo Dragon
Gambar 11. Komodo Dragon (Foto: LonelyPlanet).

 

Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, Flores, NTT, telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO tahun 1991. TNK memiliki luas 1,773 km2 yang mencakup beberapa pulau, termasuk Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, serta 26 pulau kecil lainnya. TNK dibentuk tahun 1980 oleh Pemerintah Pusat RI, menjadi tempat pelestarian Komodo Dragon, kadal pemakan daging terbesar di dunia, serta hewan lainnya, seperti 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, 37 spesies reptil, 253  spesies karang, dan sekitar 1.000 spesies ikan.***

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.