Cerpen: Menangis Dalam Hujan, Menangis Dalam Asap

Mengenang Momen-momen Sunyi Dalam Hidup Karena Ada Yang Pergi Jauh

384

Oleh: Dr. Fransis Borgias*

Fransis Borgias

Suka Menangis Dalam Hujan

Pada suatu saat saya menemukan sebuah tulisan singkat, entah di mana, entah kapan. Kalau tidak salah tulisan singkat itu berasal dari Charlie Chaplin, si tokoh film bisu (pantomim) itu. Tulisan singkat itu demikian bunyinya: “Aku suka menangis di tengah hujan, karena orang tidak tahu bahwa aku menangis.”Tetes-tetes air hujan membasahi rambut, kepala dan muka, sehingga tetes-tetes air mata menjadi tersamar olehnya dan tidak tampak. Kalau toh ia tampak, maka ia hanya tampak sebagai tetes-tetes hujan saja. Hujan menyembunyikan sebuah tangis dalam hati. Tangis menjadi tidak tampak karena tetes-tetes air hujan itu menyamarkan tetes-tetes air mata.

Ah mungkinkah tetes-tetes air hujan itu adalah tetes-tetes air mata langit yang sedang berduka? Entahlah. Mungkin saja. Tetapi ada satu hal yang sangat jelas bagi muka bumi. Yaitu bahwa tetes-tetes air hujan itu, membawa kabar sukacita bagi bumi. Tetes-tetes air yang jatuh dari langit itu membawa berkat kesejukan bagi segala tetumbuhan yang ada di punggung bumi. Seakan-akan muka bumi dibaharui oleh tetes-tetes air dari langit itu.

Apabila hujan turun pertama kali sesudah musim kering yang panjang, akan terasa sekali bahwa alam itu seperti sedang menyongsong datangnya hujan dengan penuh sukacita. Alam seperti bersukacita. Alam seperti sedang berpesta pora menyambut kedatangan tetes-tetes air surga itu. Segala sesuatu yang ada di punggung bumi mulai hidup kembali berkat air hujan yang turun itu. Sungguh mengagumkan peristiwa perjumpaan antara atas dan bawah itu. Sebuah misteri perjumpaan yang hidup dan menghidupkan.

Aku Terkenang Kisol

Beberapa minggu lalu, datang kabar gembira dari kampung. Kabar gembira itu sesungguhnya adalah kabar gembira bagi dua keponakan saya. Tentu saja juga kabar gembira bagi kedua orang tua mereka. Inti kabar gembira itu ialah bahwa kedua keponakanku itu lulus dan diterima masuk ke Seminari Pius XII Kisol. Keduanya, kata orang tua mereka sangat ingin belajar di seminari Kisol. Mereka telah berjuang keras untuk mencapai itu. Mereka belajar dengan tekun dan keras.

Dan Puji Tuhan mereka berhasil mendapatkan “tiket” untuk masuk di sana. Kabar gembira itu segera tersebar di WAG keluarga. Lalu muncullah beragam komentar menarik tentang hal itu. Semuanya memuji dan mengucapkan selamat kepada kedua anak tersebut. Tetapi salah satu komentar yang menarik perhatian saya ialah pemberitahuan agar kedua orang tua dari kedua ponakan itu harus bersiap-siap untuk menangis dan merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh mereka berdua. Mereka akan tinggal jauh di asrama seminari. Akan tiba saatnya mereka akan pergi dan tinggal jauh dari mereka.

Janganlah Kamu Menangis

Oleh karena itu, saya pun memberitahukan kepada mereka bahwa ketika saat “perpisahan” itu tiba mereka tidak boleh menangis. Mereka harus kuat dan tabah menghadapi saat itu. “Paling tidak mereka tidak boleh menangis di depan anak-anak itu saat mereka akan pergi ke tempat yang jauh untuk beberapa waktu lamanya.” Begitu saya menasihati kedua adikku yang anaknya lulus masuk Kisol. “Kedua orang tua harus kuat dan tabah.” Kataku lebih lanjut lagi. “Kedua anak itu tidak boleh atau jangan sampai melihat orang tua mereka menangis. Bagaimanapun juga orang tua harus tampak kuat dan tabah. Hal itu akan menguatkan hati anak-anak itu di dalam perantauan.” Kataku menambahkan permohonanku.

BACA JUGA :  Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas; Film Layar Lebar Diangkat dari Novel Best Seller

Saat saya menulis tentang hal itu saya pun langsung teringat akan dua hal. Pertama, saya teringat akan saat ketika anakku Yoan dan Agung, tinggal di Asrama. Yoan, pada tahun 2011, diterima di SMA Sedes Sapientiae, Bedono, Ambarawa, Jawa Tengah. Pada saat itu, kami semua pindah ke Yogya karena saya sedang menempuh studi lanjut di kota budaya dan kota mahasiswa tersebut. Tetapi sebelum masuk ke asrama di Bedono, Yoan tinggal bersama kami di Kontrakan kami di Nglempong Lor, Yogyakarta.

