Rare Earth Elements (REE) & Rencana Tambang Gamping Di Matim (bagian 1 dari 4 tulisan)

1.082
Ket.Foto | Servas Pandur

 

Oleh: Servas Pandur (Direktur Risk Consulting Group (RCG), Jakarta)

Senin (6/7/2020) di Kantor Bupati Kabupaten Manggarai Timur (Kab. Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Bupati Kab. Matim, Andreas Agas, merilis informasi kebijakan publik tentang pembangunan pabrik semen di Luwuk dan rencana tambang batu gamping (limestones) di Lengko Lolok, Kab. Matim, NTT. Bupati Andreas Agas telah memberi izin lokasi pabrik semen seluas 298 ha di Luwuk; izin eksplorasi batu gamping diberikan oleh Pemerintah Provinsi NTT; dampak ekonomi pabrik semen itu terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) diperkirakan Rp 48-50 miliar per tahun dan penyerapan lapangan kerja 400 warga (Puspas Keuskupan Ruteng, 6/7/2020).

Rilis arah pembangunan pabrik semen dan tambang gamping tersebut tepat dua pekan, usai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Negara RI, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan nilai strategis rare-earth-elements (REE) untuk hankam (pertahanan dan keamanan) Negara pada Rapat dengan Badan Anggaran DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (22/6/2020). REE misalnya yang diekstrak dari timah (tin), merupakan satu komponen penting industri militer (pembuatan senjata) dan teknologi modern abad 21.

Tulisan bersambung ini hendak mengurai nilai strategis dan ekonomis REE dan kandungan REE dalam batu-gamping (limestones) selama ini. Tujuannya ialah membedah potensi siasat aliran investasi asing akhir-akhir ini memburu REE melalui “bungkusan” investasi misalnya pabrik semen murah dan penambangan batu-gamping (limestones).

Nilai Strategis Rare Earth Elements (REE)

Apa itu REE (Rare Earth Element)? REE adalah mineral yang mengandung satu atau lebih unsur kimia dalam kelompok 17 unsur kimia pada kerak (crust) Bumi. Kelompok unsur kimia ini terdiri dari scandium, yttrium dan 15 elemen lanthanide (lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, and lutetium) (B. Castor and James B. Hedrick, 2006:769; Sophia Kalantzakos, 2017).

BACA JUGA :  Damai Dalam Helatan Pilkades Serentak Kabupaten Lembata: Mengapa Harus (Sekedar Catatan Lepas)

Sebutan REE atau ‘Unsur Bumi Langka’ (UBL) lebih berkaitan dengan penemuannya. Kebanyakan unsur REE ditemukan abad ke-19 M, kecuali itrium, lutetium (1907) dan promethium (1943). Itrium ditemukan tahun 1794 oleh ahli mineral-kimia asal Finlandia, Johan Gadolin. Namanya diabadikan dalam unsur gadolinium dari REE (Weeks, 1968: 684-685). Sebutan unsur Samarium juga berasal dari nama penemunya, Ir. Vasili Samarsky-Bykhovets, ahli mineral dan tambang asal Rusia.

Gambar 1. Tabel periodik REE (J.H.L. Voncken, 2016:2) dan Johan Gadolin (Dean and Dean, 1996).

 

Abad 19 M, hanya ada satu deposit unsur REE diketahui yakni tambang dekat kota Ytterby di Swedia. Maka disebut langka atau jarang. Sebagian besar REE pertamakali diekstraksi sebagai oksida; satu oksida dari satu unsur disebut ‘terre’ unsur tersebut; istilah ‘terre’ berasal dari bahasa Perancis dengan makna harafiah ‘bumi’ (earth). Abad 19 M, bahasa Jerman menyebut satu oksida dari satu unsur ialah Erde (bumi) dari unsur itu (Auer von Welsbach, 1883).

Pemrosesan REE

Tahun 2017, Profesor Sophia Kalantzakos asal New York University, Amerika Serikat, merilis buku China and the Geopolitics of Rare Earths. REE adalah bahan penting produksi teknologi tinggi bidang pertahanan, teknologi ramah-lingkungan, dari iPhone, teknologi medis, turbin angin, lampu hemat energi, bom-cerdas (smart-bomb), kapal selam, elektronik, radar, komputer, nuklir, telekomunikasi, ruang-angkasa, otomotif, peralatan night-vision, dan satelit.

REE sulit ditambang (diproduksi). Sejak 1990-an, Tiongkok memegang kendali sekitar 97% industri REE melalui ongkos produksi murah, pajak ekspor tinggi, dan keterbatasan pasokan (ECI, 2017). Tahun 2010, Tiongkok membatasi ekspor REE ke Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Eropa. Maka timbul krisis REE. Ini sinyal persaingan kendali industri hankam negara dan sumber daya alam strategis secara global. Isu pokok ialah kelambatan berbagai negara membangun industri REE secara berkelanjutan (bernilai sosial-ekonomi dan ramah-lingkungan).

BACA JUGA :  Rare Earth Elements (REE) & Rencana Tambang Gamping Di Kab. Matim

Akhir Juni 2012 di San Diego, California, Amerika Serikat (AS), Engineering Conferences International (ECI) menggelar konferensi internasional REE, yang melibatkan 31 ahli REE asal Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok dan Kanada. Misalnya, Dr. Daniel Tao asal University of Kentucky (AS), Dr. Keith A. Delaney asal Rare Earth Industry and Technology Association (AS), Prof. Ruan Chi, Wuhan Institute of Technology (Tiongkok), Prof. Xiaowei Huang, General Research Institute for Nonferrous Metals (GRINM) (Tiongkok), Prof. Atsushi Muramatsu, Tohoku University (Jepang), Prof. Junji Shibata, Kansai University (Jepang), Prof. Zhenghe Xu, University of Alberta (Kanada), dan Dr. Bradley Van Gosen, U.S. Geological Survey (AS).

ECI dibentuk tahun 1962 dan berkantor pusat di New York, AS. Catatan penting dari konferensi ECI itu antara lain sifat magnetik REE sangat unik, misalnya mampu menahan demagnetisasi pada suhu sangat tinggi. Maka REE banyak dipakai untuk aplikasi komersial dan militer misalnya mobil hibrida, turbin tenaga angin, ponsel, hard drive komputer, dan sistem senjata departemen pertahanan AS (Pentagon).

Tahapan pemrosesan (produksi) REE yakni (1) menambang bijih REE dari deposit mineral; (2) memisahkan bijih REE menjadi oksida REE; (3) memproses REE menjadi logam dengan kadar permunian berbeda-beda; (4) memproses logam-logam menjadi paduan REE; dan (5) memproduksi paduan REE menjadi komponen misalnya magnet permanen untuk aplikasi teknologi komersial dan militer (industri pertahanan-keamanan).

Sejauh ini, Negara RI belum memiliki data pemetaan REE. Misalnya, Badan Geologi Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Negara RI, dilaporkan, akan melakukan survei potensi REE tahun 2021. Pemrosesan REE selama ini memutuhkan IPTEK multi-disiplin, misalnya mineralogi, keahlian pemisahan fisik-kimia, disgesi, ekstraksi, difusi antar-muka dan curah, daur-ulang dan tata-kelola air limbah, dan teknologi-teknologi pemurnian dan ekstraksi REE. ***

BACA JUGA :  Tiga Kebodohan vs Ekspansi Investasi Asal Tiongkok
Gambar 2. Contoh bijih REE dengan perbandingan koin satu sen dollar AS ukuran 19 mm (foto: wiki).

 

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.