Sindrom Sarang Kosong

Ketika tiba saatnya dia masuk asrama, maka dari Yogya kami pun mengantarnya ke Bedono. Lalu dengan berat hati kami harus tinggalkan dia di asrama. Pada saat itu belum terlalu berat rasanya. Saya dan ibunya merasa kuat-kuat saja saat meninggalkan dia di asrama. Kami melihat dia mulai berinteraksi dengan teman-teman barunya. Tentu saja kami sangat senang melihatnya. Barulah terasa berat saat kami sudah tiba kembali di sore hari di Kontrakan kami.

Tiba-tiba kami berdua sadar bahwa kamar yang biasanya ditempati Yoan, sekarang sudah kosong, sudah sunyi. Biasanya kami menantikan dia keluar dari kamar itu saat bangun tidur, saat makan, saat akan ke gereja. Sekarang pintu kamar itu tidak ada lagi yang membukanya dari dalam. Pintu kamar itu harus dibuka dari luar. Dan peristiwa itu terasa sunyi sekali. Saat itulah saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Bahkan saya sempat menulis artikel tentang empty-nest-syndrome, sindrom sarang-kosong.

Itu adalah sindrom induk burung yang tiba-tiba merasa kesepian karena anak-anaknya yang selama ini ia jaga di sarangnya, di bawah naungan sayapnya yang hangat dan aman, sekarang sudah terbang dan pergi jauh dan (dalam kasus anak burung itu) tidak akan pernah kembali. Maka tinggallah induk burung dalam sunyi, dan karena itu pun ia berbunyi sepanjang hari, seakan-akan meratapi sunyi dan mencari-cari tiada henti tetapi mereka tidak akan pernah kembali lagi, ke sini, di sini.

Untuk Kedua Kalinya

Kedua kalinya kami mengalami hal itu pada saat Agung pergi tinggal di asrama van Lith di Muntilan. Saat itu terasa paling berat bagi saya dan Atin. Karena dengan itu berarti kami akan tinggal berdua saja di kontrakan kami di Yogyakarta. Yoan, kakaknya Agung, belum tamat SMA. Sekarang Agung, adiknya Yoan, harus masuk asrama juga. Kami mengantar Agung ke asrama di Muntilan.

BACA JUGA :  Ashanty Berhasil Sembuh dari Covid-19, Anang Gelar Pengajian

Saat mengikuti rangkaian acara di sana, saya sudah merasa sangat sedih melihat Agung yang mulai berusaha bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Sementara itu kami berdua hanya menonton saja dari jauh, sambil mencoba berkenalan dengan para orang tua yang juga hadir pada saat itu mengantar anak-anak mereka. Saat akan pamit pulang ke Yogyakarta, saya berusaha sekuat tenaga agar tidak sampai menangis. Saya merasa sangat sedih karena peristiwa itu. Tetapi saya berusaha keras.

Dan Puji Tuhan, saya berhasil menahan diri untuk tidak menangis. Sebab kalau saya menangis, maka saya sangat yakin Atin juga pasti menangis, dan kalau Atin menangis, pasti Agung juga menangis. Setelah rangkaian acara selesai, saya dan Atin pun kembali ke Yogya.

Di malam hari, ketika kami akan makan malam, sunyi sekali rasanya. Tidak ada lagi “ritual” rutin memanggil Agung untuk makan malam bersama. Kami hanya berdua saja. Pada saat itulah saya menangis di meja makan. Ibunya juga menangis. Maka kami berdua pun menangis berdua. Sedih sekali rasanya. Kami tinggal berdua saja. Kedua anak di asrama. Ya, begitulah rupanya hidup. Bermula hanya berdua, lalu bertiga, lalu berempat, tetapi kemudian bertiga lagi, dan sekarang hanya berdua lagi. Itulah irama kehidupan.

Rasa Sepi Mamaku Dulu

Hal kedua yang saya ingat ialah dulu di masa kecilku. Tahun 1973 kakak sulung kami, Kaka Sin, menamatkan pendidikan tingkat sekolah dasar di SDK Lamba-Ketang. Oleh karena itu, ia harus pindah ke Ruteng untuk masuk pendidikan Sekolah Kepandaian dan Ketrampilan Putri (SKKP, setingkat SMP). Yang mengantar kak Sin ke Ruteng adalah Bapa.

Pagi itu, mereka berangkat pagi-pagi. Saya masih ingat mama mengantar kak Sin sampai di punggung bukit di dekat wae teku Ketang. Sedangkan saya, mengikuti mereka sampai lewat jembatan wae Lelang dekat Tango. Sesudah itu saya pulang. Dari jauh saya masih melihat mama menunggu mereka sampai hilang dari tatapan mata di balik kampung Tango itu. Saya pun balik lagi mencoba mengejar mereka. Tetapi tidak bisa karena rupanya mereka sudah cepat-cepat pulang.

Saya sungguh-sungguh merasakan sunyi itu di rumah kami. Kakak sulung saya sudah meninggalkan kami. Dia sudah pindah ke Ruteng, ibu kota kabupaten kami. Sekarang, dia menjadi orang kota. Siang hari, rasa sunyi itu belum begitu terasa. Mungkin karena masih terang siang hari. Masih terdengar banyak bunyi keramaian siang hari. Apalagi ada banyak anak sekolah. Keramaian anak-anak sekolah bisa membunuh racun sunyi itu di dalam hati. Jadi sunyi tidak terasa begitu mencengkam.

Ketika Senja Mendekat

Rasa sunyi itu baru terasa saat sore hari datang mendekat. Sinar mentari siang, sudah diganti oleh matahari yang memerah dan mulai meredup di sore hari. Matahari sudah condong ke barat. Mula-mula dimulai dengan leso holes, mata hari sudah mulai condong ke barat. Lalu tiba giliran wa leso, yaitu matahari sudah mulai turun. Dan akhirnya leso temba golo, artinya matahari di punggung bukit-bukit sebelah barat menjelang ia jatuh di balik bukit.

BACA JUGA :  Lika-Liku Kehidupan Asmara Vanessa Angel

Di atas pohon jeruk dan alpukat dan kopi serta nangka di belakang rumah kami, terdengar bunyi kokok ayam di sore hari. Mereka mulai bersiap-siap untuk naik bertengger di pohon dan akan tidur. Saat itulah mamaku mulai sibuk memasak makan malam. Ia duduk di sapo, mulai sempong api. Biasanya ia dibantu kakak Sin. Kami anak-anak lain sekadar merecok saja kegiatan mama di dapur di dekat sapo. Tetapi sekarang kak Sin sudah pergi.

Sunyi sekali rasanya dapur kami karena kak Sin tidak ada lagi di situ. Tidak ada lagi yang bercerita tentang bacaan-bacaan di sekolah siang harinya. Bercerita tentang teman-teman sekolahnya, yang malas, yang bodoh, yang suka ngantuk, yang nakal, tidak bisa berhitung, yang tidak bisa membaca dll., Sapo juga sangat sepi rasanya. Tepat di saat itulah saya melihat mama menangis. Air matanya jatuh di pipi. Saya memberanikan diri bertanya: “Mama menangis?” dengan cepat ia coba tersenyum dan menjawab: “Aeh toe ye. Toe ita le hau nus api hoo ko?” begitu katanya sambil mencoba tersenyum dan menggosok matanya.

Asap Menyulap Air Mata

Memang kalau mata kita keasapan, air mata pasti akan keluar. Tetapi saya tahu betul, mama menangis. Air matanya mengalir di pipi, bukan karena asap api dari sapo, tetapi karena ia kehilangan. Karena ia dicengkam rasa sunyi dan sepi. Tiba-tiba ada sebuah rasa sunyi yang mencengkam di tempat yang biasanya ramai karena kehadiran sang putri. Sekarang tempat yang satu dan sama tiba-tiba menjadi sunyi karena dia sudah pergi jauh.

Benar kata Charlie Chaplin: “saya suka menangis dalam hujan karena dengan itu orang tidak tahu saya menangis.” Ya, saya senang melihat mamaku menangis. Tetapi ia menyembunyikannya dengan pemaaf yaitu asap api yang menyerang mata. Mungkin saja saat itu mama menggumam dalam hatinya: “Saya suka menangis di tengah asap api, karena dengan itu orang tidak tahu saya menangis.” Tatkala membayangkan hal itu aku pun menyanggah mama dalam dialog imajinerku: “Ah mama, tetapi mataku tidak bisa ditipu mama. Aku tahu mama menangis dalam asap, menangis bersama asap.”

Dan saya juga tahu bahwa tangis dalam asal itu pasti lebih pedih dan perih, seperti pedih dan perih asap yang menyebabkan air mata itu keluar.  Tetapi air mata itu keluar untuk mengungkapkan Bahasa hati yang sunyi, Bahasa hati yang sepi. Air mata itu keluar demi membawa kelegaan bagi jiwa dan dada yang sesak oleh rindu. Dan itu terasa perlu agar tidak terlalu didera rindu, bertalu-talu di sudut kalbu.

*Penulis adalah dosen Teologi Biblica Pada Facultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. (tulisan ini telah dimuat dalam blog: fancisborgias.id)

kominfo iklan

Leave A Reply

Your email address will not be published